drh. Chaidir, MM | Tong Setan | JUJUR kita tak pernah mengharapkan situasi yang kurang nyaman seperti ini. Kita memimpikan sebuah kehidupan yang sejahtera lahir batin, aman, damai, tenteram, semua serba mudah, dan terbebas dari tekanan, rasa takut dan sebagainya. Tapi kenyataan yang kita hadapi, dinamika kehidupan sehari-hari berl
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Tong Setan

Oleh : drh.chaidir, MM

JUJUR kita tak pernah mengharapkan situasi yang kurang nyaman seperti ini. Kita memimpikan sebuah kehidupan yang sejahtera lahir batin, aman, damai, tenteram, semua serba mudah, dan terbebas dari tekanan, rasa takut dan sebagainya. Tapi kenyataan yang kita hadapi, dinamika kehidupan sehari-hari berlangsung dalam tempo tinggi, seperti permainan sirkus tong setan, hingar bingar, sedikit saja kurang teliti atau kecepatan berkurang, sang pemain akan terjerembab.

Mungkin kita pernah menghadapi situasi yang lebih sulit, tapi kali ini beda, justru di tengah masyarakat yang kian maju dan kian terdidik. Partai-partai politik misalnya, yang menjadi aset bangsa dan umumnya bertekad menjadi partai modern sehingga dapat memberi kontribusi terhadap kehidupan demokrasi yang lebih baik, tersandera oleh berbagai masalah. Kepala daerah yang diharapkan menjadi ujung tombak percepatan pembangunan masyarakat terperangkap dalam jerat-jerat hukum.

Barangkali berlebihan untuk menyebut, kita adalah negeri yang terluka. Tapi kenyataannya memang demikian. Negeri ini seperti mengalami luka sosial, atau barangkali mengalami amnesia, yang menyebabkan kita kehilangan rasionalitas. Perselisihan dicari-cari dan dibuat-buat. Persoalan kecil dibesar-besarkan, persoalan besar diletupkan. Padahal normalnya, dalam kearifan budaya masyarakat kita, persoalan besar dikecil-kecilkan, persoalan kecil dihilangkan.

Mengapa kita tak lagi merasakan pedih yang sama dari luka yang sama? Jawabannya, karena kebebasan (libertas) tak bertepi yang kita adopsi membuat kita semakin menjauh dari semangat egaliter, perasaan sama sederajat, dan fraternitas, persaudaraan, yang menjadi ruh kehidupan demokrasi dalam sebuah negeri. Padahal semangat liberte, egalite dan fraternite, yang merupakan semboyan revolusi Prancis pada 1789 itu, yang mengilhami demokrasi di seluruh dunia, mestinya merupakan satu kesatuan yang saling memperkuat.

Masyarakat kita dewasa ini terpolarisasi secara ekstrim dalam dua kutub, sebagian terduduk murung pada satu bagian di sebuah sudut dengan pola pikir tradisional, dogmatis, enggan berubah, dan tentu saja tertinggal, sementara pada sisi lain berada kelompok orang-orang yang terdidik, pintar tetapi banyak yang tidak patuh (comply). Kelompok pintar dan tidak patuh ini umumnya memiliki kekuasaan. Mereka ini cenderung seenaknya. Dan mereka juga tergila-gila dengan kehidupan glamour, euphoria, dan seringkali hanyut dalam kehidupan semu (window dressing).

Kedua kutub tersebut harus didekatkan satu sama lain. Kubu yang seenaknya harus berlajar patuh terhadap aturan main, tidak tergiur untuk selalu menabrak rambu-rambu demi kepentingan pribadi atau kelompok secara berlebihan. Kelompok yang sudah maju jauh ini, harus mundur sedikit, jangan terlalu laju. Kelompok yang tertinggal harus mau diajak bangkit mendekat mendekat ke wilayah peradaban.

Bila semangat persaudaraan dan kebersamaan itu bisa kita bangun, mendayung perahu secara serempak, maka akselerasi pembangunan masyarakat akan tercipta. Tapi bila kita tak sependayungan, maka perahu tak akan sampai pada waktunya atau bahkan tak pernah sampai ke pelabuhan tujuan.

kolom - Riau Pos 25 Februari 2013
Tulisan ini sudah di baca 986 kali
sejak tanggal 25-02-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat