drh. Chaidir, MM | Bola Tanggung Dahlan Iskan | BUKAN Dahlan Iskan namanya kalau tak bikin terobosan. Banyak yang mendukung gebrakan demi gebrakan yang dilakukannya, tetapi juga tidak sedikit yang blingsatan seperti cacing kepanasan atau gelisah seperti kera kena belacan.  Kelompok pro, mendukung karena Dahlan Iskan dianggap membawa angin perubah
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Bola Tanggung Dahlan Iskan

Oleh : drh.chaidir, MM

BUKAN Dahlan Iskan namanya kalau tak bikin terobosan. Banyak yang mendukung gebrakan demi gebrakan yang dilakukannya, tetapi juga tidak sedikit yang blingsatan seperti cacing kepanasan atau gelisah seperti kera kena belacan. Kelompok pro, mendukung karena Dahlan Iskan dianggap membawa angin perubahan ke arah perbaikan. Kelompok kontra, marah karena sepak terjang Dahlan Iskan dianggap mengganggu periuk nasi mereka.

Masalah berkembang menjadi pelik ketika Sekretaris Kabinet Dipo Alam, sesuai perintah Presiden SBY, menerbitkan surat edaran tentang pencegahan praktik kongkalikong oknum legislatif DPR/ DPRD, dan/atau rekanan. Menteri BUMN Dahlan Iskan adalah salah seorang yang menerima edaran. Masalah kongkalingkong ini sudah lama diendus, ada beberapa oknum DPR atau parpol yang menjadikan perusahaan BUMN sebagai sapi perah.

Pro-kontra pun berkembang seperti bola salju. Bola salju yang semula kecil, menggelinding tak terkendali makin lama makin besar. Dan kalau sudah sangat besar, bola salju akan menggulung habis rumah, tanaman, ternak bahkan desa yang terletak di kaki gunung. Banyak supporter memberi semangat kepada Dahlan Iskan untuk mengungkapkan nama-nama oknum Anggota DPR yang sering minta upeti. Ketua dan Anggota DPR pun tidak kalah galak minta Dahlan mengungkapkan saja nama-nama oknum tersebut agar tidak timbul fitnah. Penumpang liar pun ikut nimbrung, memancing di air keruh.

Respon Anggota Dewan beda-beda, ada oknum Anggota DPR yang meminta Dahlan Iskan mengungkapkan sumbangan BUMN untuk parpol dalam Pilpres 2009 lalu. Aneh. Logika ini menggelikan, sebab itu sama saja misalnya, kalau seseorang ditilang polisi lalu-lintas karena melanggar rambu-rambu, orang yang ditilang itu kemudian minta polisi untuk menangkap juga orang-orang yang seminggu sebelumnya melakukan pelanggaran. Keadaannya serupa tapi tak sama ketika beberapa oknum Pimpinan Banggar DPR diperiksa KPK, oknum Anggota DPR mengatakan KPK seperti kacang yang lupa akan kulitnya, karena DPR-lah yang memilih KPK. Saya jadi teringat ketika Presiden Gus Dur mengatakan DPR itu seperti taman kanak-kanak. Gus Dur berani luar biasa, dan Gus Dur agaknya benar.

Menteri BUMN Dahlan Iskan akhirnya memenuhi undangan Badan Kehormatan DPR kemarin pagi. Dahlan tiba dengan mengendarai sendiri mobil listriknya dan tanpa ada pengawalan dari pihak Kementerian BUMN maupun Kepolisian. Berita pertemuan itu ditunggu oleh jutaan orang dengan berbagai alasan. Ada yang berdoa semoga sanak saudaranya bukan salah seorang dari oknum Anggota DPR yang selalu minta upeti itu, ada yang berharap mudah-mudahan bukan berasal dari partai tertentu. Tapi ada juga yang menanti berita dengan semangat naluri primitif, senang melihat orang tersiksa, dipermalukan, dan terpuruk.

Sayangnya pertemuan itu sendiri anti klimaks. Tidak ada nama-nama yang inisialnya muncul di media massa dan media sosial dalam beberapa ini. Dahlan Iskan seakan menyodorkan bola tanggung yang bisa mematahkan kaki kedua belah pihak. Dari kemarin siang inisial dua nama Anggota DPR beredar luas di jejaring sosial sebagai tersangka penerima upeti. Siapa? Sampai tulisan ini ditulis tadi malam, nama-nama itu masih belum jelas. Namun siapapun nama yang dilaporkan, baru akan terungkap beberapa hari ke depan setelah Anggota Dewan kembali dari reses, itu pun kalau tak masuk angin.

Tidak mudah bagi Dahlan Iskan melakukan gerakan perubahan, sebab perubahan itu selalu sangat menyakitkan. Tapi Dahlan Iskan tak sendiri.

kolom - Harian Vokal 6 November 2012
Tulisan ini sudah di baca 1227 kali
sejak tanggal 06-11-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat