drh. Chaidir, MM | Keruntuhan Dinasti | TIDAK ada yang baru di bawah matahari, begitu bunyi sebuah ungkapan Arab. Maksudnya, matahari yang bersinar hari ini adalah matahari yang itu-itu juga semenjak jagat raya ini ada. Dalam perspektif sejarah, secara hipotetis, ada yang meyakini sejarah berulang kembali, tapi ada juga mahzab yang meyaki
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Keruntuhan Dinasti

Oleh : drh.chaidir, MM

TIDAK ada yang baru di bawah matahari, begitu bunyi sebuah ungkapan Arab. Maksudnya, matahari yang bersinar hari ini adalah matahari yang itu-itu juga semenjak jagat raya ini ada. Dalam perspektif sejarah, secara hipotetis, ada yang meyakini sejarah berulang kembali, tapi ada juga mahzab yang meyakini sejarah tak pernah berulang kembali.

Seorang ilmuwan muslim besar Abad Pertengahan, Ibnu Khaldun, menarik dengan teorinya, tak ada yang istimewa dari sejarah jatuh bangun sebuah dinasti atau peradaban. Lebih jauh diuraikan dalam bukunya yang fenomenal "Muqaddimah" (sebagaimana dimuat www.wikipedia.org), Ibnu Khaldun menyebut, timbul tenggelamnya sebuah negara atau peradaban, terbagi dalam lima tahap. Pertama, tahap sukses atau tahap konsolidasi; pada tahap ini otoritas negara didukung oleh masyarakat yang berhasil menggulingkan kedaulatan dinasti sebelumnya. Kedua, tahap tirani; sayangnya pada tahap ini penguasa cenderung berbuat sekehendak hatinya. Penguasa senang mengumpulkan dan memperbanyak pengikut. Penguasa menutup pintu bagi orang lain yang bukan kelompoknya. Segala perhatian ditujukan untuk kepentingan mempertahankan dan memenangkan kekuasaan keluarganya. Ketiga, tahap sejahtera; ketika kedaulatan telah dinikmati. Keempat, tahap kepuasan hati; tenteram dan damai. Pada tahap ini, penguasa merasa puas dengan pencapaiannya dan segala sesuatu yang telah dibangunnya dan dibangun oleh pendahulunya. Tapa ini sering disebut masa keemasan. Kelima, tahap keemasan selalu diiringi dengan tahap hidup boros dan berlebihan; hawa nafsu dan keinginan bersenang-senang tak terkendali. Pada tahap ini, negara tinggal menunggu kehancuran.

Biasanya, sulit membendung sebuah peradaban atau dinasti yang sedang mengalami fase menuju ke masa keemasan, tetapi sudah menjadi kelaziman sejarah, semua dinasti yang berada di puncak masa keemasan, akan mengalami pembusukan-pembusukan. Pembusukan tersebut bukanlah berasal dari pihak luar, tapi berasal dari tubuh dinasti itu sendiri. Pembusukan itu bisa akibat pengaruh pendekatan kekerabatan dan ikatan darah dalam meraih kekuasaan, bisa akibat perilaku tirani atau kekuasaan yang sewenang-wenang, bisa juga akibat memprioritaskan orang-orang dekat daripada birokrat cakap.

Masa keemasan memang jadi masalah tersendiri bagi sebuah dinasti. Dalam buku lain, sesungguhnya sebuah novel, tetapi memuat pokok-pokok pikiran Ibnu Khaldun, "Ibnu Khaldun Sang Mahaguru" yang ditulis oleh Bensalem Himmish, seorang pemikir dan sastrawan Maroko, diuraikan pemikiran Sang Ilmuwan. Keruntuhan dinasti bermula ketika birokrasi yang semula efektif, karena diisi oleh birokrat yang ahli dalam bidangnya, kemudian digeser oleh orang-orang dekat, kroni dan famili, tetapi tidak memiliki keahlian. Akibatnya ladang-ladang pertanian yang tadinya subur dengan produksi bagus tidak lagi produktif. Orang-orang dekat dan famili diberi jabatan dan gaji besar, yang tentu saja memberatkan keuangan Negara.

Pemikiran Ibnu Khaldun tersebut sesungguhnya muncul pada abad pertengahan, lebih kurang enam abad lampau, tapi tetap relevan sampai sekarang. Di bawah matahari lingkaran setan itu selalu repetitif. Sejarah mencatat, sebuah dinasti lahir, tumbuh berkembang, mencapai masa keemasan, pembusukan, keruntuhan, dan selanjutnya hilang dari muka bumi. Tragis.

kolom - Riau Pos 11 Februari 2013
Tulisan ini sudah di baca 841 kali
sejak tanggal 11-02-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat