drh. Chaidir, MM | Ladang Pembantaian | MUNGKIN tidak banyak yang tahu tentang desa Choeung Ek. Wajar, karena desa ini tidak terletak di pedalaman Papua, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Utara, pedalaman Banten, atau di sekitar kampung suku Tionghoa di Bagansiapi-api. Choeung Ek adalah sebuah desa di Kamboja, kira-kira 15 km dari kota Phno
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Ladang Pembantaian

Oleh : drh.chaidir, MM

MUNGKIN tidak banyak yang tahu tentang desa Choeung Ek. Wajar, karena desa ini tidak terletak di pedalaman Papua, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Utara, pedalaman Banten, atau di sekitar kampung suku Tionghoa di Bagansiapi-api. Choeung Ek adalah sebuah desa di Kamboja, kira-kira 15 km dari kota Phnom Penh. Desa ini terkenal sebagai ladang pembantaian ketika rezim Khmer Merah berkuasa di Kamboja dalam rentang waktu 1975-1979.

Di desa itu kini berdiri sebuah museum yang sangat terkenal sebagai monumen ladang pembantaian. Seorang journalist bangsa Kamboja bernama Dith Pran, yang berhasil lolos dari cengkraman maut Khmer Merah menyebut desa Choeung Ek sebagai "killing fields" atau ladang pembantaian. Kisah Dith Pran ini bahkan pernah difilmkan pada 1984 dengan judul The Killing Fields.

Di desa Choeung Ek puluhan ribu korban terkubur dalam lusinan kuburan massal, ada yang sudah digali dan kerangkanya serta pakaian-pakaian yang masih utuh disimpan di museum, ada yang masih belum digali. Kuburan massal tidak hanya di desa Choeung Ek, di desa-desa lain pun banyak. Sebuah analisis yang dilakukan oleh DC-Cam Mapping Program bekerjasama dengan Yale University Amerika Serikat, sebagaimana dirilis Wikipedia, seluruhnya ada sekitar 20.000 kuburan massal dengan jumlah korban diperkirakan tidak kurang dari 1.386.734 orang. Korban itu adalah akibat kekejaman rezim Khmer Merah. Total jumlah korban akibat kekejaman, penyakit dan kelaparan mencapai angka 2,5 juta orang dari sekitar 8 juta penduduk.

Rezim Khmer Merah di bawah Pol Pot ketika itu membunuh siapa saja yang dicurigai mempunyai koneksi dengan pemerintah lama atau pihak asing, apalagi kalangan professional dan kalangan intelektual. Semua mereka sikat, orang-orang dewasa laki-laki dan perempuan bahkan termasuk anak-anak. Sisa-sisa kekejaman itu ada di Choeung Ek Memorial.

Ladang pembantaian seperti di Choeung Ek disebut sebagai bentuk genosida, pemusnahan terhadap sebuah bangsa secara fisik. Tragedi kemanusiaan itu harus menjadi iktibar bagi bangsa kita. Tragedi itu sangat ekstrim dan rasa-rasanya tak akan pernah terjadi lagi di belahan mana pun. Namun, tanda-tanda aneh yang ditunjukkan oleh masyarakat kita akhir-akhir ini, merisaukan. Pembantaian dilakukan dalam bentuk lain. Pembantaian uang rakyat terjadi dimana-mana, yang langsung atau tidak menyebabkan kemiskinan (dan kematian rakyat pelan-pelan). Ikhtiar pemberantasannya selalu berhadapan dengan berbagai macam rintangan, saling sikut menyikut dan intai mengintai. Perkelahian antar kampung masih eksplosif. Tawuran antar gank anak-anak sekolah belum habis. Hanya akibat masalah sepele antar kampung saling bakar dan antar gank anak sekolah saling bacok membacok. Di sudut lain, ada gank preman, gank motor, gank judi, gank proyek, dan berbagai macam gank yang sering makan korban.

Negeri kita bukan Choeung Ek. Tapi negeri ini tidak hanya menjadi kuburan akibat kematian sia-sia itu, negeri ini juga menjadi kuburan massal bagi pembantaian dalam bentuk lain: pembunuhan karakter dan akal budi. Pembunuhan karakter pemimpin, karakter ilmuwan, karakter budayawan, karakter ulama, dan juga karakter lembaga, menjadi tontonan setiap hari. Miris.

kolom - Riau Pos 8 Oktober 2012
Tulisan ini sudah di baca 1409 kali
sejak tanggal 08-10-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat