drh. Chaidir, MM | Gaza Kehilangan Kalam | PERANG senantiasa menghadirkan bencana. Dan itulah yang dialami masyarakat yang tinggal di Jalur Gaza, sebuah hamparan tanah yang luasnya tidak lebih dari 360 km persegi  di Palestina Selatan.  Konflik berdarah yang berlangsung selama delapan hari itu telah menewaskan sekitar 162 warga Palestina dan
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Gaza Kehilangan Kalam

Oleh : drh.chaidir, MM

PERANG senantiasa menghadirkan bencana. Dan itulah yang dialami masyarakat yang tinggal di Jalur Gaza, sebuah hamparan tanah yang luasnya tidak lebih dari 360 km persegi di Palestina Selatan. Konflik berdarah yang berlangsung selama delapan hari itu telah menewaskan sekitar 162 warga Palestina dan lima orang warga Israel. Sebagian korban di pihak Palestina adalah anak-anak yang tak berdosa.

Bila menyangkut nasib anak-anak, jangankan sepuluh orang, satu orang saja terbunuh akibat kebrutalan perang, menjadi sebuah tragedi kemanusiaan. Menyaksikan anak-anak yang menjadi korban, rasanya separuh jiwa kita ikut terbang, apatah lagi bagi orang tua yang kehilangan buah hatinya. Perserikatan Bangsa-Bangsa (13/6/2012) di Kabul, Afganistan, menyatakan, 1.756 anak tewas atau terluka dalam perang Afganistan pada tahun 2011. Dengan jumlah itu, berarti setiap hari rata-rata lima anak tewas atau terluka (Kompas.com).

Entah apalah yang ada dalam benak para pengambil keputusan di wilayah sengketa tersebut. Dalam pemahaman umum, perang dalam banyak kasus justru tidak mampu menyelesaikan inti persoalan. Tak jarang, perang berbelok pada tujuan-tujuan lain seperti menjatuhkan pemimpin sebuah Negara, penguasaan ekonomi, memperluas batas wilayah dan sebagainya, bahkan juga bisa karena kepentingan perdagangan senjata.

Yang paling tragis, dan ini agaknya merupakan inti penolakan kita terhadap perang, bahwa perang lebih banyak menimbulkan kehancuran. Perang yang berlangsung dari awal abad ke-20 sampai tahun 1945 misalnya, membunuh lebih dari 16.000.000 manusia, yang sebagian dari korban justru adalah masyarakat sipil yang tidak memiliki kepentingan apapun terhadap perang. Jumlah tentara AS yang tewas dalam perang hampir 11 tahun di Afghanistan melampaui 2.000 orang. Puluhan ribu korban lain dalam perang Irak, perang Iran, dan lain-lain. Dalam rentang waktu yang sama dengan perang tersebut kita menyaksikan tingkat kemisikinan membengkak di daerah sengketa, demikian pula orang-orang yang menderita. Jutaan anak dan perempuan terserang penyakit, dan sejumlah bangunan yang terbangun hancur berkeping-keping. Maka ketika penulis Inggris, Francis Moore, menulis dengan getir, "Ketika perang usai", kata Moore, "setelah kedua belah pihak lelah baku hantam dan akhirnya berdamai, apakah yang tertinggal untuk rakyat? Pajak, janda, kaki kayu, dan utang." Kita memahaminya, kegetiran itu bukan didramatisir.

Perang memang sulit dipahami. Bukankah di era kemajuan IT sekarang demikian banyak kanal-kanal komunikasi yang mestinya bisa jadi opsi? Kemana perginya seni menggunakan kata-kata yang sudah diakui semenjak zaman Sebelum Masehi? Julius Caesar penguasa Romawi yang ditakuti, memuji orator Cicero, "Anda telah memperoleh kemenangan yang lebih disukai daripada kemenangan para jenderal, karena sesungguhnya lebih agung memperluas batas-batas kecerdasan manusia daripada memperluas batas-batas kerajaan Romawi." Dengan kata lain, Julius Caesar mengakui, pedang tak menyelesaikan masalah.

Pujangga Melayu Raja Ali Haji, pada abad ke-19, menggoreskan petuah dalam frasa yang indah, "Segala pekerjaan pedang itu boleh dibuat dengan kalam, adapun pekerjaan kalam itu tiada boleh dibuat pedang. Dan, berapa ribu dan laksa pedang yang sudah terhunus, dengan segores kalam jadi tersarung." Apapun yang menjadi latar sebuah perang, seuntai kalam mestinya bisa menjadi sitawar sidingin

kolom - Harian Vokal 27 November 2012
Tulisan ini sudah di baca 765 kali
sejak tanggal 27-11-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat