drh. Chaidir, MM | Semalam di Malaysia | MALAYSIA taklah jauh beribu batu. Setiap hari ratusan orang lalu-lalang Riau-Malaysia. Biasa saja, tak ada yang istimewa. Tapi Kuala Lumpur dua pekan lalu, terasa agak beda dari biasanya. Ada baliho-baliho partai, billboard, spanduk-spanduk dan bendera-bendera partai. Tapi kemudian saya segera menya
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Semalam di Malaysia

Oleh : drh.chaidir, MM

MALAYSIA taklah jauh beribu batu. Setiap hari ratusan orang lalu-lalang Riau-Malaysia. Biasa saja, tak ada yang istimewa. Tapi Kuala Lumpur dua pekan lalu, terasa agak beda dari biasanya. Ada baliho-baliho partai, billboard, spanduk-spanduk dan bendera-bendera partai. Tapi kemudian saya segera menyadari, perbedaan yang lebih besar ternyata bukan pada asesoris wajah Kuala Lumpur yang semakin megah. Aromanya beda ketika sepuluh tahun lalu saya sempat menyaksikan pilihan raya umum (pemilu) Malaysia. Ketika itu, koor puak Melayu seirama mendukung kepemimpinan UMNO dengan koalisi permanen Barisan Nasionalnya.

Malaysia berubah? Lima kali naik taksi berbeda dalam sehari semalam, tentulah tidak dapat disebut mewakili sikap politik pemilih di Malaysia. Terlalu naf menyebut sikap para pengemudi taksi itu merupakan gambaran sikap graas root atau akar rumput di negeri jiran itu. Tapi gambaran percakapan kecil dengan sang pengemudi, membuat saya gelisah.

Bila pilihan raya Cik?
Lima hari bulan depan. (Maksudnya, tanggal 5 Mei 2013)
Macam mana peluang Barisan Nasional? Saya ingin tahu.
Tak ada lagilah. Pemilih muda ingin perubahan. BN sudah terlalu lama berkuasa, sudah lima puluh tahun. Indonesia sudah berubah. Mesir berubah, semua sudah berubah. Masyarakat ingin perubahan.
Berarti tamatlah Melayu di Malaysia ini? Saya memprovokasi.

Sang pengemudi langsung bereaksi dengan nada agak tinggi.

Siapa cakap? PAS juga Melayu, Partai Keadilan Rakyat juga Melayu, DAP juga Melayu.
DAP bukan. Saya membantah sok tahu.

Hee, dalam DAP tu ada Cina, ada India, ada Melayu, awak jangan salah. Semua parti itu orang Malaysia, semua ingin Malaysia maju, semua mereka cinta Malaysia, semua mereka ingin hidup enak. Lalu keluarlah kata-kata hujatan terhadap Barisan Nasional, koalisi yang ditulangpunggungi oleh UMNO (United Malay National Organization), sebuah partai yang selama ini mengklaim satu-satunya partai yang mewakili kepentingan Melayu di Malaysia. Hebatnya kelima pengemudi taksi dalam kesempatan berbeda, bersuara hampir senada. Sesuatu yang dulu tidak saya dengar.

Pilihan Raya Umum ke-13 (PRU-13), begitu disebut di Malaysia, yang diselenggarakan kemarin pagi (5/5/2013) boleh jadi merupakan pemilu yang paling menegangkan bagi kubu Barisan Nasional. Partai UMNO, MCA (Malaysian Malaysian Chinese Association), MIC (Malaysian Indian Congress) dan beberapa partai kecil yang tergabung dalam Barisan Nasional, kali ini memang banting stir dengan menampilkan tokoh-tokoh muda. BN wajar galau, sebab berdasarkan riset Merdeka Center, 42% responden menginginkan koalisi Pakatan Rakyat (PR, yang terdiri dari Partai Keadilan Rakyat, PAS dan DAP) pimpinan Anwar Ibrahim untuk memimpin pemerintahan. Sementara BN yang dipimpin oleh Perdana Menteri yang sedang berkuasa, Najib Razak hanya didukung 41 persen responden. Selebihnya, 17 persen tidak tahu/tidak mau menjawab (Riau Pos Sabtu, 4 Mei 2013). Padahal media TV dan surat kabar sepenuhnya dikuasai BN.

Sejak Malaysia merdeka 1957 BN selalu meraih kemenangan sampai pemilu 2008. Tapi sesungguhnya tanda-tanda penurunan sudah kelihatan ketika pada pemilu 2008 BN kehilangan mayoritas dua pertiga kursi di Parelemen. BN hanya memperoleh 136 dari 222 kursi Parlemen, selebihnya dikuasai oposisi kubu PR.

Ketika tulisan ini ditulis, saya belum memperoleh bocoran hasil PRU-13. BN atau PR, mungkin kemenangannya tipis. Dan ini akan menjadi masalah serius. Malaysia akan memasuki era baru: instabilitas politik.


kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 397 kali
sejak tanggal 06-05-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat