drh. Chaidir, MM | Andi Mallarangeng dan Demang | SESEPUH leluhur Melayu, Demang Lebar Daun, bukan hanya sekedar mertua Raja Sang Sapurba dalam legenda tanah Melayu. Demang Lebar Daun yang bijak itu juga selalu memosisikan dirinya sebagai penyambung lidah rakyat. Syahdan, ketika sang Raja akan berangkat turne, berkeliling kerajaan, yang mengambil w
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Andi Mallarangeng dan Demang

Oleh : drh.chaidir, MM

SESEPUH leluhur Melayu, Demang Lebar Daun, bukan hanya sekedar mertua Raja Sang Sapurba dalam legenda tanah Melayu. Demang Lebar Daun yang bijak itu juga selalu memosisikan dirinya sebagai penyambung lidah rakyat. Syahdan, ketika sang Raja akan berangkat turne, berkeliling kerajaan, yang mengambil waktu berbulan-bulan, Sang Sapurba meminta sang mertua membuat sebuah kontrak politik menuntut kesetiaan rakyatnya.

Demang Lebar Daun pun memberi garansi kepada sang menantu. Jangan kau ragukan kesetiaan rakyatmu. Mereka siap dihukum kalau mereka berbuat salah. Hukumlah, mereka siap sedia, bahkan bila kesalahan itu pantas diganjar hukuman mati, bunuhlah, tetapi jangan sekali-sekali mempermalukan.

Kontrak politik itu barangkali terasa aneh dalam perspektif kekinian. Bukankah kesalahan itu sendiri adalah sebuah aib, apalagi sebuah kesalahan tercela yang tak patut dilakukan oleh orang patut-patut? Maka sesungguhnya perbuatan yang tak patut yang dilakukan oleh orang patut-patut itu, adalah sesuatu yang membuat malu, mencoreng arang di kening sendiri. Maka, gerangan apakah yang dimaksud oleh Demang Lebar Daun sebagai "jangan mempermalukan" itu?

Barangkali, kesalahan dalam perspektif tempo dulu adalah sesuatu yang diakibatkan oleh kealpaan, kekhilafan, karena fitrah manusia. Tidak begitu pelik permasalahannya. Bak pepatah, tak ada gading yang tak retak, tak ada manusia yang luput dari kesalahan. Kesalahan tempo dulu, agaknya tidak seperti kesalahan masa kini yang sering berkait kelindan bak benang kusut, sehingga tak jelas yang mana ujung yang mana pangkal. Kesalahan masa kini tak jarang dibawa ke wilayah abu-abu, apalagi kalau sudah diseret ke ranah perdebatan para ahli hukum.

Mungkin yang dimaksud "jangan mempermalukan" seperti yang disebut leluhur tanah Melayu itu, sebangun dengan ungkapan Jawa, "menang tanpa ngasorake" dalam konteks sebuah perlombaan atau persaingan. Pemenang tidak boleh merendahkan apalagi menghina pihak yang kalah. Leluhur kita kelihatannya tidak mau terperangkap menuruti naluri primitive yang cenderung bengis. Orang yang jatuh tak usahlah pula ditimpa tangga.

Andi Mallarangeng secara sportif mundur dari jabatannya, Menpora, setelah sehari sebelumnya ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK dalam kasus mega proyek Hambalang. Tak ada pilihan lain bagi Andi, itu sebuah pertanggungjawaban moral sebagai seorang inetelektual yang dirundung malang, atau ia akan kehilangan segalanya. Kalau ia ngotot bertahan sampai palu hakim yang mencopotnya, maka Andi sama saja dengan penguasa lain pada umumnya. Andi termasuk dari sedikit orang-orang yang beruntung di republik ini yang dipercaya sebagai Menteri, tetapi Andi akhirnya harus mempertanggungjawabkan kealpaannya dalam mengelola "makhluk" yang bernama kekuasaan. Kekuasaan itu bermuka dua, antara sisi berkah dan musibah hanya dipisah rambut dibelah tujuh.

kolom - Riau Pos 10 Desember 2012
Tulisan ini sudah di baca 917 kali
sejak tanggal 10-12-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat