drh. Chaidir, MM | Novel Baswedan | NAMA Novel Baswedan tidak dikenal sebelumnya. Paling hanya di lingkungan terbatas. Tapi dalam pekan ini nama itu melejit menjadi buah bibir. Sekarang Novel Baswedan tak lagi bermakna hanya sebuah nama yang menjadi milik Kombespol Novel Baswedan. Nama itu menjadi multi makna. Sebut saja Novel Basweda
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Novel Baswedan

Oleh : drh.chaidir, MM

NAMA Novel Baswedan tidak dikenal sebelumnya. Paling hanya di lingkungan terbatas. Tapi dalam pekan ini nama itu melejit menjadi buah bibir. Sekarang Novel Baswedan tak lagi bermakna hanya sebuah nama yang menjadi milik Kombespol Novel Baswedan. Nama itu menjadi multi makna. Sebut saja Novel Baswedan, pasti langsung terbayang aneka macam, ya KPK, ya POLRI, ya Irjen Djoko Susilo, bahkan ya Presiden SBY. Melintas batas sedikit lagi, Novel Baswedan akan simbol sebuah perlawanan.

Kenapa Presiden SBY terbawa rendong? Karena Presiden SBY dituduh berdiam diri dan membiarkan polemik yang terjadi antara Kepolisian RI dengan Komisi Pemberantasan Korupsi. Padahal tuduhan itu tidak benar. Menurut Menseskab Sudi Silalahi, SBY sejak awal mengikuti ketegangan antara dua lembaga penegak hukum tersebut. Sudi agaknya benar. Mustahil Presiden SBY tak baca berita, apalagi berita itu bendang ke langit. Bukankah menjadi lucu dan sangat reaktif bila belum-belum Presiden sudah memberikan komentar? Presiden SBY pasti dikritik habis-habisan bila buru-buru memberikan komentar. Presiden pasti dianggap intervensi karena ada kepentingan, ini, itu, dan sebagainya. Presiden SBY tentulah harus mendengar masukan dari berbagai sumber. Apalagi Negara kita adalah Negara hukum. Semua ada aturan mainnya. Bila ada dua lembaga Negara yang bersengketa kewenangan misalnya, ada Mahkamah Konstitusi yang akan mengadili.

Nama Novel Baswedan dengan demikian bisa juga dipakai sebagai instrumen dalam pembunuhan karakter Presiden SBY. Kasus pemeriksaan dugaan korupsi Irjen DS bergeser di coup de tat oleh pemberitaan Novel Baswedan yang dikait-kaitkan dengan pemberitaan kenapa Presiden SBY tidak segera turun tangan.

Nama Novel Baswedan menghadirkan banyak "medan pertempuran" sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Dan "medan pertempuran" itu semuanya menarik dan seksi untuk disaksikan dan diberitakan. Pemimpin KPK misalnya, menduga tuduhan terhadap Novel sebagai bentuk kriminalisasi terhadap penyidiknya. Sebab, Novel adalah penyidik berbagai kasus besar korupsi, seperti kasus korupsi simulator kemudi. Kasus ini bisa ditarik ke upaya pelemahan KPK melalui adanya upaya DPR mengubah UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK, yang menyebabkan DPR "terkotak-kotak" antara malu tapi mau. Dan sudah pasti menyentuh perkara yang sensitive, adanya friksi POLRI dan KPK.

Nama Novel Baswedan bisa menjadi ajang "adu-domba" antara kelompok-kelompok yang pro pemberantasan korupsi dengan kelompok-kelompok yang sedikit banyak telah terkontaminasi oleh praktik-praktik korupsi. Nama Novel Baswedan akan menjadi gerbang untuk perdebatan saling menelanjangi dan paling disukai oleh kelompok-kelompok yang suka menangguk di air keruh.

"Apalah arti sebuah nama," tulis pujangga William Shakespiere. Apapun maknanya, Novel Baswedan akan dicatat oleh sejarah pergerakan pemberantasan korupsi di negeri ini, apakah akan memainkan peran sebagai whistleblower alias peniup peluit, sebagai kambing hitam, ataukah sebagai pecundang.

kolom - Harian Vokal 9 Oktober 2012
Tulisan ini sudah di baca 1773 kali
sejak tanggal 09-10-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat