drh. Chaidir, MM | Merah Putih di Dadaku | KINI federasi sepakbola Indonesia hanya satu, PSSI. Tak ada lagi PSSI Djohar Arifin, tak ada lagi PSSI La Nyalla. Merah Putih di dadamu, di dadaku, di dada kita bersama. Begitulah seharusnya. Masyarakat pencinta sepakbola kita sudah letih dan muak melihat tontonan persepakbolaan kita dalam satu dasa
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Merah Putih di Dadaku

Oleh : drh.chaidir, MM

KINI federasi sepakbola Indonesia hanya satu, PSSI. Tak ada lagi PSSI Djohar Arifin, tak ada lagi PSSI La Nyalla. Merah Putih di dadamu, di dadaku, di dada kita bersama. Begitulah seharusnya. Masyarakat pencinta sepakbola kita sudah letih dan muak melihat tontonan persepakbolaan kita dalam satu dasawarsa ini, sehingga berbagai cemoohan tak terhindarkan. Tak kurang Wapres Jusuf Kalla, suatu kali ketika membuka sebuah acara PSSI di Makassar menceritakan sebuah anekdot. Ingat final Piala Dunia 2006, ketika Zidane (Prancis) menanduk dada Materazzi (Italia) sampai Materazzi terjungkal dan Zidane diganjar kartu merah? Alasannya, ternyata, menurut Wapres JK, Zidane sangat marah karena Materazzi menuduh Zidane pengurus PSSI.

JK tentu saja berseloroh. Tapi PSSI memang wajar diperselorohkan. Sekurang-kurangnya ada dua alasan mengapa PSSI sangat tidak popular dan sering dicibir, bahkan menjadi "musuh bersama" pencinta sepakbola kita. Pertama, karena pengurusnya selalu saja bertikai, egois, tak pernah akur; kedua, karena prestasi tim nasional tak pernah lagi membanggakan seperti pada era 1950-an ketika timnas PSSI dengan bintangnya Ramang mampu menahan Uni Soviet seri 0-0 di Olimpiade Melbourne pada 1958, atau seperti pada era 1960, ketika timnas PSSI dengan bintangnya Soetjipto 'Gareng' Soentoro mampu menggilas China 11-1, Jepang 6-0, Korea Selatan 3-0 dan Thailand 6-0.

Pemilik sepakbola itu adalah masyarakat. Sepakbola itu olahraga rakyat yang sangat popular dan menjadi hiburan rakyat sejagat. Masyarakat berhak menuntut prestasi yang membanggakan, dan harus mampu diikhtiarkan oleh pengurus. Oleh karena itu pengurus sepakbola adalah orang-orang yang terpercaya dan jujur. Pemerintah di sisi lain berkepentingan melindungi rakyat dari tata kelola yang kurang baik yang merugikan rakyat. Oleh karena itu aneh bila terlalu dikotomis memposisikan peran pemerintah.

Kini, persepakbolaan kita sudah mulai (baru mulai) kembali ke jalan yang benar. KLB PSSI Minggu kemaren siang (17/3/2013) di Jakarta telah berjalan sukses menghasilkan beberapa keputusan sangat penting. Beberapa di antaranya adalah penyatuan kepengurusan, konsep penyatuan liga, pengangkatan anggota baru Komite Eksekutif, dan pentolan KPSI La Nyalla Mattalitti diangkat sebagai Wakil Ketua Umum PSSI, serta dibubarkannya Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia (KPSI). Pembubaran KPSI ini diresmikan lewat penandatanganan kesepakatan bersama oleh Djohar Arifin dan La Nyalla, disaksikan langsung oleh Menpora Roy Suryo.

Utusan FIFA dan AFC yang menghadiri KLB ini kelihatannya puas dan menjamin tidak akan ada sangsi bagi Indonesia. Hasil KLB 17 Maret 2013 ini selanjutnya akan dibawa dan dibahas pada rapat Exco FIFA 20 Maret mendatang di Zurich, Swiss. Apapun namanya, apapun hasil KLBnya, pencinta sepakbola kita sesungguhnya tak peduli, yang penting timnas Indonesia tampil membanggakan, itulah muara dari seluruh ikhtiar pengurus. Tak peduli kucing itu hitam atau putih, kata Deng Xiaoping, yang penting bisa menangkap tikus. Bravo sepakbola Indonesia.

kolom - Riau Pos 18 Maret 2013
Tulisan ini sudah di baca 804 kali
sejak tanggal 18-03-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat