drh. Chaidir, MM |  Masih Adakah Partai Ideologi | BERITA politik paling heboh pekan lalu adalah mundurnya Hary Tanoesoedibjo sebagai Ketua Dewan Pakar Partai NasDem.  Kehilangan boss MNC Group yang merajai jagad penyebaran informasi media terintegrasi, televisi, online dan koran itu, tentu merupakan kerugian besar bagi Partai NasDem, apalagi mundur
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Masih Adakah Partai Ideologi

Oleh : drh.chaidir, MM

BERITA politik paling heboh pekan lalu adalah mundurnya Hary Tanoesoedibjo sebagai Ketua Dewan Pakar Partai NasDem. Kehilangan boss MNC Group yang merajai jagad penyebaran informasi media terintegrasi, televisi, online dan koran itu, tentu merupakan kerugian besar bagi Partai NasDem, apalagi mundurnya Hary Tanoe diikuti pula oleh loyalisnya dari pusat sampai ke daerah. Sebagaimana diberitakan berbagai media, Hary Tanoe mundur karena berbeda prinsip dengan Surya Paloh, pendiri Partai NasDem yang kemudian terpilih sebagai Ketua Umum Partai NasDem.

Namun, boleh disebut hanya dalam hitungan menit, kegalauan Partai NasDem berubah menjadi sukacita ketika dua pentolan Partai Golkar, Enggartiasto dan OC Kaligis keluar dari Partai Golkar dan mendeklarasikan diri bergabung dengan Partai NasDem. Siapa tak kenal Enggartiasto dan OC Kaligis? Enggar adalah salah seorang tokoh senior Partai Golkar yang sudah dua periode duduk di DPR, dan OC Kaligis juga tokoh senior Partai Golkar dan seorang pengacara terbilang di negeri ini.

Tak ada seorang pun yang bisa menghalangi Hary Tanoe, Enggar dan OC Kaligis, atau siapapun yang ingin pindah partai. Mereka adalah manusia merdeka yang punya hak politik. Dan apa yang mereka lakukan, sesungguhnya adalah puncak gunung es dari sebuah perubahan paradigma sifat dan orientasi partai politik pasca terbukanya keran politik di era Presiden Prof BJ Habibie, pada 1999. Banyaknya partai politik menyebabkan tidak ada perbedaan ideology yang sangat tajam antara satu parati dengan partai lainnya.

Sistem kepartaian multi partai yang longgar itu diklasifikasikan oleh Giovani Sartori sebagai sistem kepartaian pluralisme moderat. Perbedaan ideologi antara satu partai dengan partai lainnya tidak begitu tajam sehingga dapat saja para pedukung suatu partai berpindah dari partai yang satu ke partai lainnya. Kondisi ini berbeda dengan sistem multi partai pada pemilu 1955, ketika partai-partai terpolarisasi secara tajam. Perbedaan ideologi tersebut seringkali cukup fundamental sehingga sulit bagi pendukung partai yang satu untuk berpindah ke partai lainnya.

Bahkan sesungguhnya, ditinjau dari dari sifat dan orientasinya, parpol kita sekarang mengarah kepada jenis Partai Lindungan (Patronage Party), seperti Partai Republik dan Partai Demokrat di Amerika Serikat yang longgar. Bukan lagi Partai Ideologi (Partai Asas), yang memiliki ikatan ideologi partai yang sangat kuat. Partai Republik AS misalnya, selalu melindungi kepentingan para kapitalis dengan cara menurunkan pajak pendapatan, menghapuskan pajak, menghapuskan peraturan-peraturan pemerintah yang mengontrol kegiatan para kapitalis. Partai Demokrat mewakili kalangan sosialis. Partai Demokrat menginginkan campur tangan pemerintah lebih banyak ke urusan masyarakat, sekolah gratis, orang-orang miskin dan pengangguran ditunjang penuh oleh pemerintah, namun untuk semua hal ini Partai Demokrat membutuhkan dana, dan dana itu datangnya dari menaikkan pajak pendapatan yang pasti akan menekan kapitalis. Warga AS tidak perlu menjadi anggota salah satu partai untuk mengatakan dia adalah seorang demokrat atau republikan. Yang membedakan mereka adalah pola pikirnya.

Kita pun kelihatannya akan mengarah ke sana. Ideologi partai yang terlalu ketat tak akan pernah menjadikan sebuah partai menjadi besar dan modern.

kolom - 0
Tulisan ini sudah di baca 973 kali
sejak tanggal 28-01-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat