drh. Chaidir, MM | Hari Esok Tak Terduga |
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Hari Esok Tak Terduga

Oleh : drh.chaidir, MM

"NASIB adalah rekan yang tak terlihat" tulis sastrawan Mesir Naguib Mahfouz dalam novelnya Harafisy. Dan nasib tragis itulah yang menemani saudara-saudara kita di Sumatera Barat. Sebuah gempa bumi kembali membawa petaka. Kali ini lebih dahsyat. Berkekuatan 7,6 Skala Richter. Ratusan bangunan hancur porak poranda, dan ratusan pula nyawa melayang, belum terhitung yang luka parah. Ratusan jasad saat ini bahkan masih tertimbun di bawah reruntuhan.

Duka mendalam kembali menyelimuti kita. Indonesia kembali berduka. Darah dan air mata kembali membahasi bumi. Teramat sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata betapa keceriaan dan duka nestapa hanya dibatasi selaput tipis. Benar kata orang tua-tua, malang tak berbau. Musibah tak selalu datang dengan mengetuk pintu. Malapetaka bisa datang bila-bila masa. Tak ada tanda-tanda alam akan ada malapetaka yang mengubah segala-galanya, mengubah sejarah hidup anak manusia, ketika kemudian tiba-tiba saja terjadi gempa bumi. Peristiwa itu bukan mimpi buruk, melainkan sebuah kenyataan yang amat pahit.

Akhir-akhir ini kita seakan bersahabat dengan terma-terma buram, seperti tanah longsor, banjir bandang, topan badai, angin puting beliung, gelombang besar, kebakaran hutan, kebakaran rumah, asap, naiknya rata-rata suhu bumi yang dikenal dengan istilah pemanasan jagad raya, dan seterusnya, dan seterusnya. Sebagian malapetaka itu sebagai akibat ulah manusia yang tak memiliki kesadaran ekologis, mengeksploitasi alam sesuka hati, sebagian lainnya karena manusia memang tak akan pernah mampu menundukkan fenomena alam dan harus menyerah tanpa syarat.

Dalam perspektif keilmuan, bagaimana pun planet bumi yang kita huni ini merupakan bola raksasa yang sudah tua renta dan melintas pula dengan kecepatan tinggi pada orbitnya sambil berputar pada sumbunya. Dalam skema itu kita mengenal bulan dan tahun, dan mengenal siang malam. Planet ini terdiri dari lapisan-lapisan yang mungkin saja lapisannya bergeser atau patah karena faktor usia. Faktor inilah yang menimbulkan goncangan di permukaan planet. Tapi logika manusia seperti itu acapkali dipermalukan oleh logika tak terduga, logika gaib, membuat manusia terheran-heran. Pada kenyataannya memang ada hal-hal yang tak terjangkau oleh pikiran manusia.

Tuhan tidaklah sewenang-wenang memerintahkan bumi bergetar dan laut bergelombang tinggi dan menimbulkan bencana. Sudah ada hukum-hukum alam yang ditetapkan-Nya jauh sebelumnya. Hukum-hukum itu meliputi sistem kerja alam raya, yang oleh Quraish Shihab (2005), disebut hukum-hukum alam.

Percaya Kepada Takdir

Dalam perspektif keimanan, kita percaya, lima juta tahun yang lalu, atau sepuluh juta tahun, atau dalam kurun waktu yang tak dapat dihitung, apa yang terjadi hari ini telah tertulis dalam buku takdir seorang manusia. Kita tinggal menjalani saja. Kapan kita lahir, kapan kita menikah, siapa jodoh kita, bagaimana rezeki kita, kapan kita mati dan dengan cara apa kita mati semua sudah tertulis.

Namun sebuah kematian, bagaimanapun, tetap merupakan malapetaka dan menimbulkan kesedihan tak terkira bagi mereka yang ditinggalkan. Apatah lagi kepergian orang-orang terkasih itu melalui tragedi yang memilukan hati. Dalam renungan transendental, dalam kehidupannya di dunia fana ini, manusia mirip dengan keadaan telur sebelum menetas. Kesempurnaan wujud anak ayam adalah dengan meninggalkan dunianya, dunia telur. Demikian pula manusia, kesempurnaan kehidupannya hanya dapat dicapai dengan meninggalkan dunia, di mana ia hidup saat ini (Quraish Shihab, "Lentera Hati", 2005).

Surga yang dijanjikan hanya mungkin tercapai melalui gerbang kematian. Dalam perspektif ini, mereka yang meninggal dunia sudah tenang, tak lagi direpotkan dengan masalah dan godaan duniawi. Nafsu, kesombongan, iri hati, dengki, adalah urusan duniawi yang sangat merepotkan. Mereka tinggal menunggu saat untuk diperbolehkan masuk ke gerbang surga.

Manusia mempunyai takdir. Sesungguhnyalah takdir itu tidak hanya malapetaka. Sebuah kesuksesan juga adalah sebuah takdir. Kematian adalah sebuah takdir. Seberapa pun berkuasa seseorang ketika masih hidup, presidenkah dia, rajakah dia, atau bahkan raja dirajakah dia, aktor ganteng atau aktris cantik jelita yang terkenal, bahkan Fir'aun yang mengklaim dirinya adalah Tuhan, tak kuasa melawan takdir.

Takdir tidak hanya kematian. Kemiskinan juga adalah takdir, demikian halnya dengan harta benda dan kekuasaan. Mengartikan takdir hanya malapetaka, adalah sebuah kekeliruan. Umar bin Khattab suatu kali, membatalkan kunjungannya ke suatu daerah karena mendengar adanya wabah di daerah tersebut. Beliau ditanya: "Apakah Anda menghindar dari takdir Tuhan?" Umar menjawab: "Saya menghindar dari takdir yang satu ke takdir yang lain."

Pesan Tersembunyi

Sebagai makhluk yang berakal dan beriman, kita memiliki keyakinan yang kuat bahwa setiap musibah selalu dipahami dalam kerangka cobaan, dan selalu mengandung pesan tersembunyi. Sayangnya pesan tersembunyi itu rahasia ilahi. Pesan tersembunyi itulah yang biasa kita kenal sebagai hikmah. Selalu ada hikmah dibalik musibah dan oleh karena itulah kita dituntut untuk senantiasa mengambil iktibar.

Musibah yang menimpa Saudara-sauadara kita di Sumatera Barat, adalah musibah kita semua. Ambil iktibar. Hidup boleh disebut hanya sehari, hari ini. Hari kemarin telah berlalu, hari esok belum tentu datang. Lihatlah. Bagi saudara-saudara kita yang menemui takdirnya, fajar tak pernah lagi terbit. Hari esok ternyata penuh misteri, tak terduga. Tidak ada sesiapa yang bisa memastikan apakah esok hari matahari pasti akan terbit, kehidupan akan berjalan sesuai skenario.
Keyakinan kita semakin kokoh, manusia hanya bisa merencanakan. Wilayah gaib memiliki logika tersendiri tak terjangkau logika duniawi.

kolom - Riau Pos 1 Oktober 2009
Tulisan ini sudah di baca 1362 kali
sejak tanggal 01-01-2009

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat