drh. Chaidir, MM | Bendera Setengah Tiang | TRAGEDI yang menimpa anak-anak yang sedang lucu-lucunya, pastilah menimbulkan duka yang teramat dalam, apalagi seperti penembakan membabi buta di Sekolah Dasar Sandy Hook, Newtown, Negara Bagian Connecticut, AS itu, yang dilakukan oleh seorang mahasiswa, Adam Lanza (20) namanya.  Sebanyak 20 orang a
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Bendera Setengah Tiang

Oleh : drh.chaidir, MM

TRAGEDI yang menimpa anak-anak yang sedang lucu-lucunya, pastilah menimbulkan duka yang teramat dalam, apalagi seperti penembakan membabi buta di Sekolah Dasar Sandy Hook, Newtown, Negara Bagian Connecticut, AS itu, yang dilakukan oleh seorang mahasiswa, Adam Lanza (20) namanya. Sebanyak 20 orang anak-anak berusia 6-7 tahun , dan enam orang guru tewas diberondong senjata api. Presiden Obama pun meneteskan air mata dan AS menaikkan bendera setengah tiang.

Amerika Serikat mencatat beberapa peristiwa tragis penembakan anak-anak sekolah, di ruang publik. Penembakan massal yang memakan korban paling banyak dalam beberapa dekade terakhir, dan terjadi di kawasan pendidikan, dilakukan oleh Cho Seng-hui, mahasiswa Virginia Tech University (2007). Tragedi itu menyebabkan 32 orang tewas dan 17 orang lainnya terluka. Sebelumnya, pada 1999, sebanyak 12 siswa dan seorang guru SMA Columbine di Littletown, Colorado tewas akibat tembakan yang dilakukan dua siswa seniornya (Kompas, 17/12/2012 halaman 1).

Kita turut berbelasungkawa, berduka cita yang sedalam-dalamnya atas tragedi di SD Sandy Hook, yang terjadi hari Jumat (14/12/2012) beberapa hari lalu. Anak-anak yang lucu-lucu, yang membuat orangtua bahagia, direnggut demikian saja dengan cara yang menyayat hati. Andai nama-nama korban seperti Charlotte Bacon (6), Daniel Barden (7), Olivia Engel (6), Josephine Gay (7), Ana M. Marquez-Greene (6), Dylan Hockley (6), dan lain-lain diganti misalnya dengan Si Badu, Budi, Siti, Nur, Sari, dan sebagainya, maka tragedi yang memilukan itu bercerita tentang kita.

Sebenarnya, tanpa maksud mengecilkan arti tragedi di Newtown, di Virginia Tech University, di Littletown Colorado, dan di beberapa tempat lainnya di AS, di timur, di Afghanistan, di Irak, di Palestina, di Suriah, ribuan kilometer jaraknya dari AS, ratusan bahkan ribuan anak-anak tak berdosa juga tewas, hanya karena anak-anak itu bernasib malang terlahir ke dunia fana di daerah perang. Padahal, jangankan sepuluh orang, satu orang saja anak-anak yang tak berdosa tewas akibat perang yang brutal, itu sudah merupakan tragedi kemanusiaan. Tetapi, tinggal di wilayah perang memang, tidak dapat lain, seluruh keluarga setiap hari senantiasa menghadapi kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi bila-bila masa. Rumah mereka bisa berantakan dihajar roket kapan saja. Bau kematian tak berjarak jauh dan seakan tiba dalam hitungan hari.

Namun, ketika penembakan membabi buta terjadi tanpa disangka-sangka di daerah damai, dan terjadi di sebuah negeri yang sangat menghormati kebabasan dan HAM, dan sengaja dilakukan oleh pemuda-pemuda atau remaja yang tak pernah bersentuhan dengan camp teroris, untuk menghabisi nyawa anak-anak tak berdosa, kepiluan yang timbul sangat menyesakkan.

Apa yang terjadi dengan pemuda-pemuda Amerika itu? James Ogloff, ahli psikologi forensic dari Universitas Monash, Australia menyebut tipologi para pembunuh itu, sebagai "orang-orang yang bermusuhan dengan dunia dan berusaha menewaskan sebanyak mungkin orang" (Kompas 17/12/2012 halaman 1). Lebih seram lagi, menurut Ogloff, kisah pembunuhan massal ini kemudian menjadi inspirasi dan cetak biru bagi calon pembunuh massal berikut.

Obama harus segera memperketat pengawasan senjata api. Tetapi sebaiknya tidak hanya perihal penggunaan senpi di Amerika saja, stop juga perang di seluruh dunia. Atau kalau tidak, kalau pemuda-pemuda Amerika yang gila-gila ayam itu jantan, berangkatlah ke Afghanistan, atau ke Irak atau ke Palestina, uji nyalimu di sana, jangan hanya beraninya dengan anak-anak kecil yang tak berdaya.

kolom - Harian Vokal 18 Desember 2012
Tulisan ini sudah di baca 795 kali
sejak tanggal 18-12-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat