drh. Chaidir, MM | Pemimpin Perubahan | PRESIDEN Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meminta para kepala daerah untuk sensitif dalam menghadapi segala macam kecenderungan yang terjadi di daerah. Artinya, para kepala daerah dalam hal ini gubernur, bupati atau walikota, sejauh yang dipantau Presiden, barangkali dianggap kurang sensitif. Akibatny
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Pemimpin Perubahan

Oleh : drh.chaidir, MM

PRESIDEN Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meminta para kepala daerah untuk sensitif dalam menghadapi segala macam kecenderungan yang terjadi di daerah. Artinya, para kepala daerah dalam hal ini gubernur, bupati atau walikota, sejauh yang dipantau Presiden, barangkali dianggap kurang sensitif. Akibatnya berbagai permasalahan cenderung eskalatif.

Tidak usah menunggu hasil kajian akademis yang dilakukan oleh tim pakar, secara awam saja kita bisa melihat dengan kasat mata, dan menyimpulkan, memang ada gejala aneh dalam kehidupan masyarakat kita. Indikasinya mudah terlihat, seperti bentrokan antarkelompok, bentrokan antarkampung, konflik kepemilikan lahan, aksi-aksi damai yang mudah meledak menjadi anarkis, dan seterusnya. Masyarakat menjadi pemarah, bahkan adakalanya tak segan-segan melontarkan sumpah serapah, dan menyebut segala jenis satwa. Sepertinya, ada sesuatu yang tersumbat, kemudian meledak. Bila lebih serius didalami, disana ada miskomunikasi, ada disharmonisasi, ada fragmentasi. Kepemimpinan yang berkembang di daerah umumnya bukan kepemimpinan yang rendah hati yang rajin mendengar.

Atmosfir yang terbentuk makin lama makin tidak kondusif. Lingkungan dimana daerah tumbuh dan berkembang penuh dengan pemain-pemain yang senantiasa siap sedia bertempur dalam persaingan yang tidak sehat. Idiom masa lalu, "kalau bisa dipersulit kenapa mesti dipermudah" masih juga belum sembuh-sembuh. Anak-anak kita yang awalnya ingin kita didik dalam tabung steril, berjumpa dengan kebaikan dan keburukan yang tak lagi hitam putih. Mereka berhadapan dengan banyak masalah sosial. Termasuk kepemimpinan oligarki dan kepemimpinan dinasti yang tak menjawab masalah.

Masyarakat kita secara ekstrim terbelah dua, terpolarisasi secara ekstrim. Kutub pertama, adalah kelompok masyarakat yang terduduk pada satu bagian di sebuah sudut, mereka adalah orang-orang yang sederhana, pendidikan rendah, dengan pola pikir tradisional, dogmatis, enggan berubah, dan cenderung tertinggal. Secara ekstrim berada di sisi lain kelompok yang terdidik, pintar tetapi umumnya tidak patuh, mereka cenderung seenaknya, hedonis, tergila-gila dengan semangat materialisme, mereka bebas hambatan, hukum bisa dibeli.

Kedua kutub tak boleh dibiarkan secara terus menerus saling tolak menolak. Kedua kutub harus didekatkan. Kubu yang berada di kutub bebas nilai dan bebas aturan, seenaknya, harus berlajar patuh (compliance), mundur sedikit jangan terlalu laju menjauh apalagi seperti sepeda tak berlampu. Mereka yang terkungkung dalam pola pikir tradisional dan dogmatis diajak bangkit mendekat ke wilayah peradaban. Perbancuhan kedua kutub akan menghasilkan suatu wilayah madani dalam suasana egaliter. Dan agen perubahan yang mendekatkan kedua kutub itu, adalah pemimpin yang mampu membentuk sebuah budaya baru, sebuah budaya yang diperlukan oleh masyarakatnya untuk mampu eksis dalam iklim yang tak bersahabat.

Bangsa ini memang memerlukan pemimpin berkarakter di semua level kepemimpinan. Namun pemimpin yang jujur, amanah, dan mempunyai kapasitas intelektual saja belum cukup untuk mengubah masyarakat dinamis yang cenderung destruktif menjadi masyarakat dinamis produktif yang memiliki kemandirian dalam menyelesaikan sendiri berbagai permasalahan yang dihadapi.

Kondisi inilah yang menjadi permasalahan besar di daerah. Pemimpin perubahan seperti Jokowi atau Dahlan Iskan misalnya, memang sudah memiliki modal integritas, tetapi berjuang sendiri di tengah belantara penuh onak dan duri akan menyebabkan mereka keletihan. Pemimpin perubahan yang berkarakter memerlukan banyak kader-kader pemimpin perubahan, sehingga bisa membentuk sebuah dream team.

kolom - Harian Vokal 4 Desember 2012
Tulisan ini sudah di baca 844 kali
sejak tanggal 04-12-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat