drh. Chaidir, MM | Water Boom Raksasa | BANJIR bukan mainan dan bukan untuk dipermainkan. Tapi berdiri bersama ratusan orang yang menonton banjir di perempatan Jl MH Thamrin - Jl KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat (di depan Sarinah), kesan banjir jadi mainan dan jadi tontonan, tak terhindarkan. Sekelompok remaja tanggung terlihat gembira berm
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Water Boom Raksasa

Oleh : drh.chaidir, MM

BANJIR bukan mainan dan bukan untuk dipermainkan. Tapi berdiri bersama ratusan orang yang menonton banjir di perempatan Jl MH Thamrin - Jl KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat (di depan Sarinah), kesan banjir jadi mainan dan jadi tontonan, tak terhindarkan. Sekelompok remaja tanggung terlihat gembira bermain air, sebagian menawarkan jasa gerobak dorong sebagai rakit penyeberangan, sebagian lainnya menggunakan ban bekas. Penjual jasa dan pengguna jasa terlihat ketawa-ketawa, seperti mereka bermain di water boom raksasa. Di layar kaca kemudian, juga terlihat betapa masyarakat yang terkena banjir menyambut dengan sorak-sorai kehadiran artis Jupe yang ikut berendam memberikan pertolongan.

Beberapa foto saya kirim kepada teman-teman. Responnya, saya malah ditertawai karena terkepung banjir di ibu kota. Kawasan Jalan MH Thamrin, Bundaran Hotel Indonesia, Jalan Sudirman, yang merupakan pusat kota dan jantung bisnis di Jakarta, kali ini memang lumpuh total terendam banjir. Transportasi Jakarta lumpuh. Mobil penjemputan saya terjebak di bundaran HI, tak bisa datang, taksi yang terkurung di hotel tak bisa pula keluar. Tamat sudah, game over. Maka, seharian tak ada pilihan lain, hanya tidur, nonton televisi, dan sesekali menyaksikan dari jendela beberapa truk tentara dan polisi hilir-mudik mengangkut masyarakat yang terkurung banjir. Kapan penyakit menahun ini sembuh?

Banjir Jakarta 2013 ini menjadi dramatis karena banjir tidak hanya menerjang kawasan kumuh di seputar bantaran sungai, tapi juga, seakan berunjuk rasa, sampai ke bundaran Hotel Indonesia, Jl MH Thamrin, Jl Sudirman, malahan tanpa basa-basi air bah juga menggenangi Istana Negara, sehingga Presiden SBY harus menggulung kaki celana. Banjir juga seakan unjuk kebolehan memberi "warning" pada tahun pertama kepemimpinan Gubernur Jokowi. Tidak hanya itu, kali ini banjir mempermalukan bangsa Indonesia, karena saat bersamaan, Istana Negera sedang menerima Tamu Negara Presiden Argentina Cristina Elisabet Fernandez De Kirchner dan Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe. Tamu kita tentu tidak akan bertanya perihal banjir, tapi dalam hati mereka akan bertanya-tanya, mengapa ibukota Negara tak berdaya?

Setiap tahun Jakarta tak pernah sepi dari bencana banjir. Setiap tahun kita selalu berurusan dengan tanggap darurat. Pemerintah, TNI dan POLRI selalu siap sedia melakukan evakuasi, memberi bantuan makanan, minuman, fasilitas kesehatan, dan tenda-tenda penampungan korban banjir yang terpaksa diungsikan. Hari Kamis (17/1) beberapa hari lalu misalnya, berita running text juga menyebut, TNI memperbantukan dua detasemen KOPASSUS dan 42 truk untuk proses evakuasi korban banjir, TNI-AL menyiapkan enam kompi pasukan dan 52 perahu karet. Mereka juga kemudian bekerja keras siang-malam memperbaiki kanal yang jebol, didukung dengan dapur umum. Sungguh luar biasa. Musibah selalu menjadi perekat kebersamaan. Sayangnya setelah musibah berlalu, kebersamaan sering salah jalan.

Padahal, tanggap darurat saja belum cukup. Ke depan banjir Jakarta harus diurus serius. Ibu kota Negara mungkin bebas banjir bila dipindah, tetapi Jakarta terlalu besar untuk dibiarkan tenggelam. Atau, kalau kita tidak bisa mengalahkan sungai-sungai yang mengaliri Jakarta itu, kita berdamai sajalah, pelihara baik-baik, jadikan sahabat untuk dinikmati semusim dalam setahun sebagai water boom raksasa.

Tentang Penulis : http://drh.chaidir.net
---------

kolom - Riau Pos 21 Januari 2013
Tulisan ini sudah di baca 1004 kali
sejak tanggal 21-01-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat