drh. Chaidir, MM | Bola Bercabang Dua | SEPAKBOLA kita bercabang dua alias berkepala dua. Dua induk, dua liga, dua tim nasional, dua tim PON. Bossnya juga ada dua, ada Djohar Arifin ada La Nyala. Lantas bagaimana? Tanya Opera Van Java saja:
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Bola Bercabang Dua

Oleh : drh.chaidir, MM

SEPAKBOLA kita bercabang dua alias berkepala dua. Dua induk, dua liga, dua tim nasional, dua tim PON. Bossnya juga ada dua, ada Djohar Arifin ada La Nyala. Lantas bagaimana? Tanya Opera Van Java saja: "Di sini gunung di sana gunung, di tengah-tengah pulau Jawa, pemain bingung wasit bingung, yang penting bisa ketawa." Barangkali itu lebih baik daripada manyun berbulan-bulan, hadapi saja dengan ketawa, habis perkara. Gitu aja koq repot (maaf Kiyai, pinjam frasanya).

Inilah Indonesia. Yang penting tampil beda. Kita tidak boleh meniru. Kita tidak sama dengan barat, tidak pula sama dengan timur. Mahzab bola kita bukan tiki-taka, bukan pula tarian samba. Ketika barat menggunakan gurita, musang dan gajah sebagai dukun peramal hasil pertandingan sepakbola, kita menggunakan dukun sungguhan, manusia. Berarti sumberdaya manusia kita lebih handal. FIFA harusnya memahami keunikan Indonesia, bila perlu, syahwat tampil beda itu diperkuat dengan perubahan statuta sepakbola khusus untuk Indonesia, pertindangan harus menggunakan tiga bola dan tiga gawang sekaligus. Barangkali ini akan lebih heboh dan menarik, pasti akan lebih banyak gol tercipta. Tak boleh ikut kejuaraan dunia tak masalah, kita bisa bikin piala sendiri yang jauh lebih bagus dan unik, piala bola bercabang dua..ha ha ha...pokoknya beda.

Sebenarnya masyarakat sudah bosan dengan kisruh di tubuh PSSI. Satu saja yang membuat galau dengan kekisruhan yang seakan tak ada habis-habisnya itu, dualisme itu tak hanya sekadar perseteruan dua kubu. Lebih dalam dari itu sebenarnya, kalau kita sedikit memiliki keinsyafan sebagai makhluk pemikir, makhluk yang memiliki akal budi, dualisme sepakbola kita yang berlarut-larut itu merupakan gambaran dari sebuah masyarakat yang aneh (the odd society). Kekisruhan itu telah menampakkan belang kita sebagai sebuah komunitas dengan tingkat kepercayaan social yang rendah. Agaknya tidak berlebihan, masyarakat seperti inilah yang digolongkan oleh Francis Fukuyama sebagai low trust society.

Masyarakat aneh dengan tingkat kepercayaan yang rendah tidak layak diajak berunding. Masyarakat seperti ini komitmennya lemah, mudah saja untuk mengabaikan kesepakatan yang telah dibuat. Ucapannya tak bisa dipegang. Oleh karena itulah Fukuyama menyebut, dalam era globalisasi, modal yang paling penting adalah kepercayaan (trust). Modal capital dan teknologi penting, tetapi modal kepercayaan jauh lebih penting.

Masyarakat kita hidup dalam pergaulan internasional dimana berlaku kaidah-kaidah, bahwa tak ada konflik yang tak bisa didialogkan. Bukankah aneh, di tengah komunikasi yang demikian canggih, kita justru dihadapkan pada kemiskinan komunikasi? Kisruh persepakbolaan tidak hanya urusan sepakbola ansich, tetapi melebar meruntuhkan sebuah keterhormatan, hanya karena sebuah ego. Alay banget...

kolom - Riau Pos 10 Semptember 2012
Tulisan ini sudah di baca 981 kali
sejak tanggal 10-09-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat