drh. Chaidir, MM | Blusukan Presiden | BLUSUKAN dipopulerkan oleh insan pers untuk memberi nama terhadap kelasakan Gubernur DKI Jakarta, Jokowi, keluar masuk kampung kumuh yang jarang dikunjungi atau tidak disukai untuk didatangi kebanyakan orang. Aksi blusukan tersebut merupakan langkah nyata Gubernur Jokowi untuk melihat secara langsun
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Blusukan Presiden

Oleh : drh.chaidir, MM

BLUSUKAN dipopulerkan oleh insan pers untuk memberi nama terhadap kelasakan Gubernur DKI Jakarta, Jokowi, keluar masuk kampung kumuh yang jarang dikunjungi atau tidak disukai untuk didatangi kebanyakan orang. Aksi blusukan tersebut merupakan langkah nyata Gubernur Jokowi untuk melihat secara langsung kondisi masyarakat ibukota, warganya.

Awal 2013 ini, istilah blusukan menjadi sangat populer setelah Presiden SBY turun incognito ke Kampung Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk Naga, Tangerang Banten, Jumat (4/1) beberapa hari lalu. Kegiatan Presiden SBY ini langsung menjadi berita hangat dan mendapat tanggapan dari berbagai pihak, karena dianggap meniru blusukan Gubernur Jokowi. Namun demikian dari berbagai komentar di media konvensional dan media sosial, blusukan presiden umumnya dipandang sangat positif. Budayawan dan sastrawan Goenawan Mohamad, misalnya, berkicau melalui akun twitternya @gm_gm: "Tak perlu melihat apa yang mendorong seorang pemimpin 'blusukan'. Yang perlu dilihat apa dampaknya bagi rakyat."

Goenawan Mohamad benar. Blusukan adalah salah satu cara yang ampuh untuk membangun komunikasi antara pemimpin dengan rakyat yang dipimpinnya. Pemimpin memang harus sering-sering mendengar dan menyapa langsung rakyatnya, tidak melulu melalui acara seremonial. Blusukan tidak salah. Tidak hanya tersebab komunikasi akan berlangsung wajar tanpa basa-basi, tetapi blusukan juga tidak menimbulkan beban biaya yang besar seperti kalau acara tatap muka atau pertemuan diadakan secara seremonial dan protokoler. Acara seremonial memerlukan seperangkat kepanitiaan, lengkap dengan seragam panitia, juga konsumsi yang berlebihan, tenda terbaik, kursi dan sofa untuk tamu-tamu VIP, sound system, umbul-umbul, spanduk, baliho, honor petugas keamanan, pembawa acara, pengerahan massa, dan seterusnya, dan seterusnya. Blusukan tidak memerlukan itu semua, tidak ada basa-basi tapi kaya substansi.

Tetapi gaya blusukan agaknya tidak akan disukai oleh pemimpin yang bermental penguasa, yang selalu menyukai gaya glamor, posisi hubungan tuan dan hamba. Sebab blusukan lebih banyak bernuansa egaliter. Seorang pemimpin yang rendah hati tak keberatan blusukan dan berbaur dengan kalangan bawah yang berbau apak, berbincang dan berjabat tangan dengan masyarakat di kampung yang kumuh, atau bahka menggendong bayi-bayi yang berselesma di hidungnya.

Blusukan memang belum akan menyelesaikan masalah secara mendasar dan instan, apalagi permasalahan yang dihadapi masyarakat demikian banyak yang kronis. Tetapi komunikasi langsung membuat sebagian beban penderitaan rakyat terasa ringan, karena di sana ada pengharapan dan penghargaan. Rakyat 'diwongke', karena mereka didatangi oleh pemimpinnya, dan didengar secara langsung.

Sesungguhnya, tidak hanya pemimpin yang harus mempersiapkan diri menyambut gaya blusukan yang kelihatannya akan menjadi populer. Masyarakat sendiri juga harus mempersiapkan diri, jangan pula diberi hati minta jantung. Bila semua tahu menempatkan diri, saling menghargai dan menjaga sopan santun, itulah masyarakat madani yang kita idam-idamkan, ketika rakyat kecil bisa bicara langsung dengan presidennya tanpa sekat dalam semangat persamaan, persaudaraan, dan saling menghargai. Amboi.

kolom - Riau Pos 7 Januari 2013
Tulisan ini sudah di baca 795 kali
sejak tanggal 07-01-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat