drh. Chaidir, MM | Bakar Kelambu | AMERIKA Serikat mengakui secara terang-terangan, sektor pendidikannya pernah mengalami krisis hebat. Hal tersebut terungkap dalam dokumen  A Nation at Risk (1982) dan The Learning Gap (Stevenson & Stighler, 1994), serta beberapa dokumen lain, yang diangkat sebagai ilustrasi sangat menarik oleh Prof
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Bakar Kelambu

Oleh : drh.chaidir, MM

AMERIKA Serikat mengakui secara terang-terangan, sektor pendidikannya pernah mengalami krisis hebat. Hal tersebut terungkap dalam dokumen A Nation at Risk (1982) dan The Learning Gap (Stevenson & Stighler, 1994), serta beberapa dokumen lain, yang diangkat sebagai ilustrasi sangat menarik oleh Prof Dr Dedi Supriadi dalam bukunya "Mengangkat Citra dan Martabat Guru" yang diterbitkan oleh Adicita Karya Nusa, Yogyakarta (1999).

Dalam dokumen tersebut Amerika Serikat disebutkan mengakui: (a) dibandingkan dengan Negara-negara maju yang lain, selama 10 tahun terakhir, skor yang dicapai oleh siswa Amerika pada 19 mata pelajaran yang diteskan tidak pernah menempati peringkat pertama atau kedua, dan prestasi akademis mereka telah menjadi yang terendah dibandingkan dengan rekan-rekannya di Negara-negara maju lainnya; (b) prestasi tes siswa pada mata pelajaran bahasa, sains, dan matematika terus menurun sejak tahun 1960-an; (c) sebanyak 23 juta orang dewasa AS mengalami buta huruf fungsional; meskipun mereka lulus SD, mereka tak mampu memahami bacaan yang sederhana sekalipun.

Ditulis Prof Dedi Supriadi, masih ada selusin bukti empiris mengenai kelemahan pendidikan AS yang dikemukakan dalam laporan tersebut, yang mengancam masa depan bangsa itu. Penulis laporan tersebut sebagaimana dikutip Supriadi, menyebutkan, "What is unimaginable a generation ago has begun to occur; others are matching and surpassing our educational attainments." (Apa yang tidak pernah terbayangkan satu generasi yang lalu telah mulai terjadi; prestasi pendidikan Negara-negara lain melampaui prestasi pendidikan kita).

Di awal millennium ini, AS kemudian mencanangkan program America 2000, yang tujuannya adalah mengangkat kembali mutu pendidikan AS yang babak belur dan dilampaui oleh Negara-negara pesaingnya di Eropa dan Asia.

Mengamati kecenderungan pendidikan di sejumlah Negara, akhir-akhir ini selalu menarik. Masyarakat Negara maju rupanya tak puas jika hanya berbicara tentang mutu pendidikan pada lingkup negaranya, melainkan selalu membandingkan dengan mutu pendidikan Negara-negara lain.

Sejatinya, pembaruan pendidikan selalu dikaitkan dengan adanya tantangan kebutuhan dan perubahan masyarakat. Oleh karena itulah dikenal adanya pendekatan link and match, ada kesesuaian antara kebutuhan industri (pasar) dengan program pendidikan. Mau tidak mau pendidikan harus dirancang mengikuti irama perubahan tersebut, kalau tidak pendidikan akan ketinggalan. Malaysia misalnya, telah melakukan reformasi pendidikan, karena ada tuntutan perubahan. Sekolah-sekolah internasional di Malaysia berkembang pesat, dan suka atau tidak, pendidikan negeri itu kini selangkah berada di depan.

Kita? Dengan alasan pelanggaran konstitusi, Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional RSBI/SBI dibubarkan. Konstitusi sebuah negeri agaknya tidak memberi peluang bagi anak-anak negeri yang memiliki talenta hebat untuk memasuki sekolah-sekolah yang dipersiapkan secara khusus. Maka ke depan, orang-orang yang mampu akan memilih menyekolahkan anaknya ke luar negeri. Sementara bangsa kita terjebak dalam kedunguan kolektif, bakar kelambu, dan mengembalikan penyeragaman sebagai ukuran nasionalisme.

kolom - Riau Pos 14 Januari 2013
Tulisan ini sudah di baca 757 kali
sejak tanggal 14-01-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat