drh. Chaidir, MM | Jangan Patah Arang | Tidak perlu menunggu satu tahun, enam bulan pun belum. Kini kepemimpinan Gubernur-Wakil Gubernur DKI Jakarta Jokowi-Ahok, yang dinilai fenomenal oleh banyak kalangan, sudah mulai menampakkan riak-riak resistensi. Beberapa pendukung yang semula antusias bersuara lantang memberi dukungan, mulai menamp
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Jangan Patah Arang

Oleh : drh.chaidir, MM

Tidak perlu menunggu satu tahun, enam bulan pun belum. Kini kepemimpinan Gubernur-Wakil Gubernur DKI Jakarta Jokowi-Ahok, yang dinilai fenomenal oleh banyak kalangan, sudah mulai menampakkan riak-riak resistensi. Beberapa pendukung yang semula antusias bersuara lantang memberi dukungan, mulai menampakkan ketidaksabarannya.

Kemacetan parah berhari-hari, belum menampakkan tanda-tanda berkurang. Sitawar sidingin yang mangkus secara instan belum ditemukan. Sebenarnya bukan tidak ada upaya dari Jokowi-Ahok. Beberapa gagasan sempat dilontarkan ke publik, seperti misalnya, pengkajian kembali monorail, mass rapid transport, penambahan armada transportasi umum, sampai pada ide genap-ganjil. Semua kendaraan bermotor secara bergantian akan menggunakan hari. Bila hari pertama, yang diizinkan semua kendaraan yang berpelat nomor ganjil, hari berikutnya yang diizinkan kendaraan-kendaraan yang berpelat nomor genap, demikian seterusnya. Secara matematik, separuh kendaraan bermotor setiap hari akan hilang dari ruas-ruas jalan yang selama ini menjadi ladang kemacetan.

Konon, setiap hari Pres SBY dan Wapres Boediono, akan bergantian saling menumpang kendaraan, karena pelat nomor mobil Pres SBY, 'Indonesia 1' pastilah bernomor ganjil, sedang mobil Wapres Boediono bernomor 'Indonesia 2'. Ada saja plesetannya. Tetapi tentu saja, ide ganjil-genap tersebut tidak salah. Secara sederhana, Jokowi-Ahok tinggal membenahi system tranpostasi publik dengan menambah dan memperbaiki kualitas kendaraan umum seperti bus-bus kota, bus khusus TransJakarta, kereta api, dan sebagainya. Bila kendaraan-kendaraan umum tersebut cukup tersedia, rapi bersih, patut dinaiki oleh orang patut-patut yang ke kantor berjas dan berdasi, seperti di luar negeri, kenapa tidak? Lambat laun kita akan terbiasa dengan system tersebut.

Banjir juga menjadi penyakit menahun yang belum ada obatnya, baik secara modern maupun dengan cara pengobatan alternative. Banjir kiriman tersebut tak peduli siapa yang menjadi Gubernur DKI, kendati 'darling' masyarakat seperti Jokowi-Ahok sekalipun. Mereka akan tetap mempermalukan sang pemimpin, siapa pun.

Dalam dimensi yang berbeda, Walikota-Wakil Walikota Pekanbaru Firdaus-Ayat, seakan tak berdaya menghadapi pedagang K-5 yang ogah ditertibkan. Siapa mengatur siapa, jadi kabur. Akhir-akhir ini, pedagang K-5 tersebut secara demonstratif menggelar barang galasannya di depan Gedung DPRD Kota Pekanbaru, bahkan juga di Jalan Diponegoro, di ruas di depan Balai Adat Riau. Padahal sudah ada PERDA yang mengatur tentang Predagang K-5 ini. Tapi PERDA tinggal PERDA, bahkan ada oknum Anggota DPRD Kota Pekanbaru sendiri, yang barangkali karena pencitraan politik, mengenyampingkan PERDA tersebut.

Sampah kota juga menjadi masalah sangat serius bagi Firdaus-Ayat. Sampah kota seakan menjadi never ending problem, tidak ada habis-habisnya sepanjang masa. Walikota Pekanbaru boleh ganti berganti, tetapi masalah persampahan tetap belum teratasi.

Isu-isu populis seperti kemacetan, banjir, pedagang K-5, sampah kota, adalah isu yang paling banyak diperjanjikan oleh Jokow-Ahok di Jakarta, dan Firdaus-Ayat di Pekanbaru. Sesungguhnya Kepala Daerah ini bukan tidak punya konsep terhadap penanggulangan penyakit menahun tersebut. Tetapi yang namanya konsep, pelaksanaannya tidaklah semudah meniup lampu aladin, sim salabim abrakadabra langsung jadi. Masalahnya, masyarakat kita sudah tidak sabar.

Tidak mudah memetakan ekspektasi masyarakat terhadap pemimpinnya. Presiden AS ke-16 Abraham Lincoln, benar ketika mengungkapkan kegalauannya. What the government want is to have done, what the people desire is to get done. Apa yang saya inginkan, semua target pekerjaannya selesai, tetapi apa yang dikehendaki oleh masyarakat adalah mendapatkan semua yang mereka inginkan. Cepat menjadi kaya, cepat menjadi sejahtera. Begitu Jokowi-Ahok duduk, banjir harus hilang, kemacetan harus tuntas. Begitu Firdaus-Ayat dilantik K-5 harus langsung teratur dan sampah kota harus langsung bersih.

Asal konsepnya jelas, dan disosialisasikan dengan baik, tak ada alasan kita untuk patah arang. Ciyuuuss!!

kolom - Harian Vokal 15 Januari 2013
Tulisan ini sudah di baca 727 kali
sejak tanggal 15-01-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat