drh. Chaidir, MM | Berebut Panggung | PENGAMAT politik boleh gigit jari bila mereka mengharapkan sesuatu yang super heboh terjadi di Rapimnas Partai Demokrat, 17 Februari dua hari lalu di Jakarta. Kenyataannya, agenda tersebut berlangsung datar. Tidak ada pembelokan tajam sebagaimana spekulasi beberapa kalangan. Media cetak, elaktronik
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Berebut Panggung

Oleh : drh.chaidir, MM

PENGAMAT politik boleh gigit jari bila mereka mengharapkan sesuatu yang super heboh terjadi di Rapimnas Partai Demokrat, 17 Februari dua hari lalu di Jakarta. Kenyataannya, agenda tersebut berlangsung datar. Tidak ada pembelokan tajam sebagaimana spekulasi beberapa kalangan. Media cetak, elaktronik dan jejaring sosial pun pasti kecewa. Good news bad news, bad news good news. Kejadian baik buruk untuk berita, kejadian buruk baru berita.

Tingkah polah partai politik berebut panggung politik dalam beberapa pekan terakhir ini, menjadi sesuatu yang seksi untuk pemberitaan. Para pendekar politik tak kalah dari artis sinetron, ditunggu oleh pembaca dan penonton. Episode heboh di panggung itu bermula ketika tiba-tiba Hary Tanoesoedibjo mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Ketua Dewan Pakar Parta NasDem. Sebagaimana diberitakan berbagai media, mundurnya Hary Tanoe yang diikuti oleh loyalisnya di berbagai daerah, konon disebabkan akibat konflik antara CEO MNC grup ini dengan pemilik Metro TV Surya Paloh, Pendiri Partai NasDem. Tamat? Belum. Hanya beberapa saat kemudian pentolan Partai Golkar, Enggartiasto Lukito dan OC Kaligis keluar dari Partai Golkar dan langsung mempertontonkan jaket barunya: Partai NasDem.

"Penonton" masih terperangah ketika panggung berganti lakon. Kali ini, bak petir di siang bolong Presiden PKS, Luthfi Hasan Ishaak ditahan KPK karena dugaan keterlibatannya dalam bisnis impor daging sapi dari Australia. Orang nomor satu PKS yang membuat geger ini, langsung mengundurkan dari Presiden PKS . Beberapa petinggi PKS menuding penahanan Presiden PKS ini ditungganggi oleh kaum zionis dan penumpang gelap (free rider) lainnya. Pengalihan perhatian ini kelihatannya tak memperbaiki opini.

Namun PKS tak berlama-lama di panggung mempertontonkan lakonnya. Partai Demokrat seakan datang sebagai penyelamat dengan mengambil alih panggung. Lakon pun berganti cepat. Kali ini pemeran utamanya adalah SBY, Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat dan Anas Urbaningrum, Ketua Umum Partai Demokrat. Kisah bermula ketika Saiful Mudjani Research Center (SMRC) merilis hasil surveinya, dengan hasil yang kurang menggembirakan bagi Partai Demokrat. Beberapa orang Anggota Majelis Tinggi menuding Ketua Umum Anas Urbaningrumlah sebagai kambing hitamnya. Anas Urbaningrum memainkan lakonnya dengan tenang, kendati di bawah bayang-bayang ancaman tersangka oleh KPK. Posisi Anas Urbaningrum berada di ujung tanduk. Banyak pihak yang menduga, Rapimnas akan berubah menjadi ajang penurunan Anas dari posisi Ketua Umum Partai Demokrat. Tetapi hal itu tidak terjadi. Ketua Majelis Tinggi tidak menyinggung-nyinggung soal Kongres Luar Biasa. SBY menyampaikan dalam pidatonya, "Orang boleh kritik, adu domba, tapi kami akan serius berbenah diri. Saya yakin masa depan Partai Demokrat tetap cerah." Ujar SBY sebagaimana dikutip berbagai media. Bak gayung bersambut, Anas menyebut pidato SBY top. "Pidatonya sudah jelas, top. Beliau sudah sampaikan secara rinci, terang benderang, dan tidak perlu ada juru tafsir." Ujar Anas.

Lantas, bakal sepikah panggung politik kita? Belum. Partai Golkar sebelumnya sudah terlebih dulu meramaikan panggung dengan memberhentikan Indra Muchlis Adnan sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) I Golkar Riau, dan kemudian menyelenggarakan Musdalub di DPP Partai Golkar. Indra kemudian digantikan oleh Annas Maamun.

Partai Golkar masih berpotensi meramaikan panggung, ketika Wakil Ketua DPR RI Priyo Budi Santoso disebut-sebut ikut terlibat dalam proyek kasus korupsi Al-Quran. Dan Agung Laksono pula disebut-sebut kecipratan panasnya kasus korupsi PON Riau 2012. Dan last but not least, Presiden SBY secara lantang menyebut kasus lumpur Lapindo agar segera diselesaikan, kasihan rakyat yang jadi korban. Masyarakat pun mafhum boss besar di belakang perusahaan yang menimbulkan tragedi lumpur Lapindo itu adalah Aburizal Bakri, Ketua Umum DPP Partai Golkar. Ini sebenarnya sebuah borok lama.

Rasanya semakin mendekat ke tahun 2014, panggung politik kita akan semakin ramai. Siapa menyusul?

kolom - Harian Vokal 19 Februari 2013
Tulisan ini sudah di baca 863 kali
sejak tanggal 19-02-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat