drh. Chaidir, MM | Revanchea Idea | SYAHDAN pada suatu senja yang jauh, pada 1964 di masa konfrontasi Indonesia - Malaysia, di depan Pulau Socotra (Selatan Saudi Arabia - Timur Teluk Aden), Perwira jaga Dewa Ruci, yang sedang dalam pelayaran menuju Afrika Selatan, berteriak:
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Revanchea Idea

Oleh : drh.chaidir, MM

SYAHDAN pada suatu senja yang jauh, pada 1964 di masa konfrontasi Indonesia - Malaysia, di depan Pulau Socotra (Selatan Saudi Arabia - Timur Teluk Aden), Perwira jaga Dewa Ruci, yang sedang dalam pelayaran menuju Afrika Selatan, berteriak: "Anjungaaaaan! Ada kapaaaaal! Kapal Induk!" Lalu terjadi tanya jawab dengan lampu isyarat.

Ternyata kapal induk tersebut bernama HMS Bullwark dari AL Kerajaan Inggris (sekutu Malaysia), yang sedang berlayar menuju Malaysia untuk bergabung dengan armada tempur di Selat Melaka dan Laut China Selatan, menghadapi Indonesia. Agak mendebarkan, karena HMS Bullwark mengubah haluan dan mendekati Dewa Ruci. Namun isyarat-isyarat lampu HMS Bullwark, berbunyi: Layar-layarmu terkembang sangat cantik. Dewa Ruci pun mengirim jawaban tak kalah simpatiknya: Bon Voyage and Happy Landing! Selamat Jalan HMS Bullwark, selamat sampai tujuan. (Dielaborasi dari buku Gramedia yang ditulis Cornelis Kowaas, "Dewa Ruci: Pelayaran Pertama Menaklukkan Tujuh Samudra, Sebuah Kisah Nyata").

Sebuah kisah nyata lainnya, terjadi dalam pertandingan World Cup 1990 ketika Timnas sepakbola Jerman berhadapan dengan timnas Inggris dalam pertandingan hidup-mati di babak knock out, perempat final. Pemain Inggris terkapar di saat Jerman menguasai bola dan menyusun serangan. Pada satu titik kesadaran kemanusiaan, pemain Jerman pun langsung membuang bola ke luar lapangan untuk memberi kesempatan pemain Inggris yang terkapar untuk mendapatkan perawatan medis.

Dua episode dari dua peristiwa nyata yang amat berbeda tersebut, Perwira Kapal Induk HMS Bullwark yang memuji kapal musuhnya, dan pemain Jerman yang membuang bola sebagai bentuk komitmennya menjunjung fair play, mempertontonkan sikap simpatik, spirit sportivitas dan saling menghargai. Pesannya sangat jelas dan harum mewangi.

Panggung politik kita dewasa ini, sepertinya jauh dari tontonan sikap simpatik yang menyejukkan jiwa tersebut. Tak ada sitawar sidingin. Memang benar dalam dunia politik berlaku adagium, "tak ada musuh abadi dan tak ada kawan sejati, yang abadi hanya kepentingan." Dengan kata lain, demi sebuah kepentingan dalam dunia politik, lawan bisa jadi kawan, kawan bisa jadi lawan. Tetapi menghalalkan segala macam cara demi kepentingan, tak ubahnya laksana predator yang menerkam mangsanya di rimba belantara.

Panggung politik kita justru acapkali menampilkan permainan yang mestinya hanya boleh ditonton oleh orang-orang yang sungguh-sungguh telah dewasa. Orang yang sudah dewasa politik saja adakalanya tidak siap mental. Terlalu seronokkah adegannya? Tidak. Adegannya seringkali tidak pantas dan kurang sehat ditonton oleh remaja apalagi anak-anak. Cerminnya tidak memberi pelajaran, yang banyak justru cermin kabur atau retak. Babak demi babak pertunjukan sarat dengan adegan vulgar politik balas dendam (Revanchea Idea) yang tidak lagi mengindahkan sopan santun. Logika akal sehat sebagai sebuah identitas, terhimpit oleh bunyi-bunyian dendam politik yang ditabuh bertalu-talu.

kolom - Riau Pos 4 Maret 2013
Tulisan ini sudah di baca 942 kali
sejak tanggal 04-03-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat