drh. Chaidir, MM | PILGUBRI vs Klewang | KASUS Klewang membayangi hiruk pikuk pemanasan pemilihan gubernur Riau 2013, setuju atau tidak setuju. Klewang terlanjur merebut panggung pemberitaan sosialisasi bakal calon Gubernur Riau 2013 di media massa. Kelompok mahasiswa dan pelajar yang tergabung dalam Koalisi Peduli Perempuan dan Anak (KPPA
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

PILGUBRI vs Klewang

Oleh : drh.chaidir, MM

KASUS Klewang membayangi hiruk pikuk pemanasan pemilihan gubernur Riau 2013, setuju atau tidak setuju. Klewang terlanjur merebut panggung pemberitaan sosialisasi bakal calon Gubernur Riau 2013 di media massa. Kelompok mahasiswa dan pelajar yang tergabung dalam Koalisi Peduli Perempuan dan Anak (KPPA), dalam aksi unjuk rasa di Mapolresta Pekanbaru, karena kegeraman yang luar biasa, minta Klewang dihukum gantung.

Unjuk rasa itu hak masyarakat. Dan kita wajar sangat risau terhadap sepak terjang geng motor di bawah kepemimpinan Klewang dan kawan-kawan. Kita tak habis pikir, di tengah masyarakat kita yang mestinya semakin terpelajar dan terdidik, masih saja ada praktik-praktik persekutuan kejahatan ala mafia costa nostra di Pulau Sicilia di pertengahan abad ke-19 silam. Entah bagaimana cara Klewang membangun kultus individu terhadap dirinya, sehingga dia tampil menjadi seorang boss yang ditakuti oleh anggotanya. Terlepas dari segala kejahatan yang dilakukan Klewang, yang harus dipertanggungjawabkannya, Klewang telah berhasil menjadi pemimpin kelompoknya.

Model kepemimpinan yang dibangun oleh Klewang, agaknya masih menganut paradigma kepemimpinan zaman kuda masih makan besi, zaman nenek masih makan keluang, tetapi cukup ampuh. Kepemimpinan itu harus berada di tangan orang yang paling kuat, paling gagah dan orang yang paling berani dalam kelompoknya. Seseorang yang terbukti mampu melindungi kelompoknya dengan memenangkan perang melawan musuhnya melalui tangannya sendiri. Kapan Klewang berperang melawan musuhnya?

Tapi masalahnya, kita tidak lagi hidup di zaman kuno. Masyarakat kita hidup di era modern yang ditandai dengan semakin banyaknya orang-orang terpelajar produk berbagai perguruan tinggi. Masyarakat juga semakin cerdas. Kepemimpinan dengan demikian dipahami sebagai seni atau kemampuan mempengaruhi perilaku orang lain dalam situasi tertentu agar bersedia bekerja sama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan untuk menghadirkan kehidupan yang lebih baik, lebih baik, dan lebih baik dari masa ke masa.

Kepemimpinan adalah seni seni membujuk (persuasif), seni mendorong (motivatif), seni berkomunikasi (komunikatif), seni memfasilitasi, seni bagaimana memelihara dan mematangkan hubungan, seni bagaimana menjadi teladan, dan seterusnya. Pendekatan seni ini sangat penting karena yang dipimpin adalah manusia, bukan satwa. Hanya dengan demikian seorang pemimpin akan memperoleh pengaruh. Dengan pengaruh tersebut sang pemimpin akan dengan mudah mengarahkan anggotanya. Oleh karena itulah menurut John Maxwell, kepemimpinan itu adalah pengaruh, tidak lebih dan tidak kurang.

Kompetisi pemilihan Gubernur Riau 2013 sudah mulai memasuki tahap yang menegangkan. Dari sekian figur yang melakukan sosialisasi melalui baliho-baliho, gegap gempita, satu demi satu akan berkurang melalui proses seleksi oleh masing-masing partai politik. Masyarakat sebenarnya berharap pilgubri 2013 akan melahirkan seorang pemimpin bukan penguasa. Seorang pemimpin akan mengembangkan suasana dialogis, banyak mendengarkan aspirasi masyarakat dan akan membangun sesuai harapan masyarakatnya. Sedangkan penguasa, dia akan mengembangkan gaya kepemimpinan otoriter, akan membangun menurut seleranya sendiri.

Pemilukada langsung pada awal gagasannya adalah untuk mendapatkan pemimpin atau kepala daerah yang kredibel, lebih merakyat, dan sesuai aspirasi rakyat. Pemimpin yang terpilih diharapkan mempunyai akuntabilitas publik di tingkat lokal. Peran partai diharapkan berkurang, karena masyarakat akan lebih mengutamakn figur. Kepemimpinan dari bawah akan berkembang. Partisipasi politik juga diharapkan lebih tinggi sehingga tumbuh rasa memiliki. Dengan pemilukada langsung rakyat dididik untuk berpolitik secara lebih bertanggung jawab.

Namun kelihatannya masih jauh panggang dari api. Pemimpin yang terpilih melalui pemilihan langsung oleh rakyat, seringkali mengkhianati rakyatnya sendiri. Kita tentu tak ingin memilih kepemimpinan model Klewang, kepemimpinan yang intimidatif dan menakutkan. Kita menginginkan pemimpin yang memimpin dengan kerendahan hati.


kolom - Harian Vokal
Tulisan ini sudah di baca 407 kali
sejak tanggal 21-05-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat