drh. Chaidir, MM | Resam Partai | BELANTIKA politik tanah air dalam beberapa pekan terakhir ini, sarat dengan  resam partai politik.  Parpol-parpol besar-kecil tampil dengan kegenitan yang luar biasa berebut ruang publik. Wujudnya beraneka ragam. Secara umum gambarannya, partai politik kita belum bisa menempatkan diri sebagai sebuah
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Resam Partai

Oleh : drh.chaidir, MM

BELANTIKA politik tanah air dalam beberapa pekan terakhir ini, sarat dengan resam partai politik. Parpol-parpol besar-kecil tampil dengan kegenitan yang luar biasa berebut ruang publik. Wujudnya beraneka ragam. Secara umum gambarannya, partai politik kita belum bisa menempatkan diri sebagai sebuah institusi politik yang inklusif, yang menampung aspirasi masyarakat dan mendeteksi secara dini potensi dan gejala munculnya konflik dalam masyarakat.

Akibatnya dimana-mana terjadi bentrokan antar kelompok dalam masyarakat. Fungsi partai politik sebagai sarana pengendali konflik hampir tidak jalan sama sekali. Padahal mestinya salah satu fungsi partai politik itu adalah melakukan pengendalian konflik mulai dari perbedaan pendapat sampai pada pertikaian fisik antar individu atau kelompok. Fungsi partai politik sebagai corong masyarakat dan sekaligus sebagai telinga pemerintah, macet.

Banyak pengamat menyebut, partai politik kita gagal membangun partai modern yang sesungguhnya merupakan conditio sine qua non bagi penciptaan demokrasi yang berkualitas. Sebab, partai politik modern adalah sebuah partai politik yang tidak membangun figure centris, tetapi pada kekuatan institusi. Partai modern adalah sebuah partai yang terbuka, nonsektarian, nondiskriminatif, bersifat inklusif, egaliter, dan dalam hal penempatan kader selalu berdasarkan merit system, bukan karena kedekatan. Bila acuannya seperti Partai Demokrat dan Partai Republik di AS misalnya, maka partai modern itu mestilah menonjol dengan identitas. Bukan pada figur apalagi baliho. Presiden Partai Demokrat atau Presiden Partai Republik di AS misalnya, tidak pernah kita kenal. Kedua partai tersebut menempatkan Calon Presiden AS yang telah memenangkan Konvensi Nasional secara demokratis melalui perjuangan panjang di partai masing-masing sebagai pemimpin partai secara de facto bagi masing-masing partainya, dan dengan demikian biasanya menggiring para pendukung, yang pada gilirannya akan memilih calon-calon dari partainya untuk memasuki penugasan di pemerintahan.

Dalam perspektif partai modern di AS, partai terorganisasi secara lebih longgar. Dua partai besar (Demokrat dan Republik), secara khusus, tidak memiliki organisasi formal pada tataran nasional yang mengendalikan keanggotaan, kegiatan, atau posisi kebijakan, meski terdapat beberapa negara bagian yang melakukannya. Dengan demikian, bagi seorang Amerika untuk mengatakan bahwa dia adalah "anggota" Partai Demokrat atau Partai Republik, cukup hanya dengan mengatakan bahwa dia adalah orang Demokrat atau orang Republik. Hal itu berbeda dengan anggota Partai Buruh atau Partai Konservatif di Inggris.

Partai-partai politik besar kita selalu terperangkap dalam polarisasi kubu-kubu figure, bukan kubu-kubu mahzab atau kubu program. Sehingga, bila kutubnya rontok, maka pengikutnya bertumbangan.

Sesungguhnya, modern atau tradisional sebuah partai politik, tidaklah terlalu dipersoalkan. Sebab uji terakhir dari keberadaan sebuah partai politik, adalah apakah sebagai asset bangsa ia dapat atau tidak memberikan manfaat berupa peningkatan kesejahteraan dan keadilan pada rakyat yang diatasnamakannya.

kolom - Riau Pos 18 Februari 2013
Tulisan ini sudah di baca 781 kali
sejak tanggal 18-02-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat