drh. Chaidir, MM | Geng Kutu Buku | PENGGEMAR sepakbola sejagat pasti kenal Frank Lampard. Bintang Chelsea ini baru saja memecahkan rekor Bobby Tambling, mencetak gol ke 203 bagi Chelsea, gol terbanyak yang pernah dicetak pemain Chelsea. Lampard kini menjadi legenda dan menjadi trade mark Chelsea. Sebutlah Chelsea tentu terbayang Lamp
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Geng Kutu Buku

Oleh : drh.chaidir, MM

PENGGEMAR sepakbola sejagat pasti kenal Frank Lampard. Bintang Chelsea ini baru saja memecahkan rekor Bobby Tambling, mencetak gol ke 203 bagi Chelsea, gol terbanyak yang pernah dicetak pemain Chelsea. Lampard kini menjadi legenda dan menjadi trade mark Chelsea. Sebutlah Chelsea tentu terbayang Lampard atau sebaliknya.

Tapi Lampard bukan pemain sepakbola biasa. Ketika memasuki tahun-tahun di penghujung karirnya sebagai pemain sepakbola profesional, Lampard sudah bersiap-siap menemukan profesi baru. Sebuah profesi yang mengagumkan, lebih dari sekadar menjebol gawang lawan seperti yang biasa dilakukannya. Frank Lampard menjadi penulis buku cerita anak-anak. Lampard menulis buku Frankie's Magic Football yang dibagi dalam 5 seri. Bercerita tentang anak yang bernama Frankie yang memiliki kecintaan terhadap sepakbola dan anjing peliharaannya bernama Max. Buku pertama berjudul Frankie versus The Pirate Pillagers rencananya dirilis Juni bulan depan ini, diikuti dua buku pada tahun 2013 ini juga dan dua lainnya pada 2014.

Idenya berawal dari kebiasaan membacakan cerita untuk anak-anak saya. Olahraga dan membaca adalah dua hal esensial bagi kami di rumah, kata Lampard (Kompas 14 Februari 2013).

Di Brazil, ada cara unik dalam mengapresiasi buku. Tak ada kaitannya dengan dunia sepakbola sebagaimana merek dagang Brazil. Otoritas penjara pemerintah federal Brazil memberikan pengurangan hukuman bagi narapidana yang rajin membaca buku. Programnya bertajuk Pembebasan melalui Membaca. Untuk setiap buku karya sastra, ilmu filsafat, atau kisah klasik yang dibaca, narapidana akan mendapat potongan masa tahanan sebanyak empat hari. Narapidana diberi kesempatan untuk membaca dan menulis sebuah resensi terhadap buku tersebut. Melalui program ini, seseorang akan meninggalkan penjara dengan visi yang lebih cerah untuk menghadapi dunia. Tanpa diragukan lagi, mereka (napi) akan menjadi orang yang lebih baik, kata pengacara Andre Kehdi asal Sao Paulo, sebagaimana dikutip Kantor Berita Reuters.

Di negeri kita, untuk menggairahkan minat baca masyarakat, setiap tahun pemerintah dan berbagai kelompok masyarakat menyusun berbagai agenda dalam rangka memeriahkan Hari Buku Nasional. Agendanya bermacam-macam. Ada Gerakan Indonesia Membaca, ada gerakan hibah berjuta-juta buku, gerakan membaca bareng, pustaka keliling, buku masuk desa, dan sebaganya. Riau, sebuah negeri yang disebut oleh wartawan senior, Amarzan Lubis, sebagai negeri Sohibul Kitab, tak mau ketinggalan mengisi Hari Buku Nasional 2013. Kemasannya pun menarik: Riau Sejuta Buku. Kegiatan Riau Sejuta Buku disingkat dengan manis dalam frasa Riau Sejuk.

Minat baca masyarakat kita memang masih rendah. Berdasarkan data UNESCO sebagaimana dirilis Kantor Berita ANTARA, minat baca masyarakat Indonesia masih sangat rendah, yaitu 0,01 persen atau dari 100 orang hanya 1 yang memiliki minat baca. Memprihatinkan. Padahal buku adalah gudang ilmu. Buku juga disebut jendela dunia. Membaca buku adalah pelita hati. Dengan buku, ilmu pengetahuan tersebar kemana-mana melintasi benua, menyeberang samudera. Bahkan dengan buku ilmu pengetahuan bisa melintasi zaman. Buku mencerdaskan manusia hampir di seluruh pelosok dunia. Bahkan seorang penulis disebut tak pernah mati, karena buku-bukunya tetap hidup dan dibaca.

Buku, ilmu, intelektualitas, adalah tiga hal yang bersaudara kandung. Bahkan Kaisar Romawi, Julius Caesar, yang terkenal dengan kekuasaannya, lebih dari dua ribu tahun silam mengakui, penambahan wilayah kekuasaan Kerajaan Romawi yang direbut dengan pedang oleh jenderal-jenderalnya yang gagah berani, tak lebih disukai dari perluasan wilayah pemikiran intelektual yang dilakukan oleh seorang filsuf seperti Cicero.

Kita sudah memasuki era masyarakat berbasis ilmu pengetahuan (knowledge base society), suka atau tidak suka. Jadi, tak perlulah harus menunggu peringatan Hari Buku Nasional baru membaca. Buku bukan bacaan semusim. Kita mengharapkan dalam peringatan Hari Buku Nasional tahun depan, bukan lagi berita tentang geng motor yang destruktif itu yang memenuhi media, tetapi berita tentang geng-geng remaja kutu buku. Semoga.

kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 428 kali
sejak tanggal 29-05-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat