drh. Chaidir, MM | Menumpang Tuah | ORANG tua-tua kita mengingatkan:
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Menumpang Tuah

Oleh : drh.chaidir, MM

ORANG tua-tua kita mengingatkan: "menumpang tuah pada yang menang." Dan Golkar Riau telah menurutinya dengan takzim. Kendati pada saat-saat genting sebelum Munas, Golkar Riau terlihat ambigu, itu sah-sah saja sebagai sebuah "siasah". Maklum, selaku tuan rumah tentu harus terlihat netral. Padahal dari jauh hari sikap Golkar Riau ibarat angsa putih terbang siang, terlihat dengan jelas berpihak pada Aburizal Bakrie. Bukankah Golkar Riau pernah memfasilitasi pertemuan DPD Golkar se-Sumatera dengan Aburizal Bakri di Hotel Labersa beberapa bulan lalu?

Kini Munas telah usai, Aburizal Bakrie telah terpilih sebagai Ketua Umum. Tapi hutang kepada rakyat agaknya belum lagi langsai. Perhelatan itu menjadi sebuah pertaruhan moral ketika penyelenggaraannya ditakdirkan seiring dengan musibah besar yang menimpa provinsi tetangga kita. Wacana penundaan memang sempat mengemuka, tapi untuk agenda sebesar Munas, tentu menjadi sangat dilematis. Tuan rumah memang tidak menggunakan dana APBD, namun kecurigaan komunal tak mudah dihilangkan

Publik pasti sudah mampu menakar dan membuat kalkulasi, apalagi dalam proses pemilihan tuan rumah Munas, Golkar Riau menyingkirkan pesaing utamanya, Makassar, melalui "beauty contest" (istilah ini beberapa kali muncul dalam pernyataan pengurus Golkar Riau). Artinya, Riau telah memberikan tawaran yang paling menggiurkan dibanding calon tuan rumah lain.

Tapi sudahlah, tak usah dihitung uang dalam kantong orang. Kalkulasi untung rugi tak perlu terlalu memusingkan kepala. Plus minus pasti ada. Bagaimana pun Golkar Riau telah menjadi bagian penting dari kubu pemenang. Yang menjadi pertanyaan pasca Munas, adakah signifikansinya bagi masa depan daerah?

Agenda Nasional

Tidak boleh dipungkiri, selaku tuan rumah Riau berpeluang menikmati sejumlah konsesi, antara lain dengan adanya peluang menempatkan kader-kader terbaiknya menjadi pengurus DPP dan itu terbukti dengan duduknya tiga orang kader Golkar Riau dalam jajaran DPP. Dulu peluang ini terasa amat jauh. Oleh karena itu dalam perspektif kepentingan Golkar Riau secara pragmatis, Munas di Riau tentu menguntungkan.

Tuan rumah secara tidak langsung juga akan memperoleh promosi gratis (persis seperti dulu ketika Riau menjadi tuan rumah FFI, Porwanas, Olimpiade Fisika, Munas PGRI, Dunia Melayu Dunia Islam, Pertemuan Melayu Sedunia, dan agenda nasional lainnya). Dalam perspektif dunia swasta, Munas itu adalah pasar, meningkatkan perputaran uang, para pelaku ekonomi akan memperoleh multiplier effects. Segi lain yang tak bisa dikonversi dalam bentuk fulus, adalah peluang anak-anak daerah memperoleh pengalaman yang berharga.

Namun, agenda-agenda nasional yang berulang kali diselenggarakan di Riau, kelihatannya belum membuka mata dan hati para pengambil kebijakan di pusat. Riau hanya dimobilisasi untuk menyukseskan penyelenggaraan, bertepuk tangan, diberi pujian dan anugerah, kemudian senyap.

Jujur, perhatian dari pemerintah pusat itu ada, tetapi lebih terasa seperti pemberian makan kuda beban. Atau seperti penggemukan ternak, diberi makan untuk kemudian disembelih. Banyak contoh yang rasanya malu untuk diungkapkan. Sebut sajalah misalnya tentang pembangunan jalan tol. Di provinsi lain sudah lama terbangun, tetapi di Riau dari dulu hanya sebatas pantun. Provinsi lain sudah mulai membangun pembangkit tenaga listrik dalam program nasional pembangunan pembangkit tenaga listrik 10.000 megawat, Riau baru mengusulkan. Setiap tahun provinsi-provinsi tetangga mendapatkan DIPA (bagian dari APBN) lebih besar dari Riau. Konon DIPA Riau 2009 menurut pusat, akan ditambah Rp5 triliun dalam anggaran perubahan, nyatanya nol. Tragisnya, DBH Riau 2009 justru dikurangi. Janji untuk membantu Riau sebagai tuan rumah PON XVIII pun hanya tinggal janji; dari anggaran murni ke anggaran perubahan, ke murni lagi, ke perubahan lagi, tapi nyatanya tidak ada.

Berhutang Pada Rakyat Riau

Hakikat keberadaan sebuah parpol - tak terkecuali Golkar - adalah merebut kekuasaan politik secara demokratis melalui pemilu. Kekuasaan politik yang diberikan oleh rakyat dipergunakan sebaik-baiknya untuk memperjuangkan aspirasi rakyat secara maksimal. Rakyat yang merasa kehendaknya tersalurkan, kelak akan memberikan suara kepada parpol yang bersangkutan. Begitulah siklusnya.

Di Riau, enam kali pemilu di masa Orde Baru dan tiga kali di era multi partai, semuanya dimenangkan Golkar. Bahkan ketika masa-masa sulit pada pemilu 1999, Golkar di Riau masih menang. Pada Pemilu 2009, ketika Partai Demokrat menjadi pemenang secara nasional, di Riau Golkar juga tak terkalahkan.

Namun apa hendak dikata, kepercayaan yang diberikan belum sebanding dengan perhatian dari pemerintah pusat, baik semasa pemerintahan Orde Baru maupun di era reformasi. Padahal di kedua era tersebut peran tokoh-tokoh Golkar di pusat kekuasaan tidak boleh dibilang kecil. Perhatian Golkar terhadap daerah-daerah yang mengharumkan nama Golkar mustinya menjadi sebuah keniscayaan.

Sejauh ini belum nampak secara signifikan korelasi antara kekuasaan politik Golkar dengan ekspektasi masyarakat Riau terhadap pemecahan berbagai masalah yang dihadapi. Setiap tahun fajar menyingsing, setiap tahun masalah yang sama kembali terulang dan belum ada solusi sistemik.

Golkar sebenarnya berhutang pada rakyat Riau. Munas penting, tapi bagi rakyat Riau, agenda-agenda pasca Munas jauh lebih penting. Riau membutuhkan dukungan besar dari pemerintah pusat untuk mengejar ketertinggalan pembangunan di segala bidang (pengentasan kemiskinan dengan membangkitkan ekonomi rakyat, pendidikan, pembangunan infrastruktur sampai ke desa, listrik, air bersih, pelayanan kesehatan, pertanian, perbaikan lingkungan hidup, dan seterusnya).

Bagi awam, agenda-agenda nasional di Riau baru bermakna bila daerah ini mendapat tempat di hati pemerintah pusat, diajak bekerja bersama-sama memikul beban pembangunan dan pada giliran pembagian kue pembangunan tidak diketepikan. Bila tidak, arang habis besi binasa.

drh Chaidir, MM - Mantan Penasehat Partai Golkar Riau.

kolom - Riau Pos 9 Oktober 2009
Tulisan ini sudah di baca 1362 kali
sejak tanggal 09-10-2009

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat