drh. Chaidir, MM | PON Demam | KENDATI jam digital ukuran besar yang terletak di puncak Tugu Count Down di Pekanbaru sudah berhenti sejak lama, bukan berarti waktu juga berhenti dan diam tak bergerak. Waktu tak pernah sudi menunggu sedetik pun, siapapun. Siap atau tidak, tertelungkup atau tertelentang, PON ke-XVIII di Riau akan d
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

PON Demam

Oleh : drh.chaidir, MM

KENDATI jam digital ukuran besar yang terletak di puncak Tugu Count Down di Pekanbaru sudah berhenti sejak lama, bukan berarti waktu juga berhenti dan diam tak bergerak. Waktu tak pernah sudi menunggu sedetik pun, siapapun. Siap atau tidak, tertelungkup atau tertelentang, PON ke-XVIII di Riau akan dibuka resmi oleh Presiden SBY pada 11 September 2012 beberapa hari lagi. Beberapa nomor pertandingan bahkan sudah digelar mulai 6 September esok lusa.

Demam PON sebagaimana diharap Gubernur Riau sudah mulai terasa. Dimana-mana ada baliho PON yang bercampur baur dengan baliho sosialisasi bakal calon Gubernur Riau, umbul-umbul terlihat meriah, bendera-bendera PON berkibar dimana-mana. Namun tak bisa dipungkiri, PON ke XVIII Riau 2012 ini juga menimbulkan demam lain. Rela atau tidak, setiap orang yang merasa memiliki daerah ini, jiwa dan raganya akan terasa mendemam. Banyak pihak yang sangat khawatir, karena pada kenyataannya masih ada pembangunan arena pertandingan yang belum tuntas sebagaimana diharapkan. Di kedai-kedai kopi, kegembiraan bakal menyaksikan pertandingan-pertandingan hebat atlit nasional di Riau, diganggu oleh perasaan galau.

Kita yang tak terlibat langsung dalam PB PON sangat merasa khawatir, apatah lagi personil-personil yang diberi tugas dan tanggung jawab untuk menyukseskan PON. Pesta pembukaan PON tinggal beberapa hari lagi, sementara persiapan di lapangan masih belum selesai seratus persen. Siapapun yang peduli terhadap nama baik daerah pasti merasa demam memikirkannya. PON ke XVIII ini memang membuat banyak orang jatuh demam. Berita utama Harian KOMPAS (3/9) kemaren pagi dengan judul "Persiapan PON Tertatih," cukup memperjelas kegalauan masyarakat pencinta olah raga.

Kesiapan arena pertandingan adalah satu bagian. Masalah hukum yang menghantui program penyelenggaraan PON ke XVIII adalah masalah lain yang tak kalah memilukan dan memalukan. Beberapa kader anak daerah bertumbangan tersandung kasus dugaan korupsi dan harus berurusan dengan KPK. PON telah memangsa anak-anak negeri. Demikian banyak masalah, demikian banyak kasus. Kita salut melihat ketegaran dan sikap optimisme yang ditunjukkan oleh Gubernur RZ, kokoh seperti karang di tengah samudera, tak peduli hantaman ombak kiri-kanan.

PON XVIII Riau yang semula diharapkan menjadi ajang promosi daerah dengan menghadirkan mimpi-mimpi tentang kecemerlangan, tentang kegemilangan, keterbilangan, kemegahan, kegembiraan, harga diri, marwah, mengangkat batang terendam, tak sepenuhnya hadir. Kita memang memiliki beberapa bangunan fenomenal seperti Stadion Utama Riau, dan beberapa arena pertandingan lain, serta bangunan penunjang seperti jembatan Siak III dan dua buah jembatan fly over di Jalan Jenderal Sudirman. Tapi secara keseluruhan arena itu kita bayar dengan sangat mahal, tidak hanya dalam nilai rupiah, yang menyedot anggaran sangat besar sehingga harus mengetepikan program strategis pengentasan kemiskinan, pemberantasan kebodohan dan pembangunan infrastruktur (Program K2i). Termasuklah juga program yang terkena imbas seperti Program Usaha Ekonomi Desa Simpan Pinjam (UEDSP) dan Program Operasi Pangan Riau Makmur (OPRM). Yang lebih menyedihkan, kita juga membayarnya dengan harga diri dan runtuhnya sebuah kepercayaan.

Ke depan, PON sebaiknya diselenggarakan di Jakarta saja, sehingga daerah tidak harus menanggung beban yang tak perlu.

kolom - Harian Vokal 4 September 2012
Tulisan ini sudah di baca 960 kali
sejak tanggal 04-09-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat