drh. Chaidir, MM | Liga Demam | SEPAKBOLA boleh menjadi semacam agama di Brazil dan di Negara-negara Amerika Latin, tetapi sebagai industri, justru Eropa yang jadi rajanya. Indutri sepakbola di Eropa dewasa ini tumbuh pesat. Ini ditandai dengan gegap gempitanya kompetisi liga professional di benua itu. Kecuali superstar Brazil, Ne
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Liga Demam

Oleh : drh.chaidir, MM

SEPAKBOLA boleh menjadi semacam agama di Brazil dan di Negara-negara Amerika Latin, tetapi sebagai industri, justru Eropa yang jadi rajanya. Indutri sepakbola di Eropa dewasa ini tumbuh pesat. Ini ditandai dengan gegap gempitanya kompetisi liga professional di benua itu. Kecuali superstar Brazil, Neymar, yang masih bermain di klub Santoz, Brazil, hampir semua pemain top Amerika Latin bermain di berbagai klub di Eropa. Hal yang sama juga dialami oleh Afrika dan Asia yang semua pemain bintangnya merumput di Eropa.

Maka, liga-liga sepakbola professional di berbagai Negara Eropa, dewasa ini sangat bergengsi dan selalu menjadi impian pemain top dari seluruh penjuru dunia. Sebut saja Liga Premier Inggris, La Liga Spanyol, Serie A Italia, Bundesliga Jerman, Ligue 1 Prancis, Liga Pro di Belanda, Liga Super Turki, dan sebagainya. Tiga besar dari liga-liga tersebut bertanding pula dalam Liga Champion, yang pertandingan-pertandingannya ditunggu oleh penggemar di seluruh dunia karena pertandingannya yang bermutu tinggi.

Tidak bisa dipungkiri, saat ini liga yang dianggap terbaik penyelenggaraannya dan sangat kompetitif adalah Liga Premier Inggris, disusul La Liga Spanyol, Seri A Italia dan Bundesliga Jerman. Liga-liga ini bertabur bintang. Beberapa bintang misalnya, Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, Falcao, Iniesta, Karim Benzema, Ozil (bermain di La Liga). Rooney, Van Versie, Aguero, Carlos Teves, Kagawa, Suarez, Walcott, Gaerth Bale (bermain di Liga Premier). Pirlo, Buffon, Ballotelli (bermain di Serie A), dan seterusnya.

Namun, para pencinta sepakbola di seluruh dunia yang selalu pasang mata dan telinga untuk mengikuti jalannya pertandingan demi pertandingan liga sepakbola di Eropa dari dekat maupun dari jauh, di musim ini (2012/2013) pasti merasa ada sesuatu yang berbeda. Kompetisi masih akan berlangsung beberapa pekan lagi, namun kandidat Juara liga sudah semakin nyata di depan mata. Dalam klasemen sementara di empat liga yang menjadi kiblat sepakbola sejagat tersebut (Inggris, Spanyol, Jerman dan Italia), peringkat pertama terlalu jauh meninggalkan pesaingnya. Sebagai perbadingan, musim lalu, juara liga ditentukan sampai pertandingan-pertandingan terakhir. Bahkan perburuan poin antara dua klub sekota, Manchester United dengan Manchester City di Liga Premier, demikian ketatnya, sehingga sampai musim berakhir, Manchester City hanya unggul satu poin untuk menjadi Juara Liga Primier.

Tahun ini sampai pertandingan ke-28 (dari 38 kali) di Liga Premier, MU sudah mengumpulkan nilai 71 dan berada di peringkat pertama klasemen, jauh meninggalkan Manchester City pada urutan kedua klasemen dengan 56 poin dan Tottenham (54) pada peringkat ketiga. Di La Liga, Barcelona berada pada peringkat pertama klasemen sementara dari 26 pertandingan dengan 68 poin, juga jauh meninggalkan Atletico Madrid (56) pada peringkat kedua, kemudian disusul sang juara bertahan Real Madrid pada urutan ketiga (55). Di Bundesliga kondisinya juga hampir sama. Pemimpin klasemen, Bayern Munchen unggul dengan 63 poin dari 24 kali pertandingan, disusul Borussia Dortmund (46) dan Bayer Leverkusen (45). Kelihatannya, dengan kompetisi yang sudah mendekati pekan-pekan terakhir, hanya keajaiban yang akan bisa mengubah klasemen.

Di Serie A, agak lumayan, Juventus dengan poin 59 dari 27 kali pertandingan, memimpin klasemen sementara, hanya unggul 6 poin dari Napoli (53) pada peringkat kedua dan AC Milan (48) di peringkat ketiga. Persaingan yang ketat terjadi di Liga 1 Prancis. Paris Saint-Germain (54), dengan bintangnya Ibrahimovic (dan terakhir diperkuat pula oleh superstar David Beckham), hanya unggul dua poin dari peringkat kedua Olympique Lyon (52) dan Olympique de Marseille (49) diperingkat ketiga. Saling susul-menyusul masih mungkin terjadi di Liga 1 Prancis. Sayangnya, siaran Liga 1 Prancis jarang disiarkan secara langsung oleh televisi di tanah air kita.

Dalam pekan-pekan depan, kita tidak hanya akan disuguhkan babak-babak akhir kompetisi liga, pertandingan perempat final Liga Champion, juga akan menyedot perhatian para pencandu sepakbola. Tapi itu di Eropa

Liga domestik kita? Sesungguhnya liga sepakbola professional kita sudah mulai kompetitif dengan banyaknya pemain-pemain asing yang membela berbagai klub di tanah air. Sayang liga kita dan para pengurusnya masih demam, penyakit dualisme belum juga sembuh-sembuh. Aneh bin ajaib, konflik persepakbolaan kita seperti tak bisa didamaikan. Padahal, konflik di Aceh saja bisa kita carikan solusinya.

kolom - Harian Vokal 5 Maret 2014
Tulisan ini sudah di baca 768 kali
sejak tanggal 05-03-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat