drh. Chaidir, MM | Tujuh Lautan Terbakar Api | TUJUH lautan terbakar api, tak ada kaitannya sama sekali dengan bencana asap yang sekarang kita hadapi. Itu hanya sebuah peribahasa, lengkapnya berbunyi
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Tujuh Lautan Terbakar Api

Oleh : drh.chaidir, MM

TUJUH lautan terbakar api, tak ada kaitannya sama sekali dengan bencana asap yang sekarang kita hadapi. Itu hanya sebuah peribahasa, lengkapnya berbunyi "Tujuh lautan terbakar api, sampan Melayu berlayar jua". Maksudnya, lebih kurang seperti ungkapan Hang Tuah yang terkenal itu. "Tuah sakti hamba negeri, esa hilang dua terbilang, patah tumbuh hilang berganti, tak Melayu hilang di bumi."

Peribahasa itu mengandung makna kebulatan tekad. Semangat yang tinggi, pantang menyerah, tak kira apa pun aral melintang. Terbujur lalu terlintang patah. Analoginya di tanah Jawa kira-kira berbunyi, "rawe rawe rantas malang malang putung". Kalau peribahasa itu diberi konotasi positif, tentulah semangat yang membara itu menjadi modal perjuangan yang luar biasa. Tak peduli berapa ribu pedang terhunus mengepung, lebih baik berputih tulang daripada berputih mata. Sebetulnya peribahasa di atas mengandung substansi optimisme yang luar biasa.

Di hari jadi yang ke-52 negeri Riau, tak dosa kalau kita melakukan kontemplasi. Ini momentum yang tepat. Kenduri ya kenduri tapi introspeksi ojo lali. Wajar kalau ada evaluasi, apa yang sudah atau belum kita buat untuk negeri. Kalau sudah, seberapa besar manfaatnya. Kalau belum, apa kendalanya.

Ungkapan evaluatif saya simak dari pidato Ketua DPRD Riau, HM Johar Firdaus, dan Gubernur Riau HM Rusli Zainal, dalam Rapat Paripurna Istimewa bersempena Hari Jadi Riau di Gedung Lancang Kuning DPRD Riau, 9 Agustus 2009, kemaren pagi. Banyak yang sudah kita lakukan, namun masih lebih banyak lagi yang belum kita lakukan. Kita masih dihadapkan pada lautan permasalahan. Wajar, manusiawi, tak arogan. Sebab percuma memang mengedepankan hanya success story, bila publik melihat banyak pekerjaan rumah yang belum tuntas. Pada titik yang sama itulah kita mulai melangkah ke depan, yang sudah baik kita bikin lebih baik, yang belum dikerjakan kita kerjakan sepanjang itu untuk kepentingan sesuatu yang lebih baik bagi negeri.

Dalam sepuluh tahun terakhir memang belum pernah bencana asap menjadi kado Hari Jadi Riau. Rapat Paripurna Istimewa DPRD tak pernah diselimuti asap. Masalah pemadaman listrik juga belum pernah menghantui acara penting tersebut. Unjuk rasa mahasiswa yang menjadi ritual Hari Jadi Riau biasanya tak jauh dari refleksi terhadap masalah korupsi. Kali ini beda. Aneh, tak ada unjuk rasa mahasiswa. Apatis?

Pertanyaan renungan kita, tidakkah masalah bencana asap ini dan juga masalah pemadaman listrik adalah gunung es dari permasalahan yang lebih besar? Sesuai perilakunya, gunung es yang menenggelamkan kapal megah Titanic itu, hanya muncul ke permukaan laut kira-kira seperenam bagian, sisanya berada di bawah permukaan laut. Gelap tak kelihatan dan berbahaya. Tapi apa akar masalahnya?

Ungkapan pakar managemen dunia, Peter Drucker, memang merisaukan. "There is no under developed country, there is under managed country". Tidak ada negeri yang tertinggal, yang ada adalah negeri yang salah urus. Masya Allah. Tolonglah Tuan Drucker, jangan main-main. Postulat itu tak nyaman. Kami butuh solusi, bukan provokasi. Mungkin itu berlebihan. Di sini kami meyakini, apa yang dimiliki sekarang mungkin bukan yang terbaik, tetapi memiliki banyak kebaikan. Mungkin Tuan Drucker belum pernah dengar tekingnya orang Riau, keras batu lebih keras lagi hati. Dirgahayu Riau!!

kolom - Riau Pos 10 Agustus 2009
Tulisan ini sudah di baca 1364 kali
sejak tanggal 10-08-2009

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat