drh. Chaidir, MM | Buang Bui Bunuh | POLITIKUS di penjuru mana pun berada di planet ini selalu menghadapi konsekuensi tiga B: Buang Bui Bunuh. Alasannya sederhana. Dunia politik itu ibarat rimba belantara yang tak bertuan. Penuh dengan hewan buas, hewan berbisa, buaya, lipan, kala jengking, cicak kubin, bahkan makhluk halus orang bunia
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Buang Bui Bunuh

Oleh : drh.chaidir, MM

POLITIKUS di penjuru mana pun berada di planet ini selalu menghadapi konsekuensi tiga B: Buang Bui Bunuh. Alasannya sederhana. Dunia politik itu ibarat rimba belantara yang tak bertuan. Penuh dengan hewan buas, hewan berbisa, buaya, lipan, kala jengking, cicak kubin, bahkan makhluk halus orang bunian pun ada. Rimba belantara tempat jin buang anak itu, bisa menjadi tempat persembunyian, bisa juga menjadi ladang pembantaian.

Sejarah peradaban manusia punya catatan panjang tentang bagaimana seorang pemimpin dibuang karena konsekuensi politik yang dipilihnya. Pada 1814, Napoleon Bonaparte dibuang ke Pulau Elba. Napoleon Bonaparte dibuang oleh musuh-musuhnya setelah Prancis yang dipimpinnya mengalami kekalahan berturut-turut dalam peperangan Eropa yang cukup panjang. Saat itu Prancis yang diperintah Napoleon Bonaparte menguasai hampir seluruh dataran Eropa baik dengan diplomasi maupun peperangan. Prancis nyaris menguasai seluruh Eropa. Namun karena nafsu perang Napoleon tidak dibarengi dengan kekuatan pasukan dan keuangan Prancis, ia mengalami kekalahan berturut-turut. Gagal menguasai Rusia, Prancis malah diserang balik oleh Rusia, Austria dan Prusia. Napoleon ditahan dan kemudian dibuang ke pulau Elba.

Ayatullah Khomaini, pemimpin revolusi Iran, lama hidup dalam pembuangan di Prancis, dipisahkan dari negerinya. Tidak usah jauh-jauh menyingkap bilik sejarah. Pemimpin kemerdekaan Indonesia punya catatan buang membuang ini. Pulau Bunga, Ende, Flores, pulau yang pemandangan alamnya cantik ini menjadi saksi bisu sebagai tempat pembuangan Bung Karno. Enam tahun hidup dalam pengasingan di Ende, cukup bagi Sukarno untuk menyelami kehidupan rakyat Ende, pantai indah dan para nelayan yang ramah, kehidupan pelabuhan yang pikuk saat kapal berlabuh, serta masyarakatnya yang ramah tetapi sedikit tertutup.

Pembuangan di Ende, bukan akhir dari pembuangan Bung Karno. Beberapa tahun kemudian Bung Karno kembali dibuang ke Bengkulu. Di Bengkulu inilah Bung Karno berada sampai saat-saat kemerdekaan Indonesia. Penjajah Belanda menganggap Bung Karno sebagai virus berbahaya bagi pergerakan kemerdekaan, sehingga harus diasingkan dari lingkungannya.

Teman seperjuangan Bung Karno, yakni Bung Hatta dan Bung Syahrir bahkan dibuang ke Boven Digul yang penuh dengan malaria. Politisi pergerakan kemerdekaan Indonesia ini kemudian dibuang oleh Belanda ke Banda.

Sebelum pembuangan tersebut, Bung Karno pada tahun 1930 pernah ditangkap Belanda karena pidato pembelaannya yang cemerlang dalam Pengadilan Umum Belanda di Bandung. Bung Karno kemudian dimasukkan ke bui di Sukamiskin.

Perihal hidup di bui ini, pemimpin Afrika Selatan Nelson Mandela adalah contoh ekstrim yang harus ditanggung oleh seorang politikus. Mandela dipenjara selama 27 tahun karena perjuangannya menentang politik apartheid yang dilakukan oleh pemerintah kulit putih di Afrika Selatan. Setelah dibebaskan, Nelson Mandela kembali terjun ke dunia politik dan tak lama kemudian terpilih menjadi Presiden Afrika Selatan.

Bahkan John F. Kennedy, politikus Partai Demokrat Amerika Serikat dibunuh di Dallas ketika sang Politikus sedang menduduki posisi sebagai Presiden AS. Presiden Mesir Anwar Sadat dihabisi ketika sedang menyaksikan parade militer. Pemimpin perempuan Pakistan yang brilian, Benazir Bhuto juga dibunuh oleh lawan politiknya.

Buang bui bunuh (populer dengan istilah B3), agaknya menjadi risiko jabatan terburuk bagi seorang politikus. Kenapa? Karena politik bersaudara kandung dengan kepentingan. Bellum omnium contra omnes, ujar Thomas Hobbes. Manusia yang satu cenderung bersaing dengan manusia lainnya. Bahkan lebih mengerikan ketika Hobbes menyebut, homo homini lupus, manusia yang satu menjadi serigala bagi manusia lainnya. Dalam politik sering berlaku adagium, tak ada kawan setia, tak ada musuh abadi, yang abadi adalah kepentingan. Dan politik adalah kepentingan.

Belantara seperti itulah yang akan dimasuki oleh para caleg kita kelak bila terpilih. Kalau takut dilamun ombak jangan berumah di tepi pantai.


kolom - Harian Vokal
Tulisan ini sudah di baca 476 kali
sejak tanggal 14-05-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat