drh. Chaidir, MM | Gubernur Planet Lain | ANDAI pelatih Real Madrid Jose Mourinho menjadi seorang pengamat pemilukada di Indonesia, dia mungkin akan menyebut Jokowi dan Ahok (Basuki Tjahaja Purnama) sebagai pemimpin dari planet lain, tapi bukan Alien yang bercitra negatif itu. Ungkapan tersebut untuk menggambarkan kekagumannya kepada sosok
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Gubernur Planet Lain

Oleh : drh.chaidir, MM

ANDAI pelatih Real Madrid Jose Mourinho menjadi seorang pengamat pemilukada di Indonesia, dia mungkin akan menyebut Jokowi dan Ahok (Basuki Tjahaja Purnama) sebagai pemimpin dari planet lain, tapi bukan Alien yang bercitra negatif itu. Ungkapan tersebut untuk menggambarkan kekagumannya kepada sosok Jokowi dan Ahok, sama seperti ketika dia menyebut Messi dan Cristiano Ronaldo sebagai pemain sepakbola dari planet lain.

Barangkali analogi itu berlebihan, lebai. Tetapi ketika Jokowi dan Ahok dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta oleh Mendagri Gamawan Fauzi, kemaren pagi dalam Rapat Paripurna Istimewa DPRD DKI, sensasinya memang terasa beda. Barangkali beda-beda tipis dengan suasana batin penonton ketika Obama mengucapkan sumpah sebagai Presiden AS yang ke-44 pada 20 Januari 2009 silam. Terpilihnya Jokowi-Ahok sebagai pasangan Gubernur dan Wagub DKI memang terasa lain dibanding jika misalnya yang terpilih adalah Foke, atau Faisal Basri, atau Hidayat Nur Wahid atau Alex Noerdin.

Perjuangan Jokowi-Ahok patut dicatat dan sangat menarik, tetapi yang lebih menarik lagi adalah pelajaran berharga dari pemilukada DKI Jakarta 2012.

Pemilukada DKI telah mempertontonkan betapa multi dimensinya masyarakat ibukota Jakarta. Masyarakat yang modern dan ultra modern berbancuh jadi satu dengan masyarakat tradisional yang datang mengadu peruntungan di Jakarta. Sebagian masyarakat, sangat paham kaidah-kaidah demokrasi dan siap mental menghadapinya. Kelompok ini adalah orang-orang yang berpendidikan tinggi, usahawan, dan kalangan menengah ke atas. Sebagian lainnya masyarakat yang sebenarnya belum siap berdemokrasi, kelompok ini adalah golongan ekonomi lemah dan dengan tingkat pendidikan rendah, mereka tidak mengharamkan politik uang, dan tidak tabu mengemas isu SARA untuk kepentingan sesaat.

Dalam potret demikian, maka dinamika politik megapolitan Jakarta adakalanya terlihat sangat kampungan dan jadul di tengah belantara gedung-gedung pencakar langit di Jalan MH Thamrin, Jl Sudirman, Gatot Subroto, Rasuna Said dan seterusnya. Betapa tidak, bila isu yang dikemas adalah isu-isu yang sebenarnya sudah lama hanyut. Bahkan di banyak daerah yang jauh dari kemegahan Jakarta, politik dengan kemasan SARA sudah tidak lagi mendapat tempat. Satu dua ada juga politisi yang mencoba-coba memainkan isu kesukuan dan agama, tetapi hasilnya tidak signifikan.

Kemasan-kemasan politik tim sukses yang jadul itulah yang membuat sementara pengamat menyebut pada awalnya, pemilukada DKI Jakarta 2012 tak bermutu. Tetapi itu tidak bertahan lama. Pada titik kulminasi pemilukada DKI, semua memperlihatkan kedewasaan berdemokrasi. Kubu Jokowi dan kubu Foke memperlihatkan kedewasaan berpolitik. Kredit bagus patut diberikan kepada Foke yang menerima kekalahan dengan berlapang dada. Foke telah mempertontonkan sikap negarawan. Ada saat berkompetisi, ada saat mengakhiri kompetisi. Justru hal seperti ini jarang terlihat di daerah-daerah ketika hampir semua pemilukada berakhir dengan putusan Mahkamah Konstitusi untuk mengakhiri sengketa.

Sentuhan terakhir Foke sebelum pelantikan Jokowi dengan membawa Jokowi berkeliling kantor Gubernur DKI dan memberikan laluan kepada Jokowi dalam suatu rapat staf, menunjukkan kelas kepemimpinan Foke yang sesungguhnya, ketika dia mampu menundukkan egonya, sesuatu yang sulit dilakukan.

Foke dan Jokowi telah berhasil mengembalikan wajah politik ibukota Jakarta menjadi wajah yang bermarwah, yang boleh disebut sebagai barometer pemilukada di seluruh tanah air. Syabas Jokowi-Ahok, syabas Foke.

kolom - Harian Vokal 16 Oktober 2012
Tulisan ini sudah di baca 1342 kali
sejak tanggal 16-10-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat