drh. Chaidir, MM | Rancak di Lebuh | APBN dan APBD seakan menjadi cermin wajah kita:
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Rancak di Lebuh

Oleh : drh.chaidir, MM

APBN dan APBD seakan menjadi cermin wajah kita: "rancak di lebuh." Lagak seperti orang kaya, tetapi kenyataannya tidak demikian. APBN 2013 berjumlah Rp 1.683 triliun. APBD Riau 2013 (contoh kasus) berjumlah Rp 8,14 triliun. Jumlah tersebut meningkat dari APBN 2012 Rp 1.311 triliun dan APBD Riau 2012 Rp 6,367 triliun.

Jumlah anggaran untuk Riau tahun 2012 tersebut, masih ditambah dengan anggaran yang berasal dari APBN untuk instansi vertikal dan program pusat di Riau (yang dikenal dengan istilah DIPA) sebesar Rp 14,65 triliun. Cukup? Belum. Masih ada APBD kabupaten/kota. Rata-rata dihitung Rp 1,5 triliun saja per kabupaten/kota, jumlahnya mencapai Rp 18 triliun untuk 12 kabupaten/kota. Berarti total anggaran yang dibelanjakan di Riau pada 2012 berjumlah Rp 39,017 triliun. Artinya, di atas kertas, anggaran yang sudah dibelanjakan tahun lalu di Riau, jumlahnya cukup besar.

Pertanyaannya (maaf membuat pertanyaan analog dengan pertanyaan Albert Einstein suatu ketika, terhadap esensi ilmu), mengapa anggaran yang demikian besar, yang mestinya bisa membikin hidup lebih mudah, hanya membawa kebahagiaan yang sedikit kepada kita? Jawabannya, sederhana, seperti juga jawaban Albert Eisnstein, karena kita belum lagi belajar bagaimana menggunakannya secara wajar. Dalam kaitannya dengan APBN dan APBD itu, kita sebetulnya kaya tetapi tidak pandai membelanjakannya secara wajar. Yang patut dibangun tak dibangun, yang tak patut dibangun, dibangun. Kita kaya tapi compang-camping.

APBN 2012

Jumlah APBN 2012 Rp 1.311 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp 300 triliun lebih ditransfer ke daerah. Sisanya untuk belanja pemerintah pusat, yang digunakan untuk subsidi BBM sampai akhir 2012 sebesar Rp 216,7 triliun, belanja pegawai Rp 212 triliun, bayar bunga utang Rp 113 triliun, dana bansos Rp 47 triliun, subsidi pangan, pupuk, benih dan sebagainya. Pengeluaran untuk itu saja sudah lebih dari separuh dana yang tersedia untuk belanja pemerintah pusat. Sebagian sisanya tidak terpakai karena rendahnya daya serap di kementerian dan lembaga pemerintah pusat.

Bila diasumsikan rata-rata daya serap mencapai 80 persen dari anggaran yang tersedia untuk belanja pemerintah pusat, maka anggaran yang terserap lebih kurang Rp 800 triliun. Dalam jumlah ini sudah termasuk subsidi energy (BBM dan listrik), belanja pegawai, bunga utang, dana bansos, subsidi pangan, subsidi pupuk, dan sebagainya. Akibatnya, dana yang terserap untuk membiayai berbagai kegiatan di seluruh kementerian dan lembaga (yang wilayah kerjanya Sabang-Merauke), jumlahnya tinggal sekitar Rp 200 triliun. Jumlah yang terakhir ini tentu masih harus dikurangi dengan jatah mafia anggaran dan pajak preman, upeti, dan sebagainya. Jadi, APBN kita nampaknya besar, tapi banyak belanja yang tak terkait langsung dengan peningkatan kesejahteraan rakyat seperti pembangunan infrastruktur, yang diamanatkan konstitusi.

APBD Riau 2012

APBD Riau 2012 berjumlah Rp 6,367 triliun. Dari jumlah tersebut, sebanyak Rp 3,194 triliun diperuntukkan bagi belanja pegawai dan belanja barang, sedangkan belanja modal mencapai Rp 3,173 triliun. Sayangnya, jumlah Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SILPA) 2012 jumlahnya sangat besar, yakni mencapai Rp 1,834 triliun (Harian Vokal, 4/1/2013 halaman 1). Artinya, dari APBD sejumlah Rp 6,367 triliun, yang tidak terpakai adalah Rp 1,834 triliun. Jumlah SILPA APBD Riau 2012 tersebut terlalu signifikan untuk diabaikan. Kita tidak tahu secara persis SILPA itu berasal dari pos yang mana, dari belanja pegawaikah atau dari belanja modal atau dari kedua-duanya. Biasanya untuk kepentingan "window dressing" (make-up, bedak) laporan keuangan, belanja pegawai dihemat juga serba sedikit, kendati sebetulnya cenderung untuk jorjoran menghabiskannya di akhir tahun anggaran. SILPA terbesar kelihatannya tetap dari belanja modal karena perencanaan yang kurang matang.

Dengan jumlah SILPA yang demikian besar, APBD Riau 2012 tidak banyak memberi kontribusi bagi peningkatan kesejahteraan rakyat, karena dari jumlah yang tersisa setelah dikurangi SILPA, harus dialokasikan pula untuk helat PON XVIII di Riau yang menuntut anggaran dalam jumlah besar karena bantuan pusat tak sesuai harapan. Memang tidak dipungkiri, banyak proyek-proyek mercusuar megah, tetapi seribu kilometer jalan yang menjadi urat nadi perekonomian masyarakat berada dalam keadaan rusak berat.

Adakah harapan terhadap APBD Riau 2013 yang berjumlah Rp 8,363 triliun? Rasa-rasanya masih tetap rancak di lebuh. APBD Riau 2013 besar, tetapi para pengamat menyebut banyak anggaran siluman (Harian Vokal 22/12/2012 halam 1), termasuklah misalnya anggaran untuk pembangunan tugu PON, tugu bahasa, ISG, dan beberapa proyek mercusuar lainnya. Tak jera-jera.

kolom - Harian Vokal 8 Januari 2013
Tulisan ini sudah di baca 775 kali
sejak tanggal 08-01-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat