drh. Chaidir, MM | Momentum Bersih-bersih | SETUJU atau tak setuju SBY terpilih sebagai Ketua Umum Partai Demokrat secara aklamasi dalam KLB di Bali, Sabut 30 Maret 2013, dua hari lalu, itu masalah lain. Badai kritik pasti menghampiri Presiden SBY pasca KLB, tapi bagi Partai Demokrat yang sedang karut marut dan di ambang perpecahan berkeping-
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Momentum Bersih-bersih

Oleh : drh.chaidir, MM

SETUJU atau tak setuju SBY terpilih sebagai Ketua Umum Partai Demokrat secara aklamasi dalam KLB di Bali, Sabut 30 Maret 2013, dua hari lalu, itu masalah lain. Badai kritik pasti menghampiri Presiden SBY pasca KLB, tapi bagi Partai Demokrat yang sedang karut marut dan di ambang perpecahan berkeping-keping, opsi lain hampir tidak tersedia. SBY menerima segala risiko itu. Mungkin SBY berprinsip seperti bidal Melayu, "Seberat-berat mata memandang lebih berat lagi bahu memikul." Maka SBY memikul tanggungjawab itu.

Pada satu sisi, SBY pasang badan untuk menghadapi setiap bentuk rongrongan terhadap partai yang didirikannya, pada sisi lain, sesungguhnya ini peluang bagi SBY untuk kesekian kalinya menunjukkan komitmennya dalam pemberantasan korupsi dan melakukan bersih-bersih secara menyeluruh, ini kesempatan emas. Dalam frasa SBY, "saatnya untuk memilih." Maksudnya, barangkali, kader-kader yang hanya mengandalkan status pendiri tetapi integritasnya telah tergerus, sehingga justru kontra produktif, apa boleh buat terpaksa harus minggir. SBY nampaknya sangat sadar, hari esok yang akan dihadapi oleh Partai Demokrat, telah berubah dibandingkan duabelas tahun lalu, ketika Partai Demokrat dideklarasikan pada 9 September 2001.

Sesungguhnya, harapan masyarakat terhadap Partai Demokrat pada awal berdirinya dan kepada Presiden SBY yang dipilih secara langsung untuk pertama kalinya oleh bangsa Indonesia, pada 2004, sangat besar. SBY diharapkan mampu membersihkan negeri ini dari praktik-praktik korupsi yang sudah sangat merajalela dan menyengsarakan rakyat. Kenyataannya, praktik mafia anggaran, mafia kasus, mafia hukum, mafia proyek, dan mafia hutan, dan lain sebagainya, satu dan lainnya bertali-temali ibarat benang-benang kusut. Susah diungkai. Masyarakat yang waras di negeri ini sudah muak melihat tingkah pola koruptor yang amat sulit dijerat.

Maka kepemimpinan SBY pun tak luput dari isu miring, lantai yang kotor tak mungkin dibersihkan dengan sapu yang kotor. Komitmen SBY memberantas korupsi sebagaimana disampaikan dalam berbagai kesempatan sering dicibir, karena partainya sendiri sarat dengan oknum-oknum yang tersangkut kasus korupsi. Oknum partai lain juga banyak yang terjerat korupsi, tapi tetap saja masyarakat memandangnya beda. Sebab, Partai Demokrat adalah partai pemenang pemilu 2009. Menghadapi kondisi tersebut Presiden SBY sering tampak galau.

Kini dengan memegang langsung tampuk Ketum Partai Demokrat, kesempatan bagi SBY membersihkan partainya. Saatnya untuk memilih. Itís now or never. Sekarang atau tidak akan pernah ada kesempatan. Sekaranglah saatnya SBY untuk memunculkan semua titik api. Jangan ada lagi titik api yang ditutup-tutupi hanya karena pertimbangan basa-basi. Sebab titik api itu bila dibiarkan lama-kelamaan akan menjadi api dalam sekam. Sekaranglah saatnya SBY membongkar kotak Pandora (seperti dalam mitologi Yunani Kuno) itu sampai ke dasarnya, dan mengeluarkan semua kebobrokan yang ada. Nanti di sebuah sudut yang tersuruk akan ditemukan sebutir kecil mutiara yang bernama harapan. Pembersihan di Partai Demokrat akan menjadi modal bagi Presiden SBY untuk melakukan pembersihan di pemerintahan dan di tempat-tempat lain.

Partai Demokrat, juga partai-partai politik lainnya, adalah aset bangsa, instrumen demokrasi, harus bisa memberi kontribusi positif dalam menegakkan demokrasi di negeri ini. Selalu, setiap upaya perbaikan pasti ada yang suka dan tak suka. Sebanyak yang suka sebanyak itu pula yang tak suka. Tapi, kalau takut dilamun ombak jangan berumah di tepi pantai.

kolom - Riau Pos 1 April 2013
Tulisan ini sudah di baca 774 kali
sejak tanggal 01-04-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat