drh. Chaidir, MM | Bahaya Pemimpin Otoriter | KENAPA kehadiran pemimpin mutlak perlu dalam sebuah masyarakat? Karena menurut Eurepedes, 4.000 tahun Sebelum Masehi, sepuluh orang serdadu dengan pemimpin yang bijak akan mengalahkan seratus orang serdadu tanpa pemimpin. Bahkan ada pendapat yang agak ngawur menyebut, demikian pentingnya keberadaan
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Bahaya Pemimpin Otoriter

Oleh : drh.chaidir, MM

KENAPA kehadiran pemimpin mutlak perlu dalam sebuah masyarakat? Karena menurut Eurepedes, 4.000 tahun Sebelum Masehi, sepuluh orang serdadu dengan pemimpin yang bijak akan mengalahkan seratus orang serdadu tanpa pemimpin. Bahkan ada pendapat yang agak ngawur menyebut, demikian pentingnya keberadaan pemimpin, seorang pemimpin yang zalim masih lebih baik ketimbang masyarakat tanpa pemimpin. Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendirian. Tidak ada satupun manusia ini yang dapat hidup tanpa tergantung ataupun memerlukan bantuan orang lain. Manusia itu zoon politicon, kata filsuf Aristoteles. Tak terkecuali pimpinan otoriter sekalipun.

Benarkah pemimpin otoriter lebih baik daripada tidak ada pemimpin? Untuk sebuah negeri yang sedang kacau balau, memang diperlukan seorang pemimpin dengan gaya kepemimpinan otoriter. Seorang pemimpin yang otoriter memiliki kewenangan mutlak, sehingga mudah baginya untuk mengatur negerinya yang sedang kacau balau tersebut. Wewenang mutlak terpusat pada pimpinan. Sehingga dapat memberi komando kapan saja diperlukan. Kebijakan selalu dibuat oleh pimpinan. Komunikasi berlangsung satu arah, tak perlu ada dialog. Pengawasan terhadap bawahan dilakukan dengan ketat. Prakarsa datang dari pimpinan. Bawahan tinggal menunggu perintah. Pemimpin otoriter menuntut prestasi sempurna dari bawahan. Pemimpin otoriter juga menuntut kesetiaan mutlak tanpa syarat dari bawahan. Pimpinan otoriter cenderung memaksa dan mengancam bawahannya untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh pimpinan.

Tetapi kepemimpinan otoriter bukan berarti tanpa sisi positif, terutama (sekali lagi) bila organisasi yang dipimpin sedang kacau balau. Kepemimpinan gaya otoriter lebih cepat dan tegas dalam pembuatan keputusan dan bertindak, sehingga memungkinkan organisasi bisa dibenahi, dan kembali ke jalan yang benar. Kemimpinan demokratis justru akan membuat organisasi yang kacau menjadi semakin kacau. Kerugian kepemimpinan otoriter menimbulkan suasana kaku, tegang, mencekam, menakutkan sehingga dapat memunculkan ketidakpuasan. Agarwal dalam buku Organization and Management (1982) bahkan menyebut, kepemimpinan otoriter dapat merusak moral, meniadakan inisiatif, menimbulkan permusuhan, agresivitas, keluhan, absen, pindah, dan ketidakpuasan yang meluas.

Namun sesungguhnya, tidak ada satu cara pendekatan terbaik untuk segala macam organisasi. Artinya, seorang pemimpin yang sukses dengan gaya kepemimpinan tertentu untuk sebuah organisasi, belum tentu sukses memimpin organisasi yang lain dengan gaya kepemimpinan yang sama. Setiap organisasi memerlukan pendekatan yang berbeda. Jokowi misalnya, memerlukan waktu untuk melakukan penyesuaian dan membuktikan apakah dia bisa sukses memimpin Jakarta sebagaimana kesuksesan yang diperolehnya sebagai Walikota Solo. Beruntung Jokowi memiliki seorang Wakil Gubernur dengan gaya kepemimpinan cenderung otoriter, sehingga duet kepemimpinan Jokowi-Ahok bisa melakukan situational approach. Di saat memerlukan keputusan yang cepat dan tidak pandang bulu, Ahok tampil ke depan, pada kesempatan lain ketika masyarakat memerlukan dialog dan empati, Jokowi yang tampil.

Otonomi daerah telah menghasilkan banyak kepala daerah yang berusia muda. Sebagian dari mereka memiliki kepemimpinan yang kuat dan rendah hati dalam menggerakkan sumberdaya pembangunan di daerah, pandai menempatkan orang yang tepat pada posisi yang tepat, efisien dan efektif dalam mengelola keuangan daerah. Namun sebagian lainnya terperangkap dalam gaya kepemimpinan otoriter. Kata kami yang mencerminkan kebersamaan dan kerendahan hati seakan hilang dari kosa kata sang penguasa. Yang tinggal hanya kata saya, saya dan saya. Inisiatif masyarakat dan staf tidak tumbuh, karena setiap menyampaikan pemikiran atau aspirasi selalu saja layu sebelum berkembang. Mereka tak lagi bisa membedakan mana yang penting dan mana yang urgent, atau mana yang benar mana yang salah. Dan lebih fatal lagi, sebagian tidak mau menjadi pendengar yang baik. Ampun...

kolom - Harian Vokal
Tulisan ini sudah di baca 824 kali
sejak tanggal 28-05-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat