drh. Chaidir, MM | Tak Pernah Basi | SASTRAWAN Mesir, Ali Achmad Baktsir merangkai kata-kata bijak dalam novelnya
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Tak Pernah Basi

Oleh : drh.chaidir, MM

SASTRAWAN Mesir, Ali Achmad Baktsir merangkai kata-kata bijak dalam novelnya "Bara Padang Gersang" (al Faris al Jamil), "Kejujuran acapkali terasa amat pahit, karena itu hanya sedikit orang yang mau mengakui. Kejujuran yang bersinar di lubuk jiwa, tak bisa ditutupi, tak mungkin diingkari. Manusia hanya mampu menutupi kata hatinya dari penglihatan orang lain, namun ia tak pernah mampu membohongi dirinya sendiri."

Kesadaran itulah yang tumbuh subur dalam sanubari tokoh utama novel tersebut, Mush'ab ibn Zubair, Gubernur Irak yang berada di bawah kekhalifahan Makkah yang dipimpin oleh Amirul Mu'minin, Abdullah ibn Zubair.

Sang Gubernur adalah panglima perang pemberani. Namun kali ini ia mendapat misi berat, harus berperang menundukkan Abdul Malik ibn Marwan, pemimpin Kekhalifahan Daulah Umawiyah di Syam. Kekhalifahan Syam itu dianggap tandingan dan itu illegal. Mush'ab bukan takut karena pasukan Abdul Malik dinilai kuat dan klan Umawiyah dikenal ahli dalam siasah perang, tapi karena Abdul Malik adalah sahabat karibnya. Tapi perintah sang abang di Makkah, tegas bin lugas: bunuh Abdul Malik.
Di tengah penampilannya yang hebat sebagai seorang gubernur, gagah dan dipuja lingkungan kekuasaannya, Mush'ab sendiri merasa - hanya dia sendiri, istri-istrinya, dan Tuhan yang tahu - sesungguhnya ia sering mengambil keputusan yang salah karena selalu didera keraguan, dan dia tak kuasa menghadapi dua dari empat istrinya yang cantik jelita, Aisyah binti Thalhah ibn Abdullah dan Sukainah binti Husain ibn Ali. Kerinduan yang tak tertahankan terhadap dua istrinya ini, membuatnya acapkali terpaksa berbohong menutupi suara hatinya dari penglihatan pengikutnya.

Namun betapapun, pada akhirnya, Mush'ab jujur tak bisa mengikari kata hatinya, Abdul Malik adalah sohibnya, tapi perintah abang dan sekaligus pemimpinnya tak bisa diganggu gugat. Maka, dengan penyamaran penuh keberanian dan risiko, Mush'ab mengelabui pengawal, dan langsung bertemu empat mata dengan Abdul Malik di jantung markas Abdul Malik. Tidak ada yang tahu siapa tamu istimewa dan dijamu secara istimewa pula oleh Abdul Malik tiga hari tiga malam dalam kemahnya. Dua sohib ini bercengkerama sekaligus bernegosiasi saling menjanjikan konsesi. Terakhir Abdul Malik membuat tawaran rela menjadi bawahan Mush'ab bila Mush'ab bersedia menggantikan Abdullah ibn Zubair sebagai Amirul Mu'minin di Makkah. Apa boleh buat, akhirnya mereka gagal bersepakat. Satu-satunya kesepakatan mereka adalah, sepakat secara jantan penuh dengan kejujuran dan keterhormatan untuk secara baik-baik berperang.

Novel tipis (179 halaman + vi) yang diterbitkan Idola Qta Yogyakarta (2009) ini, menarik untuk dibaca para punggawa negeri. Makna hakiki Ramadan yang baru saja berlalu, selalu menjadi diskursus. Setiap tahun - setelah beratus-ratus tahun - selalu begitu. Pesannya tak pernah basi: nilai-nilai kejujuran. Aktualisasinya mengikuti siklus zaman, tapi sanubari tak mungkin diingkari. Semoga kita bersua Ramadan tahun depan.

kolom - Riau Pos 5 Oktober 2009
Tulisan ini sudah di baca 1320 kali
sejak tanggal 05-10-2009

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat