drh. Chaidir, MM | Lupakan PON | TIDAK Ada kenduri yang tak selesai. PON Riau 2012 telah berakhir dengan segala gegap gempitanya. Ada kritik dan puja-puji itu manusiawi. Semua orang yang bisa baca media dan dengar berita, pasti mafhum PON tersebut sarat dengan dinamika, ada kebanggaan, ada kekaguman, ada juga kekecewaan bahkan air
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Lupakan PON

Oleh : drh.chaidir, MM

TIDAK Ada kenduri yang tak selesai. PON Riau 2012 telah berakhir dengan segala gegap gempitanya. Ada kritik dan puja-puji itu manusiawi. Semua orang yang bisa baca media dan dengar berita, pasti mafhum PON tersebut sarat dengan dinamika, ada kebanggaan, ada kekaguman, ada juga kekecewaan bahkan air mata. Ada martil yang berbunyi setelah rumah selesai dibangun, itu lazim. Ada jurus silat yang teringat setelah perkelahian selesai, itu lumrah.

PON bukan sebuah peperangan yang meninggalkan batu nisan, janda, anak yatim, kaki palsu dan juga kemiskinan. Jelas bukan mengerikan seperti itu. Tapi PON sekurang-kurangnya telah menyedot demikian besar anggaran, dan menyita tenaga, waktu dan pikiran. Masyarakat yang berdiri di luar arena saja, ikut tersengal-sengal melihat beban berat di pundak para pengelola, kalau boleh sepekan tidak tujuh hari, rasanya kita ingin mengajukan addendum sebagai tanda prihatin. Banyak kegiatan yang merupakan bagian dari program pembangunan di daerah harus mengalah demi suksesnya agenda PON.

Semua dituntut untuk selesai tepat pada waktunya. Penyelesaian arena super prioritas, tapi prasarana jalan menuju arena tersebut juga super prioritas. Untunglah dengan segala keterbatasan (terutama waktu), semua arena pertandingan bisa dipergunakan. Pada kenyataannya semua cabor dapat menyelesaikan pertandingan, dan semua medali sudah terbagi habis. Yang belum tuntas, sebagaimana kita saksikan adalah ruas Pekanbaru-Dumai. Tidak untuk PON pun ruas ini harus segera diselesaikan, karena merupakan urat nadi perekonomian Riau. Jalan TOL Pekanbaru-Dumai yang digadang-gadang dan dinanti-nanti bakal mampu mendorong Riau melakukan lompatan besar dalam bidang ekonomi, agaknya harus kembali mendapat perhatian sungguh-sungguh oleh seluruh stakeholder.

Posisi terakhir rencana Jalan TOL Pekanbaru-Dumai ini, sebagaimana disampaikan oleh Ass II Stda Prov Riau Emirzal Pakis kepada pers beberapa waktu lalu, proyek ini merupakan program Kementerian PU yang tentunya dari segi pendanaannya juga berasal dari pemerintah pusat. Panitia Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) dari Kementerian PU dinilai belum bekerja optimal. Konsep yang telah disusun oleh Pemprov Riau bersama kabupaten/kota sering berubah. Kondisi ini menyebabkan proses ganti rugi sebagai kegiatan awal masih belum berjalan hingga pertengahan tahun 2012. Entahlah, entah buaya entah katak entah iya entah tidak. Sebab rencana Jalan TOL Pekanbaru-Dumai ini sudah dimulai sejak Gubernur Saleh Djasit (1998-2003), kemudian dilanjutkan dua periode Gubernur Rusli Zainal (2003-2008; 2008-2013). Gubernur RZ bahkan beberapa kali menyampaikan ekspos gambar perspektif perencanaan Jalan TOL rtersebut bahkan lengkap dengan gambar perspektif tiga dimensi perencanaan jembatan Dumai-Melaka. Gambar-gambar itu sangat memukau.

Tapi sejak seluruh jajaran birokrasi jungkir balik mempersiapkan "podium" PON Riau 2012, rencana Jalan TOL nyaris tak terdengar, bahkan juga Program Strategis K2i Gubernur RZ yang disampaikan dalam kampanye pemilihan Gubernur 2008 (yang dimenangkannya) tak lagi mendapatkan porsi anggaran selayaknya sebagai sebuah program pokok.

Untunglah PON Riau 2012 sudah berakhir. Lupakan. Sejenak kita kembali fokus ke permasalahan dasar yang harus kita pandang dengan segenap jiwa. Mercusuar itu perlu, tapi nelayan-nelayan kita tak memerlukan banyak mercusuar karena mereka bisa membaca karang di bawah laut di tengah malam yang kelam berbekal bintang-bintang di langit.

kolom - Harian Vokal 25 September 2012
Tulisan ini sudah di baca 1008 kali
sejak tanggal 25-09-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat