drh. Chaidir, MM | Selamat Tinggal Jakarta | GUBERNUR DKI Jakarta boleh datang dan pergi silih berganti.  Tapi 'makhluk' yang bernama banjir dan kemacetan lalu-lintas, tetap eksis. Ibarat penyakit menahun, belum pernah ada obat yang mangkus.  Dua 'makhluk' tersebut membuat Jakarta tak lagi menarik.  Kemacetan dan kesemrawutan lalu-lintas yang
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Selamat Tinggal Jakarta

Oleh : drh.chaidir, MM

GUBERNUR DKI Jakarta boleh datang dan pergi silih berganti. Tapi 'makhluk' yang bernama banjir dan kemacetan lalu-lintas, tetap eksis. Ibarat penyakit menahun, belum pernah ada obat yang mangkus. Dua 'makhluk' tersebut membuat Jakarta tak lagi menarik. Kemacetan dan kesemrawutan lalu-lintas yang terjadi setiap hari misalnya, telah membuat frustrasi warga ibu kota. Warga yang setiap hari harus bepergian sering mengeluh, usia mereka habis di jalan.

Kemacetan membuat jengkel, banjir menakutkan. Banjir Kali Ciliwung dan beberapa sungai lainnya yang melintasi Jakarta yang terjadi setiap tahun, telah menjadi horror bagi masyarakat ibu kota khususnya yang berdiam di sekitar bantaran sungai. Sungai-sungai di tengah kota, yang di negeri-negeri maju biasanya difungsikan sebagai dekorasi kota, sebagai tempat rekreasi, obyek wisata, restoran terapung dan sebagainya, menyenangkan, di Jakarta menjadi tempat buang sampah, kumuh dan menjadi monster yang menakutkan di musim penghujan. Sungai yang seharusnya menjadi 'darling' bagi kehidupan kota, justru berubah menjadi menjadi musuh.

Sebagai ibu kota, Jakarta sesungguhnya berfungsi sebagai etalase Negara, yang setiap saat harus dipoles menjadi semakin cantik menarik. Namun dalam satu dekade terakhir ini, kondisi Ibu Kota Jakarta justru tidak semakin membaik. Kemacetan lalu-lintas semakin menjadi-jadi. Semua jenis kendaraan seakan ingin berlomba memenuhi lebuh raya. Dulu,jalur khusus transjakarta dengan bus eksklusif dianggap akan mengurangi kemacetan, kenyataannya tidak demikian. Kebijakan 3 in 1 (three in one) untuk jalur-jalur tertentu pada jam sibuk, semula dianggap akan mengurangi kepadatan lalu-lintas, juga bukan solusi yang jitu. Konsep 3 in 1 diakal-akali oleh warga menjadi peluang, sehingga berkembanglah profesi jokey: penumpang ketiga.

Dalam tiga hari terakhir pekan lalu, terjadi banjir bandang di kawasan elit Jakarta (Jl MH Thamrin, Bundaran HI dan Jl Sudirman) akibat jebolnya Kanal Banjir Barat, di Menteng. Jakarta lumpuh. Sesungguhnya, banjir Jakarta terjadi setiap tahun. Betapa tidak, ada 13 sungai yang melintas di Jabodetabek, misalnya Kali Ciliwung, Kali Pesanggrahan, Kali Krukut, Kali Cisadane, dan seterusnya. Hujan di hulu, di kawasan Bogor dan sekitarnya akan mengirimkan airnya ke Jakarta melalui sungai-sungai tersebut. Harusnya tak ada masalah yang sangat serius bila sungai-sungai tersebut fungsional, bila kawasan hijau terbuka di Jakarta cukup, bila waduk-waduk serapan memadai, bila bantaran sungai tidak kehilangan fungsinya, bila sungai dan saluran-salurannya tidak dipenuhi sampah, bila air laut tidak terlalu tinggi sehingga menahan air menuju muara. Tapi sayangnya, aspek-aspek tersebut semua sudah tidak terpenuhi. Rasanya akan sangat sukar kita mengharapkan Jakarta berkembang duduk sama rendah berdiri sama tinggi dengan ibu kota Negara-negara maju lainnya.

Walaupun Gubernur Jokowi dan Wagub Ahok menyimpan banyak jurus jangka menengah dan jangka panjang bersama pemerintah pusat untuk mengatasi kemacetan dan banjir Jakarta, warga sudah terlanjur pessimis. Warga Jakarta sudah menderita dan frustrasi terlalu lama menghadapi masalah tersebut. Kuncinya bukan pada kemampuan Jokowi-Ahok, tetapi alam Jakarta itu sendiri yang sudah tidak lagi memiliki daya dukung. Tersedia pun anggaran, belum tentu Jakarta bisa dibenahi secara masuk akal.

Sebagai sebuah negeri yang memiliki peradaban, tak sepantasnya ibu kota Negara disibukkan mengurusi permasalahan-permasalahan dunia ketiga seperti kemacetan lalu-lintas, banjir, puluhan ribu pengungsi yang hidup merana di tenda, daerah kumuh, sungai yang kotor, dan sampah kota, sehingga para pemimpinnya harus blusukan setiap hari.

Namun bukan berarti Jakarta dibiarkan tenggelam, Jakarta harus diselamatkan, tapi serahkan saja itu kepada ahlinya untuk mencari teknologi canggih yang bisa membuat warga Jakarta hidup lebih mudah. Ibu kota Negara dipindahkan ke suatu tempat yang nyaman, yang memungkinkan para pemimpinnya mengembangkan kemampuan berpikir strategic membawa bangsanya maju dalam masyarakat dunia yang berubah cepat. Selamat tinggal Jakarta.

kolom - Harian Vokal 22 Januari 2013
Tulisan ini sudah di baca 720 kali
sejak tanggal 22-01-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat