drh. Chaidir, MM | Quo Vadis Anak Muda | WALAU terdengar kuno dan latah, pertanyaan klasik ini tidak salah diajukan kepada anak-anak muda kita bersempena peringatan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober tahun ini. Hendak kemana anak muda? Atau barangkali dengan pertanyaan yang lebih tendensius, hendak kemana lagi gerangan anak muda?

Omong koso
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Quo Vadis Anak Muda

Oleh : drh.chaidir, MM

WALAU terdengar kuno dan latah, pertanyaan klasik ini tidak salah diajukan kepada anak-anak muda kita bersempena peringatan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober tahun ini. Hendak kemana anak muda? Atau barangkali dengan pertanyaan yang lebih tendensius, hendak kemana lagi gerangan anak muda?

Omong kosong kalau generasi tua dewasa ini tidak galau melihat resam anak-anak muda yang menyandang predikat harapan bangsa, pemimpin masa depan itu. Memang betul pepatah mengatakan adat tua menanggung resam. Tetapi resam anak-anak muda sekarang, semula tak diperkirakan begini. Memang, pasti lebih banyak anak-anak muda yang baik, yang kurang baik dengan resam berlebihan pasti jumlahnya hanya sedikit, bahkan hanya segelintir. Tetapi yang segelintir itu suaranya sangat nyaring. Mereka merebut mimbar-mimbar di media massa (cetak, elektronik dan media social) untuk pencitraan. Ingat, susu sebelanga juga dirusak oleh nila setitik. Tidak adil, tapi itu sebuah realitas. Di sini berlaku hukum media pemberitaan, bad news good news. Semakin buruk beritanya semakin bagus untuk diberitakan.

Cobalah kita cermati. Ribuan sekolah siswa-siswanya belajar dengan disiplin dan tenang. Yang terlibat tawuran itu hanya beberapa sekolah saja. Ratusan juga jumlah kampus perguruan tinggi yang perkuliahannya berlangsung tenang. Mahasiswanya yang tawuran antar fakultas itu hanya satu dua saja. Puluhan ribu anak-anak remaja menggunakan sepeda motor ke sekolah, yang terlibat gang motor hanya ratusan. Jutaan pemuda putus sekolah atau bekerja seadanya, yang terpengaruh ajaran ekstrim sehingga terlibat aksi-aksi terorisme dan aksi bom bunuh diri hanya sedikit.

Itu belum kalau kita berbicara tentang perilaku anak-anak muda kita bila dikaitkan dengan keberadaan jaringan media sosial seperti facebook, twitter, BBM, dan berbagai kemudahan jaringan internet lainnya. Mereka menghabiskan waktu berhari-hari, bertahun-tahun di depan layar internet, melupakan masa depan, dan sebagian diantaranya menjadi makhluk yang asosial. Hubungan anak-orang tua terasa jauh walau setiap hari bertemu di rumah, sebab masing-masing sibuk dengan BBM-nya. Adakalanya mereka tidak berkomunikasi satu sama lainnya karena bapak dan anak ternyata belum berteman di media sosial.

Memang disini berlaku hukum kepatutan. Betapa sedikit pun persentase pemuda, pelajar dan mahasiswa itu yang melakukan penyimpangan, masalahnya harus dilihat sebagai sebuah gejala sosial yang sangat serius. Tidak patut misalnya seorang pelajar atau mahasiswa berangkat ke sekolah atau kampus dengan membawa senjata tajam, dan senjata itu kemudian digunakan untuk menghabisi nyawa temannya. Jangankan beberapa orang pelajar dan mahasiswa yang jadi korban jiwa, satu orang saja terluka oleh senjata tajam temannya sendiri dalam perkelahian antar sesamanya, maka itu adalah sebuah tragedi dalam dunia pendidikan. Tidak patut juga sepeda motor yang dibelikan oleh orang tuanya digunakan untuk aksi-aksi kriminal. Demikian pula dengan anak-anak muda yang terlibat dalam jaringan teroris yang mengancam keselamatan jiwanya dan jiwa orang lain. Dan sebagainya.

Padahal pemuda, pelajar dan mahasiswa itu telah diakui sebagai pelaku penting dalam sejarah perjuangan bangsa. Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2012 yang kemarin diperingati, adalah sebuah catatan tinta emas sejarah pemuda Indonesia. Dengan kesadaran yang tinggi terhadap masa depan bangsanya para pemuda kita membuat kebulatan tekad untuk mewujudkan satu bangsa, satu tanah air, satu bahasa yakni, Bangsa Indonesia, Tanah Air Indonesia, dan Bahasa Indonesia.

Catatan panjang sejarah perjalanan bangsa kita menempatkan peran pemuda senantiasa menjadi pilar dan motor penggerak untuk mencapai kemerdekaan dan kemajuan bangsa. Dimulai dari pergerakan Budi Utomo tahun 1908, Sumpah pemuda tahun 1928, Proklamasi Kemerdekaan tahun 1945, revolusi 1966, hingga pada masa reformasi 1998, pemuda, pelajar dan mahasiswa senantiasa berada di depan sebagai pelopor pergerakan.

Tantangan terbesar yang kita hadapi dalam memperingati Hari Sumpah Pemuda tahun ini adalah sebuah kenyataan, melemahnya karakter bangsa kita. Semangat materialisme yang berlebihan telah menyuburkan praktik-praktik illegal seperti KKN, rekayasa kasus, mafia peradilan, mafia anggaran dan sebagainya. Dan ini telah menurunkan tingkat kepercayaan publik terhadap lembaga politik, hukum dan pemerintah. Dan keadaan ini berbahaya terhadap semangat Sumpah Pemuda itu bila tidak diimbangi dengan sikap mental yang baik, kepatuhan terhadap hukum, berbudi luhur dan tetap memelihara komitmen yang kuat untuk masa depan bangsa yang lebih baik. Ayo kita mulai memberi keteladanan dari diri kita sendiri, tidak ada kata terlambat.

kolom - Harian Vokal 30 Oktober 2012
Tulisan ini sudah di baca 1201 kali
sejak tanggal 30-10-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat