drh. Chaidir, MM | Semangat Baru Harapan Baru | ANGGOTA DPRD periode 2009-2014 mulai manggung. Perjalanan panjang ke gedung DPRD, finish. Namun jalan panjang berikutnya, adakalanya penuh onak dan duri, telah menanti. Agenda-agenda politik yang lebih berat, di depan mata.

Di luar gedung DPRD - yang umumnya megah - banyak orang berharap para wak
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Semangat Baru Harapan Baru

Oleh : drh.chaidir, MM

ANGGOTA DPRD periode 2009-2014 mulai manggung. Perjalanan panjang ke gedung DPRD, finish. Namun jalan panjang berikutnya, adakalanya penuh onak dan duri, telah menanti. Agenda-agenda politik yang lebih berat, di depan mata.

Di luar gedung DPRD - yang umumnya megah - banyak orang berharap para wakilnya akan membawa perubahan mendasar. Harapan baru tentu wajar. Satu-dua anggota lembaga perwakilan itu diisi wajah lama, tapi umumnya wajah baru. Publik di luar menunggu solusi cerdas, tidak hanya sekedar melepas tanya. Kita dikepung oleh lautan permasalahan yang menuntut solusi cepat dan cerdas. Sebut saja masalah kemiskinan absolut, pengangguran, pendidikan, kesehatan (kurang gizi dan penyakit menular), infrastruktur (jalan, jembatan, listrik, air bersih), lingkungan hidup (kebakaran hutan dan lahan, banjir, limbah), perilaku illegal yang masih marak (illegal logging, korupsi, premanisme, kriminalitas), kejahatan dalam rumah tangga, dst, dst.

Dan APBD? APBD boleh jadi mimpi buruk bagi DPRD. APBD kita - provinsi dan kabupaten/kota - yang lumayan besar ternyata menimbulkan banyak masalah serius: Pertama, kita kurang pandai membelanjakannya. Semua hendak dibeli, yang tak patut dibeli, dibeli; yang patut dibeli, tak dibeli; yang patut didahulukan, dikemudiankan. Umumnya kita tak loyal pada prioritas. Prioritas kita, umumnya bukan condong pada kebutuhan selera rakyat, tapi condong pada selera pejabat. Sayangnya kedua selera ini sering kali tidak bersaudara, masing-masing jalan sendiri. Kedua, APBD adalah penggoda yang menggiurkan dan penuh perangkap. Ketiga, pelaksanaan APBD telah menyeret banyak putra-putra kita berurusan dengan pengadilan, dan konon masih akan ada korban, tingal menghitung hari.

Anggota DPRD yang baru dilantik tentu akan ikut memikul dosa bila tak mengawal dengan baik fungsi-fungsi yang melekat pada pemerintah daerah, yaitu fungsi pengaturan, fungsi pemberdayaan dan fungsi pelayanan. Fungsi-fungsi itu memabukkan. Fungsi-fungsi itu tak jarang melebar liar dan dimanfaatkan secara tak beraturan sehingga meminta korban hanya karena kelalaian dan semangat kebendaan berlebihan yang terbiarkan.

Saya tidak bermaksud menakut-nakuti Anggota DPRD kita yang baru dilantik, saya hanya bersimpati terhadap dilema yang bakal dihadapi oleh Anggota Dewan yang baru ketika menginjakkan kaki di gedung DPRD. DPRD memiliki fungsi legislasi, anggaran dan pengawasan. Fungsi-fungsi ini bisa digunakan secara efektif untuk mengawal fungsi-fungsi pemerintah supaya berjalan pada relnya. Wilayah empiris kita mengingatkan, hubungan eksekutif-legislatif yang efektif untuk kepentingan rakyat, tetap berpeluang ditunggangi oleh kepentingan yang bernuansa kolutif. Bila ini terjadi, rakyat akan kehilangan kepercayaan.

Wajah-wajah baru di panggung DPRD tentu mempertaruhkan nama baik diri sendiri dan keluarga, juga nama baik partai yang telah mengusung mereka sebagai kader terpercaya. Luruskan saja niat, tetap amanah dan optimis harus bisa melakukan perbaikan. Pelantikan di bulan Ramadhan ini semogalah membawa berkah. Sastrawan Rusia Leo Tolstoy menulis, "Tuhan tahu tapi Dia menunggu."
Syabas!!


kolom - Riau Pos 31 Agustus 2009
Tulisan ini sudah di baca 1294 kali
sejak tanggal 31-08-2009

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat