drh. Chaidir, MM | Panggung Ronggeng | POLITIKUS jelas bukan ronggeng. Habitat kedua makhluk ini beda, kendati berasal dari planet yang sama. Ronggeng adalah penari perempuan dalam tradisi kesenian rakyat sebagai penghibur. Ronggeng biasanya manggung pada malam hari di kampung-kampung nelayan, di pelabuhan, atau di pinggir-pinggir kota.
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Panggung Ronggeng

Oleh : drh.chaidir, MM

POLITIKUS jelas bukan ronggeng. Habitat kedua makhluk ini beda, kendati berasal dari planet yang sama. Ronggeng adalah penari perempuan dalam tradisi kesenian rakyat sebagai penghibur. Ronggeng biasanya manggung pada malam hari di kampung-kampung nelayan, di pelabuhan, atau di pinggir-pinggir kota. Ronggeng sering berinteraksi dengan penonton pria untuk berjogetria bersama. Modalnya, wajah menarik, tubuh sintal, bedak dan gincu tebal, minyak wangi, dan sedikit genit.

Politikus? Politikus biasanya berada di gedung-gedung parlemen, gedung-gedung pemerintah, gedung-gedung perusahaan yang lapang dan megah, atau di kafe-kafe dan lobi hotel berbintang lima. Mereka parlente, susah dibedakan dengan selebritis, karena memang banyak selebritis yang beralih profesi dari dunia entertainment menjadi politikus. Kalau ditanya kenapa? Karena dunia entertainment melulu menjual jasa hiburan, seperti bintang dan sinden Opera Van Java itu, sedangkan politikus akrab dengan dunia kekuasaan yang menawarkan sejuta sihir dan pesona. Sesungguhnya tidak hanya karena banyak artis menjadi politikus. Politikus itu sendiri juga sering muncul di layar televisi, dalam berbagai perdebatan yang dibesar-besarkan dan berakting layaknya seorang bintang film.

Kesamaannya ronggeng dan pilitikus, malam bisa jadi siang, siang jadi malam. Dan kesamaan yang paling penting, keduanya tak bisa dipisahkan dari panggung. Tak ada ronggeng atau politikus tanpa panggung. Kalau ronggeng kehilangan panggung, artinya dia sudah tidak menarik lagi, dia harus menepi tersingkir secara alamiah, atau memilih jalan hidup lain, membina sebuah keluarga. Biasanya ronggeng akan menerima dengan lapang dada, itulah kehidupan, ada saat datang dan berkibar, ada saat pergi.

Ceritanya lain dengan politisi. Politisi yang kehilangan panggung, biasanya adalah politisi yang dikalahkan melalui sebuah konkurensi. Mereka marah seperti cacing kepanasan, atau resah gelisah seperti kera kena belacan. Atau akan mengalami post power syndrome. Umumnya hanya politisi di Negara maju yang secara sportif menerima kekalahan, sebab kekalahan diartikan, pemilih tidak menyukai program yang ditawarkan. Sedangkan di negeri kita dan di negeri-negeri dunia ketiga pada umumnya, kekalahan dihubungkan dengan dendam kesumat, harga diri, marwah keluarga, bahkan kehormatan suku atau agama. Pihak yang kalah selalu berargumentasi, mereka menerima kekalahan apabila lawan tidak curang, tapi karena lawan curang maka kekalahan tak bisa diterima. Masalahnya, pemenang dan pecundang acapkali menggunakan jurus-jurus yang hampir sama, hanya dibedakan sehelai selaput tipis.

Panggung politik yang abstrak dan panggung ronggeng yang nyata, keduanya transaksional. Panggung ronggeng murah meriah, hanya sebatas saweran yang diselipkan di dada atau di kain pinggang. Panggung politik sangat mahal. Tapi keduanya diperebutkan. Maka artinya, politikus itu ronggeng. Alamaaak...

kolom - Riau Pos 15 Oktober 2012
Tulisan ini sudah di baca 999 kali
sejak tanggal 15-10-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat