drh. Chaidir, MM | Frasa Selaksa Makna | POETA nascitur. Sastrawan itu dilahirkan, begitu disebut dalam sebuah ungkapan Latin. Bahwa di dunia ini, ada manusia yang dilahirkan dengan talenta tak biasa. Sejarah kelahiran penyair adalah sebuah sejarah tua. Mereka menakjubkan karena mereka diberi kemampuan lisan untuk mengungkapkan bisikan sua
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Frasa Selaksa Makna

Oleh : drh.chaidir, MM

POETA nascitur. Sastrawan itu dilahirkan, begitu disebut dalam sebuah ungkapan Latin. Bahwa di dunia ini, ada manusia yang dilahirkan dengan talenta tak biasa. Sejarah kelahiran penyair adalah sebuah sejarah tua. Mereka menakjubkan karena mereka diberi kemampuan lisan untuk mengungkapkan bisikan suara lubuk hatinya yang diam terpendam. Sebenarnya semua manusia punya lubuk hati, memiliki suara hati sanubari, tapi tak semua mampu mengekspresikannya secara verbal. Apalagi mengungkapkan dalam bahasa yang indah penuh kejujuran berupa frasa yang mengandung selaksa makna.

Keistimewaan itulah yang dimiliki oleh seorang penyair. Maka tak berlebihan bila sastrawan Taufiq Ismail menyebut penyair itu penguasa kata-kata. Melalui puisi-puisi yang dideklamasikan dalam gerak dan teriak serak laksana burung gagak, atau dialunkan sendu berbisik, atau dikemas dalam musikalisasi, seorang penyair mampu merangkai metafora kehidupan secara mengagumkan. Penyair bisa menggelorakan jiwa, membangkitkan patriotisme, membangun semangat perlawanan dan pemberontakan, atau menghadirkan sembilu menyayat pedih menyentuh dawai halus dalam hati. Puisi sufistik Ayatullah Khomaini konon mampu membangkitkan semangat revolusi Iran.

Penyair bisa menyusun puisi tanpa basa-basi dan tanpa terasa sebagai sesuatu yang dipaksakan. Segalanya terasa mengalir demikian saja melembabkan dan menyuburkan kegersangan akal budi yang didera duka nestapa kekalahan demi kekalahan dalam sejuta pencapaian manusia. Tradisi merangkai metafora dalam bentuk puisi, disebut tak pernah lekang oleh waktu dan senantiasa hidup melewati zaman.

Metafora itulah yang berhamburan di Bumi Lancang Kuning, Riau, 22 November 2012 beberapa hari lalu yang dibendangkan oleh penyair-penyair terbilang dalam sebuah helat Deklarasi Hari Puisi Indonesia. Dalam bulan November ini Riau riuh dengan agenda baca puisi. Setidaknya sudah tiga kali helat pembacaan puisi diselenggarakan di arena purna MTQ dan di Gedung Seni Idrus Tintin Pekanbaru. Bermula dari pembacaan puisi-puisi pamflet "save journalist", "Baca Puisi Serumpun", dan terakhir helat deklarasi itu.

Kekuatan "sihir" penyair mengubah zaman, sesungguhnya bukan terletak pada keberhimpunannya, atau pada simbol-simbol seremonial, melainkan pada kekuatan syair atau puisinya. Puisi yang bisa meluruskan kehidupan yang bengkok-bengkok karena ulah politik seperti disebut Presiden AS John F Kennedy itu, adalah puisi yang ditulis dengan kedalaman hati. Pedang kekuasaan para pemimpin yang punya hati, pasti memerlukan kritik-kritik tajam para penyair melalui sentuhan puisinya, sepedih apapun frasanya. Asal saja tak dianggap angin lalu.

kolom - Riau Pos 26 November 2012
Tulisan ini sudah di baca 1042 kali
sejak tanggal 26-11-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat