drh. Chaidir, MM | Habibie dan Lincoln | MEMBANDINGKAN Abraham Lincoln, Presiden AS yang ke-16 dengan Prof BJ Habibie, Presiden ke-3 RI, mungkin kurang mengena. Sebab mereka berkuasa di zaman yang berbeda. Lincoln berkuasa pada abad ke-19 (1861-1865), Prof Habibie pada abad ke-20 (1998-1999). Tapi keduanya memiliki kesamaan: berhati lapang
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Habibie dan Lincoln

Oleh : drh.chaidir, MM

MEMBANDINGKAN Abraham Lincoln, Presiden AS yang ke-16 dengan Prof BJ Habibie, Presiden ke-3 RI, mungkin kurang mengena. Sebab mereka berkuasa di zaman yang berbeda. Lincoln berkuasa pada abad ke-19 (1861-1865), Prof Habibie pada abad ke-20 (1998-1999). Tapi keduanya memiliki kesamaan: berhati lapang.

Ketika masih menjadi seorang pengacara biasa, Lincoln pernah dicaci oleh seorang pengacara hebat, Edwin McMasters Stanton, yang kehebatannya memang dipuji dan dikagumi oleh Lincoln (wikipedia.org). Tapi beberapa tahun kemudian ketika Lincoln terpilih menjadi Presiden AS, Lincoln mengangkat Stanton sebagai Sekretaris perangnya. Lincoln brilian, Stanton juga menjadi bawahan yang brilian. Ketika Lincoln terbunuh (1865), Stanton memujinya setinggi langit, yang kata-katanya dicatat sampai sekarang: "Now he belongs to the ages" (terjemahan bebasnya kira-kira, "sekarang dia mutiara milik peradaban").

Prof Habibie dituding sebagai pengkhianat negara dan antek imperialis oleh mantan Menteri Penerangan Malaysia Tan Sri Zainuddin Maidin, melalui tulisannya di koran Utusan Malaysia yang terbit Senin (10/12/2012) lalu di Kuala Lumpur. Namun dalam akun resminya di media sosial twitter @habibiecenter, Prof BJ Habibie hanya ketawa dan tenang-tenang saja, bahkan menganggap hal itu sebagai pujian. "Kalau ada yang menghina Anda, anggap saja sebagai sebuah pujian bahwa dia berjam-jam memikirkan Anda, sedangkan Anda tidak sedetik pun memikirkan dia" ujar Habibie, Selasa (11/12/2012), sebagaimana dikutip berbagai media.

Padahal, tulisan politisi Malaysia tersebut direspon sangat keras oleh berbagai pihak di Indonesia. Beberapa Anggota DPR, minta agar pemerintah mengusir Duta Besar Malaysia di Jakarta. Ada pula yang minta Presiden SBY membatalkan kunjungan kenegaraannya ke Malaysia yang sudah terjadwal tanggal 18 Desember ini. Beberapa ormas minta Indonesia mengirim nota diplomatik protes keras kepada Malaysia. Kelompok garis keras bahkan bersikap Indonesia harus mengganyang Malaysia. Berbagai komentar di media sosial penuh dengan aroma permusuhan, segala macam jenis hewan disebut. Tetapi juga, bukan tidak ada yang berkomentar sejuk.

Berbagai respon tersebut tidak bisa disalahkan. Masyarakat kita terdiri dari banyak kafilah. Latar belakang adat istiadat, pendidikan, keluarga, suku, agama, semua mempengaruhi cara berpikir dan sikap seseorang. Tak hanya di Indonesia, di Malaysia sendiri pun sentimen anti Indonesia dari kelompok garis keras Malaysia sering berlebihan mengeluarkan kata-kata. Keharmonisan hubungan persahabatan Indonesia-Malaysia tak pernah berhenti mengalami pasang surut. Padahal kedua bangsa sebenarnya memiliki hubungan yang sangat erat, tidak hanya karena letaknya yang bertetangga dekat sampai hari kiamat kelak, tetapi juga hubungan kekerabatan. Indonesia-Malaysia adalah dua bangsa serumpun, dan memiliki akar budaya yang sama.

Sikap berlapang dada Abraham Lincoln dan Prof BJ Habibie pastilah berangkat dari sebuah karakter kepemimpinan yang kuat, kematangan intelektual yang prima dan sikap kenegarawanan, sesuatu yang sekarang amat langka.

kolom - Riau Pos 17 Desember 2012
Tulisan ini sudah di baca 716 kali
sejak tanggal 17-12-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat