drh. Chaidir, MM | Politikus Terpelajar | DALAM sebuah obrolan ringan di Kedai Kopi Kimteng Pekanbaru beberapa hari lalu, diiringi guyonan ala kampus UGM Bulaksumur Yogya, Prof Dr Sunjoto, Ketua Pengurus Pusat Keluarga Alumni UGM, menyebut betapa saat ini parlemen Indonesia sangat memerlukan educated politician- politikus terpelajar. Sambil
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Politikus Terpelajar

Oleh : drh.chaidir, MM

DALAM sebuah obrolan ringan di Kedai Kopi Kimteng Pekanbaru beberapa hari lalu, diiringi guyonan ala kampus UGM Bulaksumur Yogya, Prof Dr Sunjoto, Ketua Pengurus Pusat Keluarga Alumni UGM, menyebut betapa saat ini parlemen Indonesia sangat memerlukan educated politician- politikus terpelajar. Sambil menyeruput cangkir kedua kopi hitam kegemarannya, Sang Profesor menyebut, politikus terpelajar itu intelektual. Politikus intelektual selalu menjaga integritasnya, senantiasa menjunjung tinggi etika berpolitik.

Pandangan tersebut muncul ketika demam penyusunan bakal calon anggota legislatif, yang merupakan proses awal pemilu legislatif 2014, mencapai titik kulminasi. Banyak pengamat menyebut dengan nada pesimis bahkan skeptis, parlemen Indonesia (DPR) 2014 tak akan lebih baik daripada komposisi DPR hasil Pemilu legislatif 2009 lalu. Tidak hanya karena partai-partai politik masih saja menjagokan Anggota DPR incumbent yang kompetensinya rendah, bahkan partai-partai politik masih sungkan menggantikan Anggota DPR yang bermasalah.

Tidak sedikit oknum Anggota DPR lebih mengedepankan kepentingan pribadi atau partainya daripada kepentingan umum. Mereka tidak artikulatif untuk kepentingan aspirasi rakyat. Bahkan mereka ibarat menepuk air di dulang, kepercik muka sendiri. Anggota DPR harusnya membantu memecahkan masalah yang dihadapi rakyat ketika rakyat berhadapan dengan otoritas Negara, tetapi sering terjadi Anggota DPR justru menjadi penyebab masalah, ketika satu demi satu terungkap keterlibatannya dalam kasus korupsi, yang terbaru adalah keterlibatan beberapa oknum Anggota DPR dalam mega kasus manipulasi Simulator SIM.

Rakyat sudah punya rapor para politikus kita, setuju atau tidak setuju. Tetapi aneh bin ajaib, para anggota DPR incumbent yang bermasalah tersebut masih tetap diajukan oleh partai tertentu sebagai Caleg. Maka rumor tak sedap pun merebak, hal tersebut berkaitan dengan posisi tawar masing-masing karena telah memberikan kontribusi finansial kepada partai.

Dihadapkan dengan berbagai masalah yang dihadapi bangsa kita dewasa ini, terutama yang berkait kelindan dengan urusan politik, maka apa yang disebut oleh Prof Sunjoto, agaknya memang benar adanya. Kita memerlukan politikus terpelajar, politikus yang mampu melakukan transformasi budaya politik dari budaya low politics (politik bermutu rendah) menjadi budaya high politics (politik bermutu tinggi) yang mencerdaskan masyarakat. Dalam High politics setiap jabatan politik hakikatnya merupakan amanah dari rakyat yang harus dipelihara sebaik-baiknya, dan mengandung pertanggungjawaban. High politics menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan, persamaan dan sportivitas.

Dalam low politics, pendekatannya selalu seperti perspektif Macchiavelis. Politik ditandai dengan mengedepankan kekerasan, pembohongan, fitnah, dan penaklukan total atas musuh politik. Penguasa harus menjadi binatang buas. Segala cara dihalalkan.

Kemana perginya para intelektual kita? Adakah mereka terpengaruh dengan pemikiran filsuf dan novelis kritis Prancis, Julien Benda (1927) yang menyebut bahwa seorang intelektual yang bercampur dengan atau menjadi bagian dari kekuasaan, ia telah berkhianat? Entahlah.

kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 388 kali
sejak tanggal 03-06-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat