drh. Chaidir, MM | Citius Altius Fortius | SEMUA atlit sejati di planit bumi ini pasti akrab dengan motto
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Citius Altius Fortius

Oleh : drh.chaidir, MM

SEMUA atlit sejati di planit bumi ini pasti akrab dengan motto "Citius Altius Fortius." Tiga kata-kata Latin itu adalah motto olimpiade, bermakna "Lebih Cepat, Lebih Tinggi Lebih Kuat." Tuan Pierre de Coubertin, pendiri Komite Olimpiade Internasional yang dijuluki Bapak Olimpiade Modern adalah tokoh yang mempopulerkan motto tersebut.

Dalam skala nasional, padanan olimpiade adalah Pekan Olah Nasional (PON). Sama seperti Olimpiade, PON adalah kompetisi olah raga multi cabang (multi events). Atlit yang bertanding di arena Olimpiade dan PON adalah atlit-atlit terbaik yang umumnya juara pada babak kualifikasi, atau sekurang-kurangnya lolos kualifikasi. Tidak semua atlit boleh bertanding dalam Olimpiade atau PON. Oleh karena itu bila atlit ingin menaiki podium terhormat untuk menerima kalungan medali emas, perak atau perunggu, mereka harus mampu menunjukkan prestasi lebih cepat, lebih tinggi dan lebih kuat dari dari atlit lainnya.

Tetapi prestasi itu harus diraih dalam semangat persaudaraan (friendship), persatuan (unity) dan adil serta jujur (fair). Dalam semangat Olimpiade ini, medali penting, tetapi itu bukan segalanya. Berjuang dengan penuh semangat sekuat tenaga dengan tetap menjunjung tinggi sportivitas jauh lebih terhormat. Atlit sejati tetap menjaga keterhormatan dalam pertandingan dengan memberikan teladan, saling menghormati serta menjunjung tinggi etika sopan santun.

Oleh karena itulah, ketika pemain bulutangkis Indonesia dan Korea Selatan memainkan "bulutangkis gajah" dalam Olimpiade London 2012 awal Agustus lalu, ketika atlit bulutangkis kedua Negara yang bertanding seolah-olah enggan untuk menang, mereka mendapatkan sangsi keras langsung didiskualifikasi, walaupun itu dilakukan dalam konteks strategi. Komite disiplin Olimpiade tak mau tahu dengan alasan strategi mengalah untuk menang. Mereka menganggap, itu bukan strategi tapi kelicikan. Taktik mengalah seperti itu, dianggap telah mencederai semangat Olimpiade. Dan itu sebuah kesalahan berat. Kita kemudian membaca di media massa, bahkan bukan hanya pemain bulutangkis tersebut yang terkena sangsi, cabang olahraga bulutangkis pun terancam dicoret dari cabang olehraga yang dipertandingkan dalam Olimpiade Brazil 2016 yang akan datang.

Oleh karena itulah motto "Citius Altius Fortius" sesungguhnya mengandung filosofi yang amat dalam. Prestasi tertinggi itu puncak dari sebuah upaya jangka panjang bagaimana mempersiapkan atlit yang memiliki talenta terbaik yang tersaring dari sekian atlit yang memiliki talenta. Mereka ini digodok melalui kawah candradimuka di masing-masing Negara atau di masing-masing provinsi. Mereka yang melakukannya dengan baik akan menghasilkan atlit terbaik. Jadi, atlit yang mampu memenuhi motto tersebut merupakan puncak keberhasilan dari sebuah upaya yang sistematis, bukan atlit instan yang ditransfer. Dalam batas-batas tertentu, mutasi atlit dalam dunia olah raga amatir seperti Olimpiade dan PON tidak dilarang asal memenuhi ketentuan. Tetapi hal tersebut tentu mengurangi makna sebuah kemangan. Menghalalkan segala cara untuk menang dengan kecurangan walaupun itu tersembunyi, hanya akan mendapatkan kemenangan jangka pendek, kita akan gagal meraih kejayaan dalam jangka panjang. Bahkan bukan tidak mungkin kita akan memperoleh karma.

PON sama seperti penyelenggaraan Olimpiade. Penyelenggaraan Olimpiade merupakan puncak keberhasilan pembangunan secara umum yang dilakukan oleh sebuah Negara. Olimpiade Beijing, China pada 2008 adalah puncak keberhasilan China dalam pembangunan ekonominya. Dari sebuah negeri dengan penduduk terbesar di dunia dan ekonomi morat-marit pasca revolusi kebudayaan. Mereka berhasil tumbuh pesat di segala bidang. Penduduk yang besar bukan menjadi hambatan bagi mereka. Keberhasilan itu ingin mereka pertontonkan kepada dunia. Olimpiade London 2012 juga idem. Inggeris ingin mempertontonkan betapa modernnya negeri mereka. Bagaimana dengan Afrika Selatan yang menyelenggarakan Piala Dunia Sepakbola 2010 lalu? Afsel bukan negeri sedang berkembang apalagi negeri tertinggal. Afsel sudah menjadi Negara industri terkemuka di Afrika.

Jadi kalau kita sedikit agak keteteran dalam penyelenggaraan PON 2012 sebagaimana ramai diberitakan di berbagai media. Itu wajar. Namun kita mengharapkan PB PON mampu sekuat tenaga untuk tetap berikhtiar dengan cara-cara yang baik, elegan dan berintegritas. Kita ingin dicatat sejarah sebagai daerah yang lebih cepat, lebih tinggi dan lebih kuat. Semoga.

kolom - Harian Vokal 11 September 2012
Tulisan ini sudah di baca 3454 kali
sejak tanggal 11-09-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat