drh. Chaidir, MM | Homo Sapiens | DI TENGAH hedonisme sosial masyarakat yang semakin menjadi-jadi dewasa ini, haus dan lapar sebagai suatu simbol justru menjadi keniscayaan untuk dikendalikan ketimbang dahaga terhadap minuman dan makanan semata. Haus dan lapar terhadap kekuasaan, harta benda, dan popularitas, merisaukan dan sekaligu
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Homo Sapiens

Oleh : drh.chaidir, MM

DI TENGAH hedonisme sosial masyarakat yang semakin menjadi-jadi dewasa ini, haus dan lapar sebagai suatu simbol justru menjadi keniscayaan untuk dikendalikan ketimbang dahaga terhadap minuman dan makanan semata. Haus dan lapar terhadap kekuasaan, harta benda, dan popularitas, merisaukan dan sekaligus menghanyutkan.

Hipotesis bahwa kita berada dalam lingkungan sosial yang gila: gila kekuasaan, gila harta benda dan gila popularitas, agaknya tidak susah pembuktiannya. Common sense kita memberi sinyal, semangat materialisme memang luar biasa, demikian pula sikap hedonisme di tengah masyarakat. Kebaikan hanya diukur dengan kesenangan dan kenikmatan hidup; hanya itulah yang menjadi tujuan dengan cara apapun menggapainya. Mungkin karena lingkungan sosial gila, banyak orang jadi gila. Atau tersebab banyak orang gila maka lingkungan sosial menjadi gila. Ibarat ayam dan telur.

Hedonisme terasa menjepit manakala kita dihadapkan pada tesis lain, bahwa masyarakat kita adalah masyarakat yang paternalistik, masyarakat yang menganut paham paternalisme. Masyarakat dengan paham demikian memposisikan hubungan antara pemimpin dengan yang dipimpin seperti hubungan ayah dan anak. Tidak salah, tapi membahayakan kalau keduanya posesif. Sang ayah melindungi sang anak secara berlebihan, sang anak mengidolakan sang ayah membabi-buta. Keduanya merasa khawatir kehilangan perhatian, maka keduanya pun sepakat menyanyikan kur Mbah Surip (alm), "tak gendong kemana-mana...tak gendong kemana-mana..." Sang anak sangat tergantung, sang ayah sangat dominan.

Konsekuensinya, ibarat pepatah, guru kencing berdiri murid kencing berlari. Dalam skema masyarakat paternaslistik ini, maka tidak bisa dipungkiri bila sang ayah menganut paham hedonisme, sang anak menjadi neo-hedonisme. Repotnya, perubahan pun tidak akan tercipta apabila sang ayah tidak memberikan keteladanan.

Ini menjadi masalah serius, bila paternalisme itu konteksnya - misalnya, sekali lagi misalnya - dikaitkan dengan upaya kita ingin mewujudkan pemerintahan yang bersih. Hal itu hanya mungkin diwujudkan bila pemimpin memberi contoh. Birokrasi yang bersih haya mungkin tercipta bila pimpinan bersih-bersih. Korupsi hanya mungkin diberantas bila budaya korupsi dihilangkan. Bila kondisinya seperti ini maka perubahan ke arah yang lebih baik akan menjadi sebuah utopia. Sebab perubahan tergantung pada orang lain. Dengan kata lain, sang anak akan mengikuti perilaku sang ayah.

Paradigma itu tentu harus diubah dengan semangat dan hasrat besar. Perubahan harus dimulai dari dalam diri sendiri. Setiap kemajuan, sepanjang sejarah, berasal dari hasrat seseorang untuk mengubah status quo, untuk memenangkan perlombaan melawan zaman, mengalahkan kebiasaan, melawan diri sendiri. Semangat dan hasrat adalah hal yang sangat penting yang membedakan antara pememang dan pecundang.

Puasa Ramadan merupakan gerbang untuk keluar dari lingkungan sosial yang gila itu, yang telah mengenyampingkan akal sehat kita. Puasa Ramadan memberi peluang untuk melatih diri melawan hedonisme dan melakukan perenungan mendalam sambil melakukan inward looking - memandang ke dalam cermin batin kita. Inilah yang menandakan kita sebagai homo sapiens - makhluk berakal budi.

kolom - Riau Pos 24 Agustus 2009
Tulisan ini sudah di baca 1538 kali
sejak tanggal 24-08-2009

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat