drh. Chaidir, MM | ISG : Ngeri-ngeri Sedap | EMPAT bulan lagi, tepatnya 6-18 Juni 2013, jutaan pasang mata akan kembali tertuju ke Bumi Lancang Kuning, Riau. Spektakuler atau minimaliskah kemasan suguhannya, itu soal lain. Sebab, peristiwa ini adalah pesta olahraga  Negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam atau yang dikenal dengan Isl
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

ISG : Ngeri-ngeri Sedap

Oleh : drh.chaidir, MM

EMPAT bulan lagi, tepatnya 6-18 Juni 2013, jutaan pasang mata akan kembali tertuju ke Bumi Lancang Kuning, Riau. Spektakuler atau minimaliskah kemasan suguhannya, itu soal lain. Sebab, peristiwa ini adalah pesta olahraga Negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam atau yang dikenal dengan Islamic Solidarity Games (ISG) III.

Diperkirakan 5.000 atlet dan ofisial dari 57 negara akan behimpun pepat di Riau. Hal itu dimungkinkan karena, sebagaimana disebut Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia, Rita Subowo, akan ada bantuan tiket gratis dari International Sport Solidarity Federation (ISSF) untuk 25 negara anggota, supaya bisa ikut ISG III tersebut (Kompas 25/1/2013).

Siapkah kita? Siap tak siap harus siap. Tak boleh ada yang lempar handuk. Saat ketika kita bisa balik kanan untuk memilih opsi tidak siap, sudah jauh terlewatkan. Sudah setahun lalu kita berada pada titik point of no return. Mau salah borongkah, tak ada cerita, tak boleh ada penyesalan. Apapun yang terjadi kita harus hadapi, apa yang terjadi terjadilah. Que sera sera.

Ngeri-ngeri sedap (maaf pinjam frasa Sutan Bhatugana). Itulah agaknya gambaran yang pas. Betapa tidak. ISG III, terlalu besar untuk diselenggarakan secara minimalis. Wajah Indonesia yang dikenal sebagai negeri muslim terbesar di dunia, dipertaruhkan oleh Riau. Padahal publik tahu, dana yang tersedia belum mencukupi. Lebih dari separuh pesertanya adalah atlet dan ofisial yang berasal dari Negara-negara kaya, yang sudah terbiasa dengan standar pelayanan mewah. Mereka bukan atlet dan ofisial PON yang bisa dibujuk untuk sabar dan berbasa-basi. ISG II di Iran (2009) misalnya, gagal hanya karena anggota ISG, tidak bisa menyatukan bahasa. Iran ngotot nama ajang diubah menjadi Persian Gulf Games, sementara Arab Saudi menolak dengan alasan, tidak semua anggota bermukim di Teluk Persia.

Secara internal pun kita sedang gundah gulana. PON 2012 telah berlangsung sukses dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Kesan peserta pada umumnya, Riau boleh! Tetapi semua tahu, PON 2012 juga meninggalkan beban psikologis. Banyak petinggi daerah yang terjerat hukum akibat ulah PON 2012 tersebut. Kondisi ini tentulah mengganggu pikiran dan membuat Riau tidak bisa optimal mempersiapkan ISG III. Dalam kondisi solid dan nyaman saja, kita belum tentu bisa menyelenggarakan ISG III secara sukses, apatah lagi bila sebaliknya.

Itu bagian yang 'ngeri-ngerinya', bagian sedapnya, masyarakat kita khususnya Riau akan menyaksikan langsung pertandingan-pertandingan internasional, sesuatu yang tidak termimpikan sebelumnya. Gubernur Rusli Zainal telah berjibaku mewujudkan impian itu jadi kenyataan. Dari segi galas-menggalas, ISG III, pasti meningkatkan omset masyarakat di daerah.

Tak ada pilihan lain, sebagai negeri Melayu, kita harus jadi tuan rumah yang baik. Tak ada rotan akar pun jadi, tak ada kayu api, jenjang dibelah. Asal tidak ada dusta diantara kita, masyarakat Riau akan rela bahu membahu dalam semangat kolektif, ke bukit sama mendaki ke lurah sama menurun. Ciyuuusss!!

kolom - Riau Pos 4 Februari 2013
Tulisan ini sudah di baca 785 kali
sejak tanggal 04-02-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat