drh. Chaidir, MM | Melanggar Benang Hitam | NEGERI Riau dan Kepulauan Riau, sering dijuluki sebagai
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Melanggar Benang Hitam

Oleh : drh.chaidir, MM

NEGERI Riau dan Kepulauan Riau, sering dijuluki sebagai "Negeri Laut Sakti Rantau Bertuah". Negeri dengan kawasan yang membentang dari tepi Selat Melaka sampai ke Laut China Selatan ini, adalah sebuah negeri yang kaya akan sumber daya alam. Di laut ada kekayaan perikanan. Sebagian orang menyebut kekayaan perikanan laut ini sudah over fishing karena ikannya banyak dicuri nelayan asing. Tapi sebagian lain menyebut potensi perikanannya masih besar, potensi perikanan itu tak ubahnya ibarat raksasa yang masih tidur.

Di darat, lahannya subur, banyak diolah untuk perkebunan sawit, karet, kelapa, cengkeh, coklat, dan sebagainya. Di perut bumi ada minyak dan gas bumi yang belum juga habis-habis kendati sudah disedot puluhan tahun untuk menghidupkan perekonomian bangsa kita. Ada juga batu bara. Bisakah bahan tambang itu habis? Bisa. Contohnya timah di Dabo Singkep. Setelah ditambang lebih dari seabad, pertambangan itu ditutup karena produksinya tak lagi ekonomis, yang tinggal kini hanya lubang-lubang raksasa yang berair masam.

Kawasan rantau ini juga dicatat oleh sejarah dengan tinta emas sebagai sebuah negeri yang memiliki kebudayaan tinggi. Hal ini dibuktikan dengan peninggalan sejarah Kerajaan Melayu Riau Lingga, Kesultanan Siak Sri Indrapura, Kerajaan Pelalawan, Kerajaan Rokan, Kerajaan Indragiri, dan beberapa kerajaan kecil lainnya. Kesultanan-kesultanan itu meninggalkan banyak nama untuk dikenang. Tiga orang diantaranya telah dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional, yakni Raja Haji Fisabilillah, Tuanku Tambusai dan Sultan Syarif Kasim II. Masih ingat karya agung Gurindam Duabelas yang ditulis oleh Raja Ali Haji? Gurindam itu adalah salah satu diantara sekian banyak karya-karya sastra pujangga yang berasal dari tanah Melayu. Dan hipotesis bahwa bahasa Melayu menjadi lingua franca, bahasa yang dipergunakan dalam perdagangan antar pulau di nusantara ini pada abad ke-18 dan 19, terbukti dengan diakuinya bahasa Melayu sebagai cikal bakal Bahasa Nasional, Bahasa Indonesia.

Sejarah Melayu juga banyak mencatatkan kearifan kepemimpinan dalam perspektif budaya Melayu. Seorang pemimpin dalam arti luas di tengah masyarakat Melayu hanya didahulukan selangkah dan ditinggikan seranting. Ungkapan itu dengan tegas menunjukkan, bahwa antara pemimpin dengan rakyatnya jaraknya hanya sekadar "didahulukan selangkah dan ditinggikan seranting", sehingga mudah dijangkau dan dihubungi. Bahkan dalam ungkapan adat yang lain ditegaskan lagi, "jauhnya tidak berjarak, dekatnya tidak berantara." Dengan demikian akan terjalin hubungan yang akrab antara pemimpin dengan rakyatnya. Seorang pemimpin Melayu hanya memiliki dua tugas pokok, yakni memakmurkan rakyatnya dan memberi keteladanan. Dalam adat Melayu juga secara tegas dinyatakan, seorang pemimpin hendaklah bersifat taat dan setia. Taat terhadap hak dan kewajibannya serta setia terhadap petuah amanah, janji dan sumpahnya.

Selain sifat yang wajib dimiliki seorang pemimpin, ada pula sifat dan perilaku yang dipantangkan baginya, yang tak boleh dilanggar. Orang tua-tua mengatakan, "sifat elok sama dipegang, sifat buruk sama dipantang." Sifat-sifat yang dipantangkan itu adalah sifat buruk yang bertentangan dengan nilai-nilai agama, adat istiadat serta norma sosial masyarakat. Sesuatu yang dipantangkan itu, misalnya, seperti disebut ungkapan berikut:

"Beriman di mulut, hati berlumut, beriman di lidah hati menyalah." "Tamak harta mabuk dunia, loba pangkat, lupa akhirat, kemaruk puji lupa diri."

Bila larangan-larangan seorang pemimpin itu dilanggar, itu bermakna "melanggar benang hitam, melanggar pantangan, melanggar adat resam. Berurusan dengan penegak hukum, barangkali tak seberapa karena sanksinya acap kali tak membuat jera, tapi sanksi sosial, ibarat laut dalam kelam tak terduga.

kolom - Harian Vokal 26 Februari 2013
Tulisan ini sudah di baca 1212 kali
sejak tanggal 26-02-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat