drh. Chaidir, MM | Masyarakat PARNO | MENGAPA ayam menyeberang jalan? Bila itu ditanyakan kepada filsuf Plato, maka sang filsuf akan menjawab bijak: untuk mencari  kebaikan yang lebih baik. Bila ditanyakan kepada Aristoteles, murid Plato, sang murid akan bilang: karena merupakan sifat alami dari ayam. Yang mengejutkan adalah, ketika per
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Masyarakat PARNO

Oleh : drh.chaidir, MM

MENGAPA ayam menyeberang jalan? Bila itu ditanyakan kepada filsuf Plato, maka sang filsuf akan menjawab bijak: untuk mencari kebaikan yang lebih baik. Bila ditanyakan kepada Aristoteles, murid Plato, sang murid akan bilang: karena merupakan sifat alami dari ayam. Yang mengejutkan adalah, ketika pertanyaan itu diajukan kepada masyarakat yang mengalamai gejala paranoid. Jawaban Presiden George W. Bush agaknya mewakili: kami tidak peduli kenapa ayam itu menyeberang! Kami cuma ingin tahu apakah ayam itu ada di pihak kami atau tidak, apa dia bersama kami atau melawan kami. Tidak ada pihak tengah di sini!

Bangsa kita pernah mengalami era ketika hampir setiap saat kita selalu dihantui perasaan ketakutan dituduh anti revolusi atau anti pembangunan nasional, siapa kawan siapa lawan, diantara kawan ada lawan. Mata-mata ada dimana-mana. Pada suatu masa, masyarakat tersugesti oleh bahaya Ancaman Tantangan Hambatan dan Gangguan (ATHG). Stempel musuh masyarakat, antek nekolim, ekstrim kanan, ekstrim kiri, cukup menakutkan. Akibatnya, masyarakat terkondisikan untuk selalu berada dalam kewaspadaan nasional yang tinggi, bahkan terkesan paranoid. Kondisi tersebut tentu saja terbentuk akibat pengalaman sejarah masa lalu.

Peristiwa demi peristiwa berpotensi mengancam kehidupan berbangsa, bernegara, dan juga keutuhan masyarakat. Setiap kejadian selalu dilihat dan dikaitkan dalam perspektif ATHG. Oleh karena itu semuanya harus aman, tertib, dan tidak boleh gaduh. Persatuan diukur dengan keseragaman. Sebuah interupsi dalam sidang parlemen misalnya, akan berbuntut panjang. Pelaku interupsi akan diselidiki secara terbuka dan tertutup, siapa dia, apakah dia berada dipihak kawan atau lawan, bagaimana latar belakang pekerjaan dan keluarganya, dan seterusnya dan seterusnya.

Kondisi masyarakat paranoid seperti itu sudah berlalu, namun bukan berarti sembuh total. Seperti halnya virus flu burung, semula dikenal hanya tipe H5N1, dan kini muncul virus baru sub-tipe H5N1 clade 2321, gejala paranoid masyarakat pun berubah. Kondisi sosiologis masyarakat sudah berubah banyak. Masyarakat tidak lagi takut dituduh anti pemerintah, subversif, ekstrim kanan, ekstrim kiri, bahaya laten, dan sebagainya. Bahkan masyarakat sudah mulai berani menyandera aparat penegak hukum. Masyarakat agaknya paranoid dengan kondisi persaingan ekonomi yang sangat brutal. Sumber daya ekonomi berupa sumber daya alam semakin terbatas sementara yang memperebutkannya semakin banyak. Banyak yang merasa takut kalah bersaing sehingga tidak mendapat bagian untuk kelangsungan hidup mereka dan keluarganya.

Perlindungan dari pemerintah terhadap rakyatnya tak lagi bisa diharapkan, karena pemerintah sendiri, hampir di semua tingkat sibuk mengurus perebutan atau mempertahankan kekuasaan melalui praktik oligopoli dan praktik dinasti. Politisi yang diharapkan sebagai penyambung lidah rakyat, sibuk mengurus partai, pencitraan, studi banding dan sebagainya. Akibatnya semua menyelamatkan diri sendiri, segala cara dihalalkan, hantam kromo, membabi buta. Perlombaan pengumpulan harta tujuh keturunan tak terhindarkan. Mentalitas instan semakin menjadi-jadi. Semua ingin hari ini juga kaya, sekarang juga promosi jabatan, sekarang juga raih semuanya. Pelaku korupsi tak ada jera-jeranya, walau KPK semakin bertaji.

Individu-individu dalam masyarakat kita mengalami gangguan karakter. Selalu mencurigai orang lain secara berlebihan, selalu merasa dirinya diperlakukan secara salah, dieksploitasi atau dikhianati oleh orang lain. Mereka sering kali kasar dan bereaksi dengan kemarahan terhadap apa yang mereka anggap sebagai penghinaan. Rasa permusuhan tumbuh dengan subur, sehingga bentrokan antar kelompok, antar kampung demikian mudah meletus.

Presiden SBY agaknya benar ketika memperingatkan agar pemimpin di daerah harus sensitif terhadap munculnya gejala sesuatu yang kurang beres di daerah. Jangan sampai masyarakat parno berlebihan. Ayolah bersama kita tingkatkan kepedulian dan toleransi untuk mewujudkan 2013 yang lebih nyaman.

kolom - Harian Vokal 31 Desember 2012
Tulisan ini sudah di baca 780 kali
sejak tanggal 01-01-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat