drh. Chaidir, MM | Senjata Makan Tuan | AKAL-AKALAN. Itulah komentar sebagian pengamat politik di tanah air ketika Partai Golkar pada tahun 2003 silam menyelenggarakan konvensi pemilihan calon Presiden RI. Sandiwara politik, kilah Partai Golkar untuk curi start kampanye, kata yang lain.  

Namun, pendapat miring itu terbantahkan ketika
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Senjata Makan Tuan

Oleh : drh.chaidir, MM

AKAL-AKALAN. Itulah komentar sebagian pengamat politik di tanah air ketika Partai Golkar pada tahun 2003 silam menyelenggarakan konvensi pemilihan calon Presiden RI. Sandiwara politik, kilah Partai Golkar untuk curi start kampanye, kata yang lain.

Namun, pendapat miring itu terbantahkan ketika konvensi itu berjalan dengan sukses. Sejumlah tokoh nasional yang tidak diragukan kapasitasnya, secara serius mengikuti konvensi. Konvensi Partai Golkar tersebut makin menarik perhatian publik ketika tokoh sekaliber Nurcholish Madjid (Cak Nur) juga mengikuti konvensi. Partai Golkar menempuh cara terbuka untuk merekrut calon presiden. Padahal ketika itu partai-partai lain sudah menetapkan calon presiden yang berasal dari elit partai masing-masing.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh sekretariat konvensi Partai Golkar, tujuh nama dipastikan lolos dalam babak pra-konvensi, yaitu Aburizal Bakrie yang didukung 28 Dewan Pimpinan Daerah (DPD) tingkat provinsi, Surya Paloh (27), Wiranto (26), Akbar Tanjung (23), Jusuf Kalla (17), Prabowo Subianto (14), dan Sri Sultan HB X (7).

Partai Golkar, dengan cerdik membatalkan rencana Konvensi Nasional untuk menetapkan satu nama calon presiden sebelum pemilu legislatif April 2004. Alasannya sangat masuk akal. Pertama, agar tujuh kandidat bahu-membahu berkampanye untuk pemenangan Partai Golkar dalam pemilu legislatif; kedua, untuk memastikan Partai Golkar meraih suara sekurang-kurangnya tiga persen sebagai persyaratan minimal bagi sebuah partai untuk diperbolehkan mengusung calon presiden. Hasil pemilu 2004, seperti telah diketahui, Partai Golkar meraih kemenangan 21,58 persen, mengungguli PDIP (18,53 persen) dan PKB (10,57 persen). Partai lainnya di bawah 10 persen.

Dengan hasil pemilu tersebut Ketua Umum Akbar Tanjung sangat percaya diri akan memenangkan Konvensi Nasional dan akan tampil sebagai Calon Presiden RI dari Partai Golkar. Apa boleh buat, puncak Konvensi Nasional di Jakarta Convention Centre yang dimulai 20 April dan berakhir 21 April 2004 dinihari, dalam grand final yang berlangsung meriah, diluar dugaan, Jenderal (Purn) Wiranto memenangkannya. Wiranto memperoleh 315 suara, sedangkan Akbar Tanjung, Ketua Umum Partai Golkar hanya mendapatkan 227 suara. Wiranto segera mendatangi Akbar Tanjung, menjabat tangan dan memeluknya. Walau Akbar sendiri tampak murung menanggapi hasil konvensi itu, dirinya tetap berkata, "itulah demokrasi". Ya, itulah demokrasi. Akbar Tanjung kalah tetapi sesungguhnya Akbar menang. Akbar telah memberi pelajaran demokrasi kepada bangsa ini, walau senjata makan tuan, bagi dirinya.

Kini Partai Demokrat menggagas konvensi pemilihan calon Presiden RI. PD akan menjaring capres secara terbuka melalui primary election (PE), yaitu sistem pemilihan pendahuluan untuk menyeleksi kandidat. PE adalah sebuah cara partai politik (parpol) seperti di Amerika Serikat untuk menyeleksi secara demokratis para kandidat presiden sebelum partai resmi mengusulkan nama capres kepada KPU untuk dipilih dalam pemilu. Gagasan ini tentu saja seperti sitawar sidingin dalam kebuntuan proses rekrutmen politik calon pemimpin kita.

Pujian atas ide konvensi datang dari berbagai kalangan, terutama para pakar, pengamat dan para akademisi. Tetapi juga tidak sedikit yang mencurigai. Namun tak perlu khawatir, bila konvensi ini dilakukan dengan sungguh-sungguh, penuh kejujuran, tak takut senjata makan tuan, publik akan memberikan apresiasi. Partai Demokrat juga berarti konsisten dengan doktrinnya, Tri Pakca Gatra Praja, yang salah satu butirnya menyebut adanya kehendak yang kuat untuk membangun kehidupan demokrasi bangsa yang semakin berkualitas. Dahsyat.

kolom - Riau Pos 15 April 2013
Tulisan ini sudah di baca 1128 kali
sejak tanggal 15-04-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat