drh. Chaidir, MM | Demam Partai | MENJELANG pemilu legislatif 2014 wabah demam partai semakin hebat melanda masyarakat. Sebenarnya, sudah sejak lama hampir tiada hari tanpa berita tentang partai politik (umumnya berita miring...ya iyalah, kalau tak miring tak jadi berita). Tapi akhir-akhir ini, gonjang-ganjing partai politik itu sem
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demam Partai

Oleh : drh.chaidir, MM

MENJELANG pemilu legislatif 2014 wabah demam partai semakin hebat melanda masyarakat. Sebenarnya, sudah sejak lama hampir tiada hari tanpa berita tentang partai politik (umumnya berita miring...ya iyalah, kalau tak miring tak jadi berita). Tapi akhir-akhir ini, gonjang-ganjing partai politik itu semakin dahsyat, apalagi setelah penetapan nomor undian parpol peserta pemilu 2014, pekan lalu.

Para pendukung masing-masing partai paling pintar kutak-katik nomor undian partainya. Kebetulan hanya ada sepuluh parpol peserta pemilu legislatif 2014, sehingga lebih mudah memberi makna. Maka, orang-orang partai memperoleh mainan baru, setiap angka dijadikan simbol. Mulai dari iklan kecap, iklan provider kartu telepon genggam, nomor jersey Cristiano Ronaldo, Messi, sampai pada jumlah rukun beribadah, dan sebagainya. Semua dibawa-bawa, dikait-kaitan dalam semangat propaganda. Semua meyakini, nomor yang mereka miliki akan membawa keberuntungan. Dan semua sudah tidak sabar menunggu pesta demokrasi 2014.

Dalam tataran ideal, sebenarnya tak ada yang salah dengan partai politik. Partai politik sering dicaci, tapi partai politik juga dicari. Apalagi menjelang pemilu legislatif. Benci tapi rindu, begitulah agaknya persepsi umum tentang parpol. Banyaknya anggota dewan yang terperangkap dalam kasus hukum, tak membuat jera masyarakat terhadap parpol. Sebab lintasan politik melalui parpol masih dianggap sebagai cara cepat untuk meraih impian. Memang banyak yang berhasil, yang membuat kehidupan seseorang berubah cepat, tetapi juga tidak sedikit yang gagal, dan berakhir di penjara. Ngeri-ngeri sedap (maaf pinjam frasa Surtan Batoegana).

Pemilu legislatif 2014 yang akan datang akan menjadi sedikit lebih sederhana, karena jumlah parpol yang akan bertanding hanya sepuluh parpol. Beda dengan Pemilu 1999 (48 parpol), Pemilu 2004 (24 parpol) dan pemilu 2009 (34 parpol). Banyak parpol pada satu sisi memberi kesan lebih demokratis, aspiratif dan akomodatif, tapi pada sisi lain menimbulkan instabilitas politik. Terlalu gaduh, hiruk pikuk, sehingga seringkali lalai terhadap flatform parpol itu sendiri yang pada umumnya ingin meningkatkan kesejahteraan bangsanya. Tidak adanya partai mayoritas di parlemen membuat perdebatan-perdebatan di parlemen kurang kondusif. Akhirnya program-progam pembangunan untuk kepentingan masyarakat luas terabaikan.

Demokrasi-pemilu-parpol adalah sebuah rangkaian yang tak bisa dipisahkan satu dengan lainnya. Demokrasi memerlukan pelaksanaan pemilu yang jujur dan adil untuk dapat disebut tegaknya system demokrasi. Pemilu memerlukan parpol. Belum dikenal adanya pemilu untuk memilih wakil di parlemen tanpa partai politik. Demokrasi disebut berjalan dengan baik bila pemilunya terselenggara secara berkualitas. Pemilu terselenggara dengan berkualitas bila partai politiknya tumbuh sehat dan wajar. Partai politik yang tumbuh dengan sehat dan wajar adalah parpol yang tidak matang dikarbit. Partai tersebut tumbuh secara alamiah melalui program pengkaderan yang tersusun dengan rapi. Partai politik modern memiliki platform yang jelas, dan memiliki kader-kader yang berkualitas. Kader yang berkualitas di tengah demam demokratisasi di seluruh dunia adalah kader yang memiliki akal sehat, mampu mengembangkan logika berpikir yang wajar.

Sayangnya, semua parpol berada dalam posisi dilematis. Tuntutan membesarkan partai sering berhadapan dengan kepentingan-kepentingan jangka pendek. Panggung politik kita acap kali dikotori oleh pertarungan elite, perebutan kekuasaan antar partai, korupsi di seluruh struktur negara dan perilaku buruk lain, seperti oligopoli dan politik dinasti. Segala cara digunakan untuk meraih kekuasaan meski mengorbankan idealisme dan dengan ongkos sosial yang tak sedikit. Agama, etnisitas dan ideologi menjadi komoditi yang laku untuk melanggengkan perseteruan dan upaya merebut kekuasaan. Saat ini muncul pula bentuk-bentuk ketegangan dan konflik politik yang berakar pada kecurigaan antar kelompok. Akibatnya sulit untuk saling mempercayayi. Komunikasi macet akibatnya orang sulit menerima sebuah perbedaan. Ruang-ruang public dipasung dengan kebohongan, rekayasa, demagogi dan bahkan kekerasan.

Pilihan kita untuk menerapkan sistem politik yang demokratis merupakan pilihan yang bukan tanpa alasan yang mendasar. Ungkapan Winston Churchill ini patut kita simak, "Democracy is the worst form of government except all the others that have been tried." Demokrasi bukan sistem pemerintahan terbaik, tetapi belum ada sistem lain yang lebih baik daripadanya. Jadi, partai politik akan selalu hadir di tengah kita.

kolom - Harian Vokal 29 Januari 2013
Tulisan ini sudah di baca 700 kali
sejak tanggal 29-01-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat