drh. Chaidir, MM | Tahun 2012 Dalam Kenangan | ANDAI ramalan Suku Maya yang diberitakan secara luas di berbagai media, bahwa dunia kiamat pada 21 Desember 2012 jadi kenyataan, kita tak akan pernah lagi bisa mengenang tahun 2012, karena kita semuanya hancur lebur. Apapun alasannya, setuju atau tidak setuju dengan ramalan tersebut, realitanya duni
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Tahun 2012 Dalam Kenangan

Oleh : drh.chaidir, MM

ANDAI ramalan Suku Maya yang diberitakan secara luas di berbagai media, bahwa dunia kiamat pada 21 Desember 2012 jadi kenyataan, kita tak akan pernah lagi bisa mengenang tahun 2012, karena kita semuanya hancur lebur. Apapun alasannya, setuju atau tidak setuju dengan ramalan tersebut, realitanya dunia belum kiamat.

Kiamat atau belum kiamat, tahun 2012 dalam hitungan kalender Masehi, akan segera masuk bilik sejarah, menjadi sebuah masa silam, dan tak akan pernah kembali selamanya. Namun di tahun 2012 telah tertoreh banyak peristiwa yang pantas dikenang dalam perasaan senang dan sedih. Tinggal pilih, mau peristiwa politik, ekonomi, kesenian, olahraga, peristiwa korupsi, tentang KPK, tentang pemilukada, dan sebagainya.

Bagi Riau misalnya, September 2012, mencatat peristiwa monumental sebagai Tuan Rumah PON XVIII. Riau bergemuruh dengan eforia dan pembangunan. Beberapa gelanggang pertandingan berdiri dengan megah. Prasarana pendukung pun dikebut, seperti Bandar udara Pekanbaru, beberapa jembatan raksasa, termasuk pembangunan dua buah fly over. Tidak sedikit yang memberi komentar, andai tak jadi Tuan Rumah PON, Riau tak akan pernah memiliki bangunan-bangunan megah tersebut. Namun, karena peristiwa PON menghimpun anggaran dalam jumlah sangat besar, ekses juga muncul, beberapa anak negeri menjadi "mangsa" dan harus berurusan dengan proses penegakan hukum.

Tidak hanya korban, pemeliharaan dan pemanfaatan gelanggang-gelanggang tersebut kini menjadi pekerjaan rumah yang tak sederhana. Pengalaman PON Sumsel (2004) dan PON Kaltim (2008), kembali terulang, sebagian dari gelanggang tak terurus dan tak termanfaatkan. Penyebabnya adalah faktor anggaran dan efisiensi pemanfataan.

Tak bisa dimungkiri, PON membanggakan dan ajang promosi bagi daerah. PON merupakan kesempatan besar bagi tuan rumah untuk menampilkan diri secara nasional bahkan kepada dunia. Namun, sayangnya, pertandingan olahraga multievent seperti PON atau olimpiade sekalipun, sarat dengan permasalahan anggaran khususnya dalam hal pembengkakan anggaran (cost overrun). Flyvbjerg dan Stewart, peneliti Oxford menemukan bahwa pembengkakan biaya merupakan masalah yang terus-menerus terjadi dalam penyelenggaraan Olimpiade (Wikipedia.org). Pembengkakan biaya terbesar dalam sejarah Olimpiade terjadi dalam penyelenggaraan Olimpiade Montreal 1976 (796%), Barcelona 1992 (417%) dan Moskwa 1980 (321%). Negara yang memutuskan untuk menjadi tuan rumah Olimpiade harus siap menghadapi resiko finansial terburuk. Sebagai contoh, pembengkakan biaya dalam Olimpiade 2004 menyebabkan Athena mengalami kebangkrutan dan harus berutang, secara substansial turut memperburuk kondisi keuangan negara dan menjadi salah satu penyebab krisis ekonomi Yunani 2008-2012. Montreal membutuhkan waktu 30 tahun untuk melunasi utang akibat pembengkakan biaya yang terjadi dalam penyelenggaraan Olimpiade 1976. Menyadari konsekuensi tersebut penduduk Moskow menyindir pemerintahnya yang memutuskan jadi Tuan Rumah Olimpiade 1980. "Olimpiade adalah bertahun-tahun persiapan, dua minggu pelaksanaan dan tiga abad pemulihan ekonomi." Tapi Riau taklah sampai separah Moskow…he..he..he

kolom - Riau Pos 24 Desember 2012
Tulisan ini sudah di baca 738 kali
sejak tanggal 24-12-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat