drh. Chaidir, MM | Suara Terbanyak dan Tokek | Pernah dengar suara tokek? Tokek adalah sejenis binatang merayap, kulitnya kasap berbintik-bintik, suaranya keras, hidup di rumah atau di pohon. Dulu ketika saya kuliah di Yogya, tokek sering menjadi senda gurau di kalangan mahasiswa anak kos yang menunggu hasil ujian semester atau menunggu kiriman
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Suara Terbanyak dan Tokek

Oleh : drh.chaidir, MM

Pernah dengar suara tokek? Tokek adalah sejenis binatang merayap, kulitnya kasap berbintik-bintik, suaranya keras, hidup di rumah atau di pohon. Dulu ketika saya kuliah di Yogya, tokek sering menjadi senda gurau di kalangan mahasiswa anak kos yang menunggu hasil ujian semester atau menunggu kiriman uang melalui weselpos.

Suara keras sang tokek selalu menyita perhatian, bergema ritmis memecah kesunyian seperti dentangan jam di tengah malam. Suara itu parau seperti memanggil namanya sendiri atau teman-temannya, teratur dalam suatu interval, beberapa kali dalam satu seri, untuk kemudian menjadi perlahan, lamat-lamat dan akhirnya stop. Tokek...lulus; tokek...tidak lulus; tokek...lulus; tokek... Kalau suara binatang merayap yang tak jelas tempatnya itu berhenti pada hitungan tidak lulus, tawapun berderai. Kenapa berhenti pada posisi tidak lulus? Tak usah ditanya, itu rahasia sang tokek.

Opsi penentuan pemenang calon legislatif pada Pemilu 2009, memanggil memori kuno saya pada tokek itu, yang kendati seorang dokter hewan, tak pernah saya lihat wujudnya. Swear! Kata "bajigur" (eufemisme dari kata bajingan) meloncat spontan dari mulut ketika satwa itu berhenti pada "tidak lulus", sebaliknya, ungkapan alhamdulillah spontan terucap bila obyeknya weselpos dan tokek itu berhenti pada "tiba".

Beberapa bulan lalu KPU bersikukuh, penentuan caleg pememang tetap melalui nomor urut. Walaupun parpol memutuskan secara sepihak penentuan caleg pemenang melalui suara terbanyak. Itu kehendak parpol, strategi untuk meraih suara sebanyak-banyaknya, sebab dengan taktik "suara terbanyak" caleg bernomor urut sepatu pun akan beraksi pasang baliho. Semua caleg bergerak. Parpol diuntungkan. Tapi tiba-tiba Mahkamah Konstitusi (MK) menjadi malaikat penyelamat. Pasal UU yang menyebut pemenang ditentukan oleh nomor urut, gugur. Alasanya masuk akal, pasal itu tidak demokratis. Maka pememang ditentukan dengan suara terbanyak. Bila sebuah parpol dapat kursi, kursi itu akan diberikan kepada caleg yang memperoleh suara terbanyak. Untuk mengantisipasi gugatan, KPU minta agar keputusan MK itu dituangkan dalam suatu Peraturan Pemerintah Pengganti UU (Perppu). Gayung bersambut, Perppu diminta Perppu disusun. Namun aneh bin ajaib, klausul pemenang dengan suara terbanyak tidak diakomodasi. Ada udang di balik batu? Dengan keputusan MK tersebut, medan pertempuran perebutan pemilih tidak lagi antar parpol, tapi antar caleg, bahkan caleg dalam satu parpol pun tidak segan-segan saling jegal. Kini medan pertempuran tambah berkecamuk. Mahzab nomor urut kembali dapat angin. Maka akan terbuka pula medan pertempuran antara mahzab suara terbanyak melawan mahzab nomor urut.

Bila tidak ada kesamaan interpretasi, bisa dipastikan pasca pemungutan suara nanti akan terjadi benturan hexagonal: antara mahzab nomor urut lawan KPU, mahzab suara terbanyak lawan KPU, antar sesama mahzab atau sesama caleg, antara caleg dengan parpol, parpol vs parpol, dan seterusnya. Mudah-mudahan ini hanya mimpi buruk.

Negeri kita memang suka membuat ketentuan yang tidak limitatif, sehingga multi interpretatif dan membingungkan warga. Ada potensi benturan di bawah. Atau benturan-benturan itu sengaja dipelihara supaya ada peluang menangguk di air keruh? Ah, tapi jangan suuzonlah mari dengar saja suara tokek, nomor urut atau suara terbanyak?

Tokek...nomor urut; tokek...suara terbanyak; tokek...nomor urut; tokek.......

kolom - Riau Pos 2 Maret 2009
Tulisan ini sudah di baca 1722 kali
sejak tanggal 02-03-2009

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat